Normantis Update

Cerpen Cak Nun: Anak Polah Bapak Kepradah, Bapak Polah Anak Kepradah

Karya: Emha Ainun Nadjib (Cak Nun)

       Anak sekarang sangat kaya akan gairah, tapi tak murni hawanya. Anak sekarang sangat kaya akan hasrat, tapi salah langit yang dipilihnya.
        Karena Bapak keliru memberi jurus dan ajian kepadanya.
        Kekuasaan yang digandunginya adalah kekuasaan yang semu. Kekayaan yang dipelototinya ialah kekayaan yang menipu. Kemerdekaan yang dicintainya ialah kemerdekaan yang membelenggu.
        Mereka menggembalakan nafsu keinginannya ke hutan-hutan yang sesat, penuh pohon-pohon penjerat. Mereka menyangka berkuasa ialah memagari hutan, menjadi kaya ialah merampas dan melahap segala isinya, merdeka ialah memiliki semuanya.
        Mereka tidak bisa melayang ringan di udara, menjadi satu dengannya. Menjadi angin yang tak berdinding, tak bisa ditikam, tak bisa dihantam. Mereka tidak berjalan ke dalam dirinya sendiri, di mana tersimpan kekuasaan, kekayaan dan kemerdekaan yang sejati.
        Mereka menumpahkan gairah dan tenaganya kepada dahaga lapar kebinatangan. Sedangkan hidangan telah direbut sebagiannya oleh masa silam. Oleh pewarisnya. Oleh Bapaknya, yang terlambat berpikir tentang kesejahteraan anak cucunya. ltulah sebabnya anak-anak muda menjadi cemas: pangkat tanpa teladan, makan kehabisan nasi.
        Demikianlah, makanan pokok bagi kehidupan manusia ternyata ialah nasi. Milik utama manusia ialah perut.

*

Mangertia, Nak
Sekti tanpa aji
Menang tanpa ngasorake
Mengertilah, Nak
Sakti tanpa aji-aji
Menang tanpa merendahkan
Inggih, Rama, kula mangerteni
Manak tanpa ari-ari
Nganggep liyan kaya wudele dhewe
Ya, Bapak, aku mengerti
Beranak tanpa ari-ari
Menganggap yang lain seperti pusar sendiri

       Tatkala orang penuh gerak dalam diam, merdeka tanpa bersimaharajalela, menjadi kaya tanpa menguasai, memukul tanpa menggunakan gerak, ia pun sakti tanpa aji, ia pun menang tanpa merendahkan. Sebab orang menjadi sakti setelah meletakkan senjata, orang menjadi kaya sesudah mengalahkan harta benda, orang menjadi merdeka sesudah mengempaskan nafsunya. Ia sampai kepada yang inti. Ia menggapai yang sejati. Yang sejati itu tak terlihat. Yang kelihatan itu tidak kelihatan, ketika nanti berakhir kesementaraan.

       Itulah agama ari-ari.
        Dan anak-anak itu lahir tanpa ari-ari.

       Sukma ari-ari mewujud hanya dengan perilaku. Kata-kata di mulut Bapaknya yang mengucapkan, hanyalah kenangan, hanyalah semu bayangan. Karena perbuatan hidupnya bertentangan, maka ari-ari hanyalah igauan.
         Anak-anak menolak, karena mereka bukanlah pusar Bapaknya yang ia sendiri tak pernah memperhatikan. Anak-anak adalah pusar tersendiri, yang dikotori debu oleh Bapaknya.

*

O, batinmu kotor, Nak
Kami hanya pintar menggerundal
Nafsu besar tenaga gampang letih
Tak paham sepi ing pamrih rame ing gawe
Jika buah berwarna keruh, Bapak
Siapakah yang melahirkan kalau bukan sang pohonnya
Jika anjing menggonggong di kamar, Bapak
Kepada siapakah jika tidak Tuannya
Nafsu besar karena api menjilatnya
Tenaga letih karena nikmat memanjakannya
Dosa bagi Bapakyang menanamkan benih
Rame ing pamrih sepi ing gawe
Nyuwun sewu, Bapak, kami ini perut lapar
Tapi rajin kerja alangkah sukar.

       Raga hidup ialah kerja, jiwa adalah semangatnya. Kerja menyatakan adanya atau tiadanya, hasil digenggam oleh Yang Maha. Tumpahkan hidup kepada semangat kerja, hasil hanya anugerah-Nya. Karena itu sepi ing pamrih, tapi rame ing gawe. Pamrih itu kotoran, karena sebelum dianugerahkan, ia bukan hak manusia. Pamrih itu bumerang, karena merindukannya tanpa merindukan kerja, niat mencuri namanya.
        Kerjalah napas hidup. Napas berada dalam ruang, berjalan dalam waktu. Kerja berada dalam ruang, bergerak dalam waktu. Sedang inti dari pamrih, berada di luar ruang maupun waktu.
        Tetapi, anak-anak mulai dilahirkan oleh dan dengan sesuatu yang lain. Bagai belanga bermulut tak terhingga, dimasuki air yang bukan hasil kerjanya. Air begitu nyaman dan segar, menjadi satu-satunya jawaban bagi dahaganya. Air dan makananlah yang mengenyangkan, dan kerja hanya keletihan. Padahal kerjalah yang menuntun ke rasa kenyang.

       Baiklah Bapak, Aku bersedia letih.
        Asal pasti makanan bisa kuraih!

BERANI NONTON VIDEO NORMANTIS? KLIK AJA!

KARYA TERBARU

Masukkan alamat Emailmu.

Bergabunglah dengan 1.693 pengikut lainnya

Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: