Iklan
Normantis Update

Esai: Perjalanan Menjadi “Aku” (Sejarah Penggunaan Kata “Aku”) – Ajip Rosidi

Esai Ajip Rosidi

Esai Ajip Rosidi: Perjalanan Menjadi "Aku"

ESAI: PERJALANAN MENJADI “AKU”
Oleh: Ajip Rosidi

SAYA agak kagét juga mendengar kemenakan dan anak-anak muda yang berbicara dengan saya mempergunakan kata ganti orang pertama “aku”, sebab kata ganti orang pertama yang biasa saya gunakan adalah “saya”. Begitu juga mereka yang seusia dengan saya, biasa mempergunakan kata “saya”. Kata “aku” biasanya hanya digunakan dalam téks sastera. Yang menarik dalam téks sastera justru kata ganti orang pertama “saya” jarang dipakai pengarang naratif kalau mempergunakan gaya bercerita sebagai orang pertama.

Hal itu menunjukkan adanya perubahan sosial yang mempengaruhi alam pikiran tiap individu anggota masyarakat pemakai bahasa. Pemakaian kata ganti orang pertama “saya”, agaknya dianggap terlalu merendahkan diri. Kata “saya” seperti diketahui berasal dari kata “sahaya” yang sama artinya dengan “hamba”, dari “hamba sahaya” yaitu budak belian. Meskipun berasal dari kata “sahaya” dan kata “sahaya” sama artinya dengan “hamba”, tetapi orang-orang yang segenerasi dengan saya atau satu-dua generasi lebih tua sepanjang tahu saya tidak ada yang mempergunakan kata “hamba” sebagai kata ganti orang pertama. Saya mengenal kata “hamba” tersebut sebagai kata ganti orang pertama, hanya melalui téks sastera yang melukiskan zaman raja-raja. Kata ganti itu biasa digunakan oléh kawula kerajaan yang berbicara dengan raja, yang kadang-kadang dapat dipertukarkan dengan kata “pauk”.

Sebagai pasangan kata “hamba” dan “patik”, yang digunakan sebagai kata ganti orang kedua biasanya “tuanku” atau “baginda”. Kata “tuan hamba” biasanya digunakan kalau tidak ditujukan kepada raja, melainkan kepada sesama atau yang lebih tinggi kedudukan sosialnya.

Dengan mempergunakan kata “hamba”, maka si pembicara menempatkan dirinya sebagai “abdi”, “budak” orang yang diajaknya bicara-walaupun dalam kenyataannya tidak demikian. Pemakaian kata “hamba” hanya menunjukkan bahwa ia menempatkan dirinya pada kedudukan yang lebih rendah daripada orang yang diaj aknya bicara. Tanda bahwa ia menghormati orang yang diajaknya bicara itu.

Setelah tidak lagi hidup di alam kerajaan, kata ganti “hamba” dianggap terlalu merendah, lalu dipakailah kata “saya” yang berasal dari kata “sahaya”. Pemakaian kata ganti “aku” dalam percakapan hanya digunakan di kalangan yang sama tinggi derajatnya dan sudah akrab. Dalam hal ini orang-orang yang berasal dari Sumatera lebih mudah dan lebih umum mempergunakan kata ganti “aku”. Belakangan karena pengaruh bahasa Jakarta, kata “aku” pun berubah menjadi “gua” atau “gue”. Dan kata yang konon berasal dari salah satu bahasa dialék Cina itu karena posisi Jakarta sebagai ibu kota yang dianggap lebih “bergengsi”, menyebar dengan cepat (terutama melalui kaum muda) ke berbagai kota di seluruh penjuru tanahair. Apalagi setelah penyebaran itu diinténsifkan pula melalui siaran-siaran sinetron télévisi.

Tetapi orang-orang Jawa, apalagi kalau dalam pertemuan resmi, lebih suka mempergunakan kata ganti “kami” untuk menyebut dirinya sendiri singular. Mungkin karena ada anggapan bahkan kata “saya” pun masih kurang halus. Kata “kami” telah dikenal dalam bahasa Melayu, namun mempunyai arti yang berbéda. Kata “kamil merupakan kata ganti pertama untuk orang banyak (plural). Jadi, bukan kata ganti diri pribadi. Boléh juga kata tersebut digunakan sebagai kata ganti orang pertama singular, tetapi husus hanya oléh raja atau pengarang dalam kata pengantar bukunya. Maka pemakaian kata “kami” yang sama artinya dengan “saya” oléh orang Jawa yang maksudnya untuk lebih merendahkan diri, malah dianggap oléh pendengar yang bukan

orang Jawa, apalagi oléh mereka yang berasal dari Sumatera, sebagai kecongkakan yang berlebihan, karena sama dengan menempatkan dirinya sama dengan raja.

Dalam bahasa Jawa sebenarnya digunakan kata ganti orang pertama “aku” di antara orang yang sederajat dan akrab. Mungkinkah pemakaian “aku” sekarang dalam bahasa Indonésia sebagai pengaruh dari sukubangsa Jawa yang hendak mempergunakan kata “aku” seperti dalam bahasanya sendiri? Entahlah. Tak ada penelitian mengenai hal itu. Tapi kalaupun benar demikian, adalah menarik bahwa yang diambil dari bahasa Jawa justru kata ”aku” dan bukan, misalnya, kata “kulo” yang berasal dari “kawulo” yang artinya sama dengan “hamba” dalam bahasa Melayu.

Mémang kata-kata “hamba”, “saya”, “kami” (singular) cocok untuk masyarakat féodal kerajaan. Setelah Indonésia merdéka dan menganut sistim demokrasi, maka kata-kata itu bisa dianggap tidak cocok lagi. Kata “aku” dianggap dan dirasakan lebih cocok. Tetapi hal demikian bertalian dengan rasa bahasa yang tidak mudah berubah. Saya sendiri, misalnya, sudah merasa énak dengan kata ganti “saya” tanpa merasa menempatkan diri sebagai “hamba”, merasa sukar mengganti kata ganti tersebut dengan “aku”, kecuali kalau berbicara dengan kawan-kawan akrab seusia. Saya jadi ingat kepada salah satu bait sajak Chairil yang menyatakan bahwa kita ini bangsa yang “baru bisa bilang aku”.

Ternyata tak mudah perjalanan dari “hamba”, “saya”, “kami” untuk sampai kepada “aku”.

AJIP ROSIDI
Buku: BUS BIS BAS – Berbagai Masalah Bahasa Indonesia – Catatan dan Pandangan Ajip Rosidi

Catatan: Dalam buku ini, Ajip Rosidi memang membedakan penulisan huruf “e” dan “é” untuk membedakan bunyi. 

Iklan

Video Normantis

KARYA TERBARU

EDISI SPESIAL HARI KEMERDEKAAN REPUBLIK INDONESIA

Masukkan alamat Emailmu.

Bergabunglah dengan 4.157 pengikut lainnya

Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: