Iklan
Normantis Update

Esai: Kegagalan “Anda” (Sejarah Kata “Anda”) – Ajip Rosidi

Esai Ajip Rosidi

Esai Ajip Rosidi: Kegagalan "Anda"

ESAI: KEGAGALAN “ANDA”
Oleh: Ajip Rosidi

SEPERTI diketahui, kata ganti orang, baik pertama maupun kedua dalam bahasa-bahasa Nusantara sangatlah kaya. Dalam bahasa Indonésia yang berasal dari bahasa Melayu untuk kata ganti orang kedua terdapat kata “kamu” , engkau”, “saudara”, “tuan”, “bapak”, “ibu”, “awak”, dan banyak lagi untuk yang singular, sedangkan untuk yang plural kata itu dijadikan kata ulang, atau ditambah dengan “semua”, “sekalian” dan semacamnya, sehingga menjadi “kamu sekalian”, “engkau sekalian” yang disingkat menjadi “kalian”, “saudara-saudara” atau “saudara sekalian” atau “saudara semua”. “Bapak-bapak, ”ibu-ibu”, “tuan-tuan” juga dapat ditambah dengan “sekalian” tapi tak biasa disingkat menjadi “kalian”.

Hal itu menunjukkan bahwa bahasa-bahasa di Nusantara itu merupakan bahasa yang kongkrit, karena dalam pemakaiannya harus merujuk kepada posisi sosial si pembicara, yang diajak bicara dan yang dibicarakan. Kalau dalam bahasa Inggris (atau bahasa Barat yang lain) dengan mudah dalam setiap kesempatan orang mengatakan tentang dirinya sebagai I am an English man, kalau laki-laki, atau I am an English lady kalau ia perempuan, maka orang Jawa, orang Sunda, orang Melayu, dan umumnya suku-suku bangsa di Indonésia tak dapat membuat pengakuan demikian dengan ungkapan yang sama buat setiap kesempatan dan buat orang yang berlainan. Kalimat yang meréka katakan akan tergantung kepada dengan siapa dia berbicara dan dalam kesempatan apa. Berbicara terhadap raja, terhadap orang yang lebih tua atau yang kedudukan sosialnya lebih tinggi, terhadap sesama yang akrab, terhadap orang yang kedudukan sosial atau usianya lebih rendah, akan mempergunakan ungkapan yang berlainan.

Keadaan seperti itu agaknya telah membuat répot wartawan terkemuka pemimpin redaksi surat kabar terkemuka. Wartawan yang saya maksud adalah H. Rosihan Anwar, lulusan AMS pada masa penjajahan Belanda sebelum perang. Untuk masuk AMS orang sebelumnya harus belajar di ELS (setingkat dengan SD khusus untuk anak Belanda dan Eropa lainnya) atau HIS (setingkat dengan SD juga), kemudian masuk ke MULO (setingkat dengan SMP) dahulu. Di ELS, HIS, MULO dan AMS yang digunakan sebagai bahasa pengantar adalah bahasa Belanda. Dengan demikian, H. Rosihan Anwar yang sejak masuk sekolah selalu mempergunakan bahasa Belanda yang untuk kata ganti orang pertama dan kata ganti orang kedua hanya mengenal satu atau dua kata saja, dapat kita bayangkan merasa répot harus menulis dalam bahasa yang begitu banyak mempunyai kata ganti orang pertama, apalagi kata ganti orang kedua. Maka pada tahun 1958 timbullah gagasan cemerlang dalam kepalanya, mengapa tak dicari kata ganti orang kedua yang dapat dipakai terhadap semua orang seperti kata “you” dalam bahasa Inggris? Maka dalam surat kabar yang dipimpinnya, yaitu sk. Pedoman, yang merupakan surat kabar dengan tiras tertinggi pada zamannya, beliau mengundang para pembacanya untuk urun-usul kata ganti apa yang dapat digunakan seperti yang diangan-angankannya itu. Banyak usul yang masuk, namun pada akhirnya kata ganti yang dianggap paling tepat untuk digunakan sebagai “you” dalam bahasa Inggris adalah kata “anda” yang diusulkan oleh seorang mayor penerbang dari Palembang. Maka sejak itu dimulailah mempopulerkan kata ganti tersebut, baik melalui surat kabar Pedoman, maupun melalui media lain yang mendukung gagasan H. Rosihan Anwar.

Sekarang setelah lewat lebih setengah abad, kata “anda” sudah populer dan sering kita dengar digunakan dalam pembicaraan lisan maupun dalam surat-menyurat atau dalam tulisan lain yang tercetak. Tetapi apakah dengan demikian keinginan H. Rosihan Anwar untuk menemukan “you” dalam bahasa Indonesia tercapai? Ternyata tidak. Kata ganti “anda” tidak menggantikan semua kata ganti orang kedua yang lain yang terdapat dalam bahasa Indonesia, sehingga bahasa Indonesia hanya mengenal satu kata ganti saja. Sekarang kata ganti “anda” malah menambah jumlah kata ganti orang kedua yang sebelumnya sudah dikenal dalam bahasa Indonesia. Kata ganti “saudara”, “bapak”, “ibu”, “kamu”, “engkau”, dan lain-lain masih tetap dipakai-tergantung kepada situasi kongkrit si pembicara. Artinya tergantung pada kesempatan apa dan dengan siapa dia bicara dan siapa pula yang dibicarakan. Kata ganti “kamu”, “engkau”, “saudara” atau “tuan” (yang kadang-kadang masih terdengar dipakai sekarang juga) tak dapat dipergunakan kepada ayah dan ibu kita sendiri, walaupun di rumah kita berbahasa Indonesia sebagai bahasa sehari-hari. Niscaya ayah dan ibu kita berang kalau kita mempergunakan salah satu dari kata tersebut. Kita memanggil ayah dan ibu kita dengan kata sapaan yang diajarkan oléh meréka sejak kita kecil, entah “ayah-ibu”, “bapak-ibu”, “papah-mamah”, “papih-mamih”, “abah-umi” dan entah apa lagi. Tak ada kata yang umum yang dapat dipergunakan oléh setiap orang kepada ayah-ibunya sendiri.

Kata “anda” seperti kata-kata ganti orang kedua yang lain, hanya dipergunakan untuk situasi (kesempatan) dan terhadap orang-orang tertentu saja. Biasanya digunakan untuk menyapa orang yang belum akrab, seperti wartawan dalam wawancara atau digunakan dalam iklan. Ayah dan ibu kita sendiri, bahkan isteri atau suami kita sendiri, tak mustahil menjadi séwot kalau tiba-tiba kita gunakan kata ”anda” terhadapnya.

Perubahan kata ganti yang digunakan seseorang terhadap lawan bicaranya dalam bahasa Indonésia mengandung arti yang penting. Sahabat yang biasa beraku-engkau dengan kita, kalau tiba-tiba kita sebut “saudara”, “bapak”, bahkan “anda” niscaya dia bertanya-tanya dalam hati, mengapa kita marah terhadapnya.

Yang menarik dalam masyarakat, tanpa ada yang menyeponsori, menjadi populér penggunaan kata sapaan “um” atau “om” yang niscaya berasal dari kata bahasa Belanda “oom”. Kata ini sekarang populér di kalangan bawah, digunakan oléh pedagang asongan untuk menyapa calon pembeli, atau oléh siapa pun terhadap orang yang belum dikenalnya. Kata “Tante” yang setara dengan “oom” yang juga dari bahasa Belanda untuk menyebut wanita yang sebaya dengan ibu kita, tidak mencapai popularitas yang sama dengan kata “oom”, walaupun kata “tante” ada juga dipergunakan dalam masyarakat, terutama di kalangan kaum menengah. Sampai awal tahun 1950-an, kata “oom” biasa dipakai untuk menyapa orang-orang Ambon yang banyak yang menjadi portir bioskop di Jakarta–di samping digunakan di kalangan kaum menengah yang sedikit-sedikit bau-bau bahasa Belanda. Kegagalan H. Rosihan Anwar mencari kata ganti dalam bahasa Indonésia yang sepadan dengan “you” dalam bahasa Inggris, hanya menunjukkan bahwa beliau tidak menyadari bahwa bahasa itu erat pertaliannya dengan budaya masyarakat yang mempergunakannya. Budaya masyarakat kita sangat memperhatikan hubungan antar manusia, sehingga berhadapan dengan seseorang harus mempergunakan sebutan tertentu, sedangkan kalau berhadapan dengan orang lain lagi harus menggunakan sebutan yang berlainan. Untuk masing-masing orang ada sebutan yang khusus, tergantung pada bagaimana hubungan dengan orang tersebut.

AJIP ROSIDI
Buku: BUS BIS BAS – Berbagai Masalah Bahasa Indonesia – Catatan dan Pandangan Ajip Rosidi
Penerbit: Pustaka Jaya

Catatan: Dalam buku ini, Ajip Rosidi memang membedakan penulisan huruf “e” dan “é” untuk membedakan bunyi.  

Iklan

Video Normantis

KARYA TERBARU

EDISI SPESIAL HARI KEMERDEKAAN REPUBLIK INDONESIA

Masukkan alamat Emailmu.

Bergabunglah dengan 4.156 pengikut lainnya

Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: