Iklan
Normantis Update

Muka yang Malang – Cerpen W.S. Rendra

Cerpen W.S. Rendra

BERANI NONTON VIDEO NORMANTIS? KLIK AJA!

Muka yang Malang - Cerpen WS Rendra

MUKA YANG MALANG
Karya: W.S. Rendra

Saya mempunyai teman sepemondokan yang bernama Aman, tetapi karena ia seorang peribut maka ada orang memanggilnya “Pengacau”, dan karena ia pendek maka ada orang yang menamakannya “si Pendek”, kecuali itu karena mukanya penuh dengan jerawat maka ada juga yang menyebutnya “si Jerawat”. Adapun orang yang malang ini tidur sekamar dengan saya dan seorang teman lagi yang bernama Boyik.

Apabila Aman atau “Pendek” atau “Pengacau” atau “Jerawat” ini tidur, ia mendengkur dengan dahsyat dan sehat, serta badannya melengkung seperti kanak-kanak yang sedang tidur. Namun, apabila keesokan harinya mulai dibukakan matanya, dimulailah penderitaan dalam hidupnya.

Ia sangat bersedih karena mukanya penuh ditumbuhi jerawat, dan jerawat-jerawat itu tiada kunjung sembuh-sembuh juga. Sudah terang yang kelihatan matang serta berjumlah banyak itu sangat mengganggu hubungannya dengan gadis-gadis. Padahal, Aman ini mempunyai semangat yang unik dalam hal berhubungan dengan gadis-gadis.

Pada suatu hari ia berkata kepada Boyik, “Tahukah kau bahwa dahulu pacar saya lebih dari lima?”

“Dahulu memang Raja Buaya, tetapi sekarang tinggal baunya saja. Baunya jerawat!” ejek Boyik.

“Jerawat ini memang terkutuk. Jerawat-jerawat inilah yang menghalang-halangi saya untuk mengikat gadis-gadis. Jerawat-jerawat inilah yang menjadi perintang antara saya dan Salmah. Saya benci betul pada muka ini.”

Sambil berkata begitu, ia bertindak memecahi jerawatnya dengan kuku-kukunya.

“Kenapa kau pecahi begitu? Apa biar kaca cerminmu kena infeksi karena terlalu lama menatap mukamu bengkak-bengkak macam topeng dalam karnaval?”

Aman mengeluh sangat panjang, duduk di depan kaca dan menatap wajahnya sendiri dengan penuh kebencian.

“Rusak semua rencana saya,” gerutunya dengan sebal.

“Saya tidak tahu apa dosa saya sehingga dapat siksa seperti ini. Ya, tentu saja ada satu dua dosa saya, tapi, toh, saya sudah menyesal. Boyik, tahukah kau apa obatnya?”

“Sudah saya bilang dulu, jeruk nipis sama air hangat.”

“Itu pun sudah saya turuti, tapi sudah lama, toh, belum sembuh juga.”

“Berahi busuk kau itulah sebab dari semuanya. Ia meletus keluar ke muka. Maka itu kendalikan diri, dong, sedikit.”

“Kadang saya pengin bunuh diri karenanya.”

“Kenapa tidak?”

“Takut neraka.”

Kedua orang itu selalu saja ribut mengenai jerawat itu. Aman ribut mengaduh, sedang Boyik ribut mengejek. Saya selalu geli mendengar mereka itu.

Telah lama Aman jatuh cinta pada Salmah. Namun, sudah terang bahwa Salmah tidak mencintainya. Salmah selalu bertanya kepadanya, “Muka kau kenapa, sih, Pendek? “

Maka, ia akan selalu menjawab dengan penuh dukacita.

“Inilah percobaan dari Tuhan. Jerawat yang menyedihkan. Tapi, lama-lama tentu akan sembuh juga. Semata-mata ini lantaran saya malas mengobatinya dengan teratur.”

Kemudian kalau mendengar jawaban serupa itu Salmah akan terus bertanya dengan genit.

“Kenapa, sih, tidak sembuh-sembuh juga. Sejak saya kenal kau, sudah saya lihat jerawat-jerawat itu tumbuh di situ. Aduh, seperti tomat, ya!”

Lalu, dengan suara putus asa, Aman akan bertanya, “Kau keberatan pada jerawat-jerawat ini, Salmah?”

Kalau sudah sampai sini, pandai betul Salmah mempermainkan perasaan pemuda yang sedang keranjingan itu.

“Masa saya berkeberatan? Tapi  tapi  tidak menular, bukan?”

Perihal jerawat itu sudah banyaklah tersiar cerita-cerita yang menyedihkan. J erawat-jerawat itu telah menjadi pangkal ejekan dan banyak gadis~gadis yang sukar didekati karena jerawat-jerawat itu.

Pernah ia berkenalan dengan seorang gadis melalui surat yang alamatnya ia dapat pada sebuah ruangan pen friend pada sebuah majalah. Saling surat-suratan itu menjadi sedemikian akrabnya sehingga timbul gejala-gejala yang lebih hangat lagi. Aman telah minta gadis itu untuk mengirimkan fotonya. Ketika datang fotonya, ia pun lalu menjadi kelabakan karena di foto itu tampak bahwa gadis itu memang cantik, mempunyai wajah yang rapi di-make-up, rambut teratur, dan difoto dari agak ke samping. Seketika itu juga hati Aman telah dirampasnya, hal itu tidak sukar karena kejadian semacam itu hampir telah merupakan rutin dalam hidupnya. Maka, pada gilirannya gadis itu minta

Aman untuk mengirimkan fotonya. Sekarang repotlah si muka jerawat yang malang itu. Ia sangat khawatir gadis itu akan menjadi kecewa setelah melihat mukanya. Ia sudah telanjur banyak bermimpi. Gunung impian itu sudah sedemikian tingginya, dan ia sangat segan untuk meruntuhkannya. Akhirnya, ia pun mendapat jalannya.

Ia pergi kepada tukang foto untuk membuat beberapa fotonya, tetapi dengan sangat ia berpesan supaya jerawat-jerawatnya jangan sampai kelihatan. Di zaman sekarang teknik sudah sedemikian majunya sehingga bisa menolong pembohong-pembohong. Dengan pertolongan kemajuan zaman itu, Aman telah bisa menambah tinggi gunung impiannya. Berdiri di puncak gunung yang tinggi memang mempunyai kenikmatan, terasa lapang, sejuk dan segar, apalagi apabila gunung itu gunung impian.

Jerawat yang dipunyai Aman itu memang agak terlalu. Biasanya orang mempunyai jerawat satu dua saja, tetapi Aman terlalu kaya akan jerawat itu. Seluruh mukanya rata ditumbuhi jerawat. Jerawat-jerawat itu sudah masak-masak dan malahan ada beberapa yang tampak bernanah, hal ini menyebabkan mukanya kasar seperti jalan yang lama tak diaspal. Dan becek. Ada orang yang mempunyai muka bopeng, meskipun bopeng tampak bersih. Lain lagi dengan muka Aman ini. Untuk digambarkan lebih jauh sangat menyedihkan.

Akan tetapi, waktu aku melihat fotonya yang baru saja dibikinnya itu, mau tak mau terpaksa kagum juga. Di fotonya itu, kulit mukanya dibuat demikian bersih dan putih agak kepucat-pucatan. Dan, tanpa jerawat-jerawat itu mukanya kelihatan lumayan juga. Setelah ia membalas mengirimkan foto itu, rupa-rupanya peristiwa surat-suratan mereka makin menghebat juga.

Kemudian pada suatu hari, waktu saya pulang dari kerja, saya melihat di kamar tamu Aman sedang menemui seorang tamu Wanita. Keduanya sangat kaku dalam sikap dan pembicaraannya. Saya langsung menuju ke kamar sambil dalam hati bersyukur bahwa akhirnya Aman, toh, bisa mendapatkan seorang teman wanita. Tiba-tiba, Aman masuk ke kamar saya. Saya bertanya kepadanya, “Tamumu sudah pulang?”

“Belum.”

“Siapa, sih?”

“Ia dari Medan. Ke sini mau melanjutkan sekolah ke Universitas Gadjah Mada.”

“O, bekas pacarmu apa?”

“Bukan Dia wanita yang sering bersurat-suratan dengan saya itu.”

“Yang kirim foto yang manis itu?”

Ia hanya tersenyum kecut dan menggeleng-gelengkan kepala.

“Lantas? Kenapa muka kau seperti sirsak begitu?” tanya saya dengan heran.

“Lihatlah keluar. Intiplah dia,” katanya dengan suara rendah dan mengeluh.

Saya mengintip keluar melalui celah-celah gorden di kamar jendela yang menghubungkan kamar kami dan kamar tamu, dan saya betul-betul terkejut. Gadis itu mukanya juga penuh dengan jerawat. Persis seperti halnya Aman. Sungguh tidak menyangka. Begitu manis ia kelihatan di foto.

Sejak pertemuan itu, Aman merasa sedih sekali. Gunung impiannya sudah kelewat tinggi. Maka, ketika jatuh runtuh, kelewat keras dan dahsyat terasa robohnya. Gadis itu masih sering mencoba untuk menghubungi Aman baik dengan surat maupun datang sendiri. Namun, Aman sudah kelewat keras jatuhnya.

“Saya benci jerawat-jerawat ini. Dulu saya buaya, sekarang saya kadal,” begitu selalu keluhnya. Maka, sementara itu makin kerap berpikir tentang gadis-gadis semakin subur jerawatnya tumbuh dan menua.

Sebetulnya cara Aman bergaul sangat menarik. Bagi gadis-gadis dan sesama lelaki. Ia pintar meladeni dan tak mudah sakit hati. Lebih menyenangkan lagi karena ia pandai sekali melucu, serta sama sekali tidak berkeberatan apabila dirinya dijadikan sasaran ejekan dan senda gurau. Banyak anak-anak gadis suka bersenda gurau dengan dia. Lagi pula mereka suka betul secara beramai-ramai meminta Aman mengawal mereka untuk menonton film atau kompetisi atletik.

Hal ini disebabkan mereka menganggap Aman orang yang tak berbahaya, terlalu buruk rupanya untuk berani kurang ajar, dan lagi mereka sangat senang bahwa Aman selalu sedia melayani mereka. Namun, Aman selalu salah tampa. Sering ia menyangka bahwa seseorang gadis telah mencintainya. Segera ia menyatakan cinta kepada gadis itu sambil melamarnya untuk dijadikan kekasihnya. Tentu saja hal ini selalu menimbulkan heboh yang hanya mempertambah penderitaannya. Sering ia salah sangka, menafsirkan perhatian sebagai cinta.

Ceritanya mengenai percintaan dengan Salmah boleh dikata hebat juga.

Rupanya cintanya terhadap Salmah sudah sangat mendalam, lain dari biasanya. Cintanya sedemikian berkobar-kobarnya sehingga jerawatnya makin menjadi dengan hebatnya. Salmah adalah gadis tetangga kami. Mukanya tidak terlalu cantik, tetapi cukup manis. Badannyalah sumber daya pikatnya. Kecuali itu, tingkah lakunya memang sengaja dibuat-buat sedemikian rupa sehingga kelihatan betul untuk memikat mata lelaki. la gadis genit panas, lincah, nakal, dan suka sekali mempermainkan pemuja-pemujanya. Semua orang tahu, bahwa gadis ini telah jatuh cinta kepada seorang penjual majalah di sebuah kios di tepi Jalan Malioboro. Meskipun begitu, banyak pemuda masih suka mengejar-ngejarnya, walaupun hanya sekadar untuk permainan iseng yang jahat. Dan, anehnya, Salmah sendiri meskipun sudah jatuh cinta, masih juga memerlukan hiburan-hiburannya yang berbahaya itu.

Gadis yang genit itu tahu betul, bahwa Aman sangat mencintainya, dan ia pun tahu betul bagaimana cara mempermain-mainkannya. Ia tak pernah memanggil Aman dengan namanya yang betul. Ia selalu menyebutnya Jerawat, Pendek, atau Pengacau. Meskipun begitu, Aman tak berkeberatan sama sekali. Ia seratus persen rela untuk menjadi hamba gadis yang nakal itu.

Pada suatu sore, waktu saya sedang duduk membaca koran, Boyik buru-buru datang mendapatkan saya. Ia berkata kepada saya.

“Percayakah kau, bahwa saya tadi melihat Jerawat naik becak bersama dengan Salmah?”

“Oh, ya? Lantas bagaimana?”

“Berarti saya sekarang kalah main taruhan. Saya telah bertaruh dengan dia bahwa dia tak akan bisa mengajak Salmah naik becak bersama-sama. Nah, sekarang saya telah kalah bertaruh.”

“Kapan kau lihat?”

“Barangkali dua jam yang lalu. Wah, pendeknya ia akan berkesempatan berbesar kepala, deh.”

Baru saja ia selesai omong, muncullah Jerawat dengan muka gusar. Segera saja ia mencopoti sepatunya dan membantingkannya ke lantai. Sesudah itu ia bantingkan pada dirinya sendiri ke balai-balai dengan keras. Kemudian ia terlentang dengan muka gusar dan nanar. Kami berdua saling berpandangan dengan penuh pertanyaan. Akhirnya, Boyik bersuara.

“Sandiwara macam apa ini? Bagaimana tadi ceritanya? Saya kalah bertaruh ini, ya?”

“Persetan sama taruhan.”

“Lho, kok, malah marah.”

“Nasib saya sial.”

Kami berdua tiba-tiba merasa kasihan juga dan segera menghiburnya. Sehingga, akhirnya ia bercerita mengenai duduk perkaranya.

“Tadi pergi ke rumah teman. Di tengah jalan, saya bertemu dengan Salmah. Saya berkata kepadanya, ‘Halo Salmah.’”

‘Halo, Pendek! ‘

‘Ke mana kau, Salmah?’

‘Ada perlu ke Malioboro.’

‘Wah, mau belanja rupanya. Sendirian saja?”

‘Habis tak ada yang sudi mengawal, sih.’

‘Mau saya kawal, apa?’

‘Kita naik becak, yuk.’

“Begitulah ia mau saya ajak naik becak. Waktu kami duduk berdua dalam becak, jantung saya berdebar-debar ketika mencium bau bedak yang dipakainya.

“Di becak ia berkata kepada saya, ‘Baik hati betul kau, Jerawat.”

‘Salmah, bisakah kau izinkan saya mengajukan pertanyaan?’

‘Sama sekali boleh saja. Katakanlah.’

‘Janganlah kau panggil saya dengan nama Pendek dan Jerawat.’

‘Baik. Baik sekali. Tetapi  bagaimana  siapa namamu yang betul?’

“Saya sangat sedih mendengar pertanyaan itu. Tetapi, saya menjawabnya juga. ‘Nama saya Aman. Masa kau lupa?’

‘Ah, manis betul namamu. Pantas saya merasa aman di dekatmu.’

‘Apa kau tidak jijik?’

‘Kenapa jijik?’

‘Jerawatku.’

‘Ah, saya tidak bodoh. Jerawat, toh, bisa sembuh. Kau pasti manis tanpa jerawat.’

‘Apa kau suka padaku?’

‘Ah, Pendek! Pendek! Kau memang manis.’

“Caranya omong membuat saya gemas betul. Saya tak bisa marah, saya hanya tambah merasa gila dan lupa daratan. Apalagi ia memakai minyak wangi yang baunya memikat sekali. Saya ingin memeluknya. Akhirnya, sampailah kami ke Parmo.

“Dan, betapa terkejut saya, ketika ternyata tujuannya pergi ke Parmo yang jual majalah itu. Baru saya ingat, bahwa banyak orang bilang ia itu pacar Parmo. Ia memperkenalkan saya pada Parmo. Parmo kelihatan betul menganggap sepi saya. Salmah berkata kepada Parmo.

‘Ini tetangga saya. Namanya … namanya …  saya lupa. Tapi, saya biasa memanggilnya Pendek atau Jerawat. Ia saya ajak kemari untuk membawakan kotak sabun yang kau janjikan untukku itu.’

“Parmo tersenyum manis dan menggandeng tangan Salmah. Mata saya jadi gelap. Kepada saya, Parmo menganggap sepi saya malahan ia lalu berkata kepada saya dengan suara yang kurang ajar, ‘Sana, tuh, ambil kotak sabunnya.’

“Saya tak bisa menahan hati lagi. Saya menyerbu Parmo dan memukulnya tiga kali. Ia membalas memukul saya sekali dan saya roboh. Orang-orang datang melerai, tetapi saya segera pergi. Saya merasa remuk sekali. Remuk di sini, di jiwa saya.”

Banyaklah lagi cerita-cerita yang menyedihkan berhubung dengan peristiwa Aman itu. Kepada setiap teman, ia mengeluh dan meminta nasihat-nasihat untuk hibur penderitaannya. Kepada saya ia juga minta sekadar nasihat-nasihat. Saya merasa tak bisa memberinya apa-apa.

Saya hanya berkata, “Setiap orang berpendapat bahwa penderitaan yang sedang dialaminya sangat hebat, tetapi apabila penderitaan itu sudah lalu, akan terlihat bahwa penderitaannya itu tidak seberapa seramnya. Penyakitmu tentu lambat laun akan sembuh apabila kau jaga supaya tidak sampai infeksi. Sekali waktu nanti apabila penderitaanmu telah lewat, tentu ia tak lebih daripada kenang-kenangan tentang sebuah penyakit dan akibat-akibatnya.”

Demikianlah ceritanya memang mempunyai kelucuan yang menyedihkan, tetapi saya tak menganggapnya sebagai orang yang sama sekali sial. Semata-mata ia baru digembleng, sebagaimana halnya banyak pula orang yang lain. Ia harus kuat dan segalanya akan lalu.

W.S. Rendra
Buku: Ia Sudah Bertualang, N.V. Nusantara, 1963.

Iklan

KARYA TERBARU

Masukkan alamat Emailmu.

Bergabunglah dengan 4.194 pengikut lainnya

1 Comment on Muka yang Malang – Cerpen W.S. Rendra

  1. Reblogged this on Puisi W.S. Rendra and commented:

    normantis.com

    Suka

Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: