Normantis Update

Cerpen Cak Nun: Anak Polah Bapak Kepradah, Bapak Polah Anak Kepradah

Karya: Emha Ainun Nadjib (Cak Nun)

       Sang Bapak mengisap rokok kretek. Menghirup kopi tubruk. Mengisap pentil susu bumi. Mengirup samudra. Glegeken ludahnya Gusti Allah.
       Yang diisap pentil susu bumi, karena langit dianggap tak punya lagi pentil. Harapan tak ditunggu dari langit, bahkan kemungkinan besar memang tak ada langit. Samudra dihirup, karena tak cukup hanya air segelas yang diteguk. Glegekan ludahnya Gusti Allah, karena Gusti Allah kemarin berbeda dengan yang dimiliki hari ini.

Sang Bapak berkata:
Hiduplah seperti gamelan yang gandem
Nguntal telor setengah matang, nguntal cindil
Menggenggam jagad, di-leg dadi sakrikil
Gung Iewang lewung ngudang perkutut manggung
Nyunggek mbulan ani-ani lintang
Para widadari tak wadahi kranjang
Thole! Hidup itu mesti seneng
Daripada tak senang kan lumayan seneng!

Sang Anak menjawab:
Bapak! Musik kami rock’n roll
Kami telan telormu yang setengah matang
Kami jadi anak tikus, kau makan dengan rakus
Kami justru digenggam jagatd
Jiwa sesek, tubuh ringsek
Menjadi kerikil tercampak ke tengah jalan raya
Bapak! Hostes Mince perkututmu
Hotel bertingkat panggungmu
Kau gugurkan buah suci rembulan
Kau rampas bintang kemuliaan
Bidadari Eropa dan Jepang
Meluncuri tenggorokan
Tapi baiklah Bapak! Kami akan senang
Daripada bingung menghitung hutang-hutang kebudayaan
Lebih baik bernyanyi mabuk kepayang!

*

       Sang Bapak menghirup pipa tembakau. Meneguk badai. Langit amber banjir bandang, dimasukkan cangkir menjadi wedang.
        Orang Jawa memasukkan jagat semesta ke matanya, masuk ke dalam darah, meluncur ke segenap raga, terbang ke langit jiwa, kemudian bertempat tinggal di sukmanya, dia dalam Ada.
        Orang Jawa menjala angin, mewadahi tumpahan hujan, diaduk dengan api menjadi secangkir minuman di tenggorokan jiwa.
        Tapi sang anak direguk badai. Bapaknya menjadi badai yang terdahsyat, yang merampas air dari besok pagi, yang merebut milik masa depan, meminumnya, sambil mengangkangi waktu yang bukan haknya. Para orang tualah yang melahirkan anak-anaknya, yang memberi warisan keadaan dan warna, yang membikin anak-anak itu tiba-tiba merasa asing pada dirinya.

*

       Keasingan membikin mata terbelalak. Membikinnya hanya bersikap reaktif, tanpa kunjung bisa memandang apalagi menggenggam dirinya sendiri.

Dadio pengertenmu, Le
Sugih tanpa banda, nglurug tanpa bala
Jadilah pengertianmu, Nak
Kaya tanpa harta, menyerang tanpa pasukan
Inggih Rama, dados pengerten kula
Pangkat tanpa tulada, mangan kentekan Sega
Ya, Bapak, menjadi pengertianku
Pangkat tanpa teladan, makan kehabisan nasi

       Petuah leluhur tak bisa lagi dimengerti. Kaya ialah berharta. Menang mesti dengan punya pasukan. Kekayaan tidak terletak di dalam jiwa, melainkan di rumah, persediaan tanah, di mata uang dan gudang-gudang penyimpan. Kemenangan ialah pasukan, siasat, bala tentara dan senapan. Kemenangan ialah kekuasaan. Kekuasaan ialah satu-satunya jalan menuju kekayaan.

BERANI NONTON VIDEO NORMANTIS? KLIK AJA!

KARYA TERBARU

Masukkan alamat Emailmu.

Bergabunglah dengan 1.746 pengikut lainnya

Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: