Iklan
Normantis Update

Cerpen Cak Nun: Anak Polah Bapak Kepradah, Bapak Polah Anak Kepradah

Karya: Emha Ainun Nadjib (Cak Nun)

Anak Polah Bapak Kepradah, Bapak Polah Anak Kepradah - Emha Ainun Nadjib (Cak Nun)

ANAK POLAH BAPAK KEPRADAH, BAPAK POLAH ANAK KEPRADAH
Karya: Emha Ainun Nadjib (Cak Nun)

       Di wilayah “Kerajaan” Jawa, zaman sedang beralih. Ruang terguncang, waktu tak lagi berlenggang. Irama meninggalkan gamelan, sorot mripat bergeser arah tujuan.
        Para priayi tak rekat lagi di kursi, disembah dalam kenangan di larut hari. Karena semut bisa sebesar sapi, wahyu tumpah di hutan dan sungai.
Bebauan apa, disebar angin yang tak lagi murni?
        Api menyala di mana-mana. Beratus kambing nongkrong di kereta kencana. Sang Gajah tinggal sebelah taringnya.

       Thole! Thole! Ayolah cancut tali wamda! Ada perawan telanjang di alun-alun utara, bebas diperebutkan siapa saja!

*

       Wong cilik jadi barang mewah. Kawula memancar sebagai emas mahal. Sebab siapa pun ingin menjadi priayi. Naik undang pergi nglams, diampirkan oleh para abdi di pakuwon-pakuwon.
        Priayi dengan dasamuka: jabatan tinggi, kekayaan tak berpagar selesai, kekuasaan yang nggegirisi, etc. Andongnya Honda Civics, nglaras-nya nite-club dan steambath. Abdinya para bawahan, pakuwonnya jaringan kekuasaan.
        Nanti kalau ketemu Gusti Allah, aku minta digendong!
        Gusti Allah-nya kekayaan, donya brana. Hanya itu yang bisa nggendong, menyelamatkan. Hanya itu yang namanya gamelan berdentang, menggugurkan ketegangan, mengayemkan semua otot dan gerakan, menenteramkan semesta alam, mengamankan kehidupan.

Seorang tua berkata:
Aja gupuh-gupu, Thole, aja ngaya-aya
Jagad iki amba, ana dina ana upa
Jangan tergesa-gesa, Nak, jangan diri dipaksa
Jagat ini luas, ada hari ada beras

Sang Anak menjawab:
Inggih, Rama, ana sabda ana memala
mBoten gupuh menawi sampun ngrentengi donya brana
Iya, Bapa, ada sabda maka ada celaka
Tak tergesa jika memang sudah sangat kaya

       Sang anak tak lagi percaya. Bakal terlindas barang siapa yang hidup aIon-aIon asal keIakon. Hari-hari tidak menjamin benar, maka tenaga, siasat, dan keringat harus diperas.
        Sang anak melemparkan sabda. Ada yang tak beres dengan yang telah diwariskan oleh orang tuanya. Di zaman yang beralih rupa, gugon-tuhon berganti makna, nilai dan tujuan tak lagi sama. Dan itulah warisan Bapaknya. Kalau sekarang para orang tua terus berlagak dengan petuang-petuah lama, itulah celaka namanya.

Iklan

Video Normantis

KARYA TERBARU

EDISI SPESIAL HARI KEMERDEKAAN REPUBLIK INDONESIA

Masukkan alamat Emailmu.

Bergabunglah dengan 4.156 pengikut lainnya

Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: