Iklan
Normantis Update

Pesan Moral dari Sepiring Makanan (PART 1) – Raditya Dika

Karya: Raditya Dika

Pesan Moral dari Sepiring Makanan (Part 1) - Raditya Dika

PESAN MORAL DARI SEPIRING MAKANAN (PART 1)
Karya: Raditya Dika

SATU

KALAU bukan karena makanan enak, pasti sekarang gue tidak berada di sebuah gang kecil bau pesing di Kota Venice, Italia.

Tepat di belakang, keempat adik gue mengekor, mengikuti setiap langkah. Ingga, salah satu adik, menepok pundak gue, mengulangi pertanyaannya yang gue tidak acuhkan dari tadi, ‘Bang, sebenernya restorannya di mana, sih?’

‘Aku udah laper nih.’ Anggi, adik yang lain, ikutan sewot. ‘Restorannya udah dekat kan?’

‘Uh, Iya, Abang yakin kita udah dekat.’  kata gue, berbohong.

‘Bang, sekadar mengingatkan. Kita udah nyasar jalan kaki setengah jam loh,’ sahut Yuditha, adik yang paling tua. ‘Tempatnya tutup pukul sembilan bukan?’

Gue melihat ke jam tangan, setengah jam lagi pukul sembilan.

Protes keempat adik gue semakin menjadi. Gue mau nangis.

Semuanya dimulai saat kami sekeluarga liburan keliling Eropa. Malam pertama di Venice, gue langsung mengajak adik-adik gue mencari restoran enak yang informasinya didapat dari internet.

Restoran enak di Venice hasil rekomendasi website Wikitravel — menurut situs itu juga harganya tidak terlalu mahal — bernama La Bitta. Karena gue jenis orang yang gampang terpengaruh, maka gue langsung mencari alamatnya melalui software GoogleMaps di hape gue. Ajaib, GoogleMaps langsung menunjukkan jalan ke restoran tersebut lengkap dengan perkiraan waktu sampainya. Diiming-imingi makanan enak dan GoogleMaps yang secara akurat menunjukkan restorannya, gue pun mengajak adik-adik ke sana.

Awalnya, gue pikir bakalan begini: kami keluar hotel, ngikutin petunjuk dari GaogleMaps, sampai di La Bitta, makan. Tapi, kenyataannya begini: kami keluar hotel, ngikutin petunjuk dari GoogleMaps, di tengah jalan GoogleMaps-nya mati, kami semua nyasar.

Venice adalah satu-satunya kota pejalan kaki di dunia. Mobil dan motor tidak bisa masuk ke kota (kabar buruk untuk kaki gue). Kota ini juga terdiri dari kanal-kanal air sehingga membuatnya memiliki banyak jembatan dan lebih banyak menggunakan water taxi atau gondola sebagai moda transportasi.

Karena bentuk kotanya, nyasar di Venice malam-malam itu benar-benar gak enak. Pertama, di kotanya sendiri jalan terdiri dari gang-gang sempit dan berliku. Kedua, karena ini kota pejalan kaki maka gak ada abang tukang ojek yang bisa ditanyain. Intinya, kami semua tinggal menunggu waktu untuk ngambang di kanal Kota Venice.

‘Abang, ini udah jam berapa?’ tanya Ingga yang kembali mengganggu dengan pertanyaannya. Dia mulai sudah tidak sabar. Ingga adalah anak yang paling gendut di antara anggota keluarga kami, jadi bisa dibayangkan betapa berbahayanya dia kalau sudah mulai lapar.

‘Coba lihat lagi alamatnya di mana?!’ seru Yuditha.

Gue ngecek BlackBerry, membuka notes, dan membaca alamatnya: La Bitta-Dorsoduro 2753A, calle lunga, san Barnaba, atau dalam bahasa Indonesia: mampus nyasar dah gue. Di Indonesia, nyari jalan aja nyasar, gimana di Venice yang nama jalannya aja gak bisa gue ucapkan.

Gue menggaruk-garuk kepala.

‘Ah! Itu ada orang Italia lagi ngumpul-ngumpul’ Gue menunjuk ke arah lima orang Italia yang sedang jalan di gang depan kami. ‘Ada yang mau nanya arah ke dia gak?’

‘Edgar aja, Bang!’

‘Iya, Edgar aja! Edgar!’

‘Edgar,’ kata gue ke adik gue yang paling kecil.

‘Kamu yang nanya mereka.’

‘Tapi, Bang.’ Edgar mulai membantah.

‘Pangkat kamu paling rendah dalam keluarga ini. Laksanakan!’

Edgar mendengus.

Ya, sebagai pemegang pangkat terendah dalam keluarga, Edgar sudah seharusnya menuruti. Di keluarga gue, seperti di militer, masing-masing anggota keluarga punya pangkat, dan pangkat yang lebih rendah harus mengalah sama yang lebih tinggi.

Pemegang pangkat tertinggi adalah Nyokap, sebagai jenderal di rumah. Ini berarti, apa pun yang Nyokap bilang harus segera dituruti oleh anggota keluarga lainnya. Sedikit di bawah Nyokap, adalah Bokap gue yang berpangkat mayor jenderal. Selanjutnya, gue sebagai letnan jenderal, Yuditha (adik pertama) sebagai kapten, Ingga-Anggi (adik gue berikutnya yang kembar) sebagai prajurit, dan adik gue yang terakhir bernama Edgar sebagai… tukang cukur para tentara. Dia memang yang paling sering ditindas.

Praktik penggunaan pangkat ini terlihat jelas. Misalnya, ketika Bokap nyuruh Yuditha untuk nyalain air mandi.

‘Yudith! Nyalakan air mandi buat Papa!’

‘Tapi, Pa,’ jawab Yuditha, ‘aku lagi ngerjain tugas kampus….’

‘Yuditha! Jangan bantah-bantah Papa!’

‘Tapi, Pa….’

Tiba-tiba, Nyokap nongol, ‘Pa, itu Yudith lagi ngerjain pe-er loh! Papa nyalain aja sendiri airnya!’

‘BAIK, MA! MAAF, MA! LAKSANAKAN, MA!’

Lalu, bokap gue balik kanan, langsung nyalain air (atau Bokap diam-diam pergi ke kamar Edgar dan

menyuruh Edgar nyalain air. Sebagai pemegang pangkat paling rendah, dia tidak bisa diselamatkan).

Kembali ke Edgar, dia mendatangi gerombolan orang Italia tersebut dan menanyakan jalan. Dari kejauhan, kami melihat seseorang dari gerombolan itu menggerak-gerakkan tangannya di depan muka Edgar sambil nyerocos dengan bahasa Inggris. Edgar lalu manggut-manggut, entah karena paham, atau biar dikira paham. Edgar berbalik jalan ke arah kami dan bilang, ‘Udah, Bang. La Bitta kan?’

‘Katanya ke mana?’ tanya gue.

‘Di gang ini belok kanan, terus nanti lurus aja, pas ada apa gitu yang gede belok kiri.’

‘Yakin?’

‘Yakin, Bang.’ Edgar mengangguk mantap.

Mengikuti saran Edgar, kami berlima makin masuk ke jalanan Venezia. Gang-gang sempit kami telusuri kembali. Ada perasaan deg-degan masuk ke gang-gang ini karena di benak gue, gang seperti ini identik dengan sarang kejahatan. Bagaimana kalau ternyata di tengah-tengah gang ada perampok Italia yang menyergap kami berlima? Gue melihat ke arah adik-adik gue yang masih kecil-kecil dan perasaan gue semakin suram karena tahu jika terjadi tindak kejahatan, pasti mereka lari lebih cepat meninggalkan gue.

Memasuki sebuah gang setelah Jembatan Rialto, Ingga buka suara, ‘Bang, kok bau pesing, sih?’

Gue yang berjalan tepat di depan Ingga, mencoba mengendus-endus. ‘Ini pasti ada orang yang kencing di sini’

‘Hoooeeeek!’ seru Ingga, seperti hendak muntah.

‘Ingga! Jangan muntah! Nanti gang ini tambah bau! ‘

‘Bang, ini di mana?’ tanya Edgar, tiba-tiba.

‘Lah! Tadi kamu yang ngasih tahu jalan!’

‘Oh iya,’ kata Edgar.

“OH IYA, APAAN?!’ seru gue, sewot. ‘KITA DI MANA SEKARANG?’

Edgar menggeleng.

Gue berniat menghanyutkan Edgar ke kanal Kota Venice. Adik-adik gue mulai resah. Sekarang, kami berada di tengah-tengah Kota Venice, tanpa ada satu orang pun tahu harus pergi ke mana.

Di depan gue persis, ada tembok, lalu ada belokan ke kiri dan kanan. Gue menggaruk kepala, ‘Sekarang belok mana. nih?’

Tidak ada yang berani menjawab.

Gue menggoyang-goyangkan hape gue di udara, seakan-akan itu bisa membuat GoogleMaps kembali berfungsi. ‘Hadeuh, ini semua gara-gara GoogleMaps-nya mati, sih!’

‘Bang, tenang, Bang. Jangan frustrasi.’ kata Yuditha.

‘Tahu gitu dari awal biar Kakak Yudith aja yang ngasih tahu jalan, bukan Abang atau Edgar.’ kata Ingga.

Anggi menimpali, ‘Kakak emang lebih jago ngasih tahu jalan!’

‘Iya! Iya! Abang payah, sih!’ seru Ingga.

Kalau hal ini dibiarkan, maka bisa terjadi revolusi dan gue akan digulingkan kekuasaannya sebagai abang tertua.

‘Tenang! Tenang!’ seru gue, mencoba mengontrol situasi sebelum terjadi tindakan-tindakan anarkis. ‘Oke, di persimpangan ini,Yuditha, kita belok ke mana?’

Yuditha mengernyitkan alisnya, lalu berkata, ‘Coba belok kiri, Bang!’

Begitu belok kiri, kami masuk ke gang kecil lain yang lebih panjang, hanya tembok di kiri-kanan.

‘Mampus deh, nyasar lagi kita,’ kata gue. Lalu, gue menoleh ke Yuditha, ‘Tadi kenapa bilangnya harus belok ke kiri?’

‘Feeling aja, Bang.’ kata Yudith, kalem.

‘YE, INI KITA NYASAR JADINYA!’ seru gue,

‘Bang, ini di mana?’ tanya Edgar, lagi.

‘DIAM, EDGAR! KAMU TURUT BERTANGGUNG JAWAB!’ seru gue.

Kalau dihitung-hitung, perjalanan kami malam ini udah hampir memakan waktu satu jam sendiri. Kalau benar La Bitta tutup pukul sembilan malam, berarti tinggal sepuluh menit lagi waktu yang tersisa untuk bisa makan di sana. Selamat tinggal makanan enak khas Venice: bisato, baioli, atau pan del pescatore.

Setengah putus asa, gue melihat ke arah GoogleMaps, dan hampir bersorak gembira saat tahu bulatan biru di GoogleMaps, penanda posisi kami, kedap-kedip kembali. Hampir menangis terharu, gue menjerit, ‘GoogleMaps hidup lagi! Ini dia! Ternyata, udah deket kok!’

Gue menunjukkan jalan, mengikuti garis biru yang tertera di GoogleMaps, tanda jalan yang harus kami ambil.

‘Ayo! Jalan lebih cepat!’ seru gue, girang. ‘Tempatnya di balik gang ini!’

‘YEAAAAY!’ seru adik-adik gue.

‘Ini dia!’

Jeritan mereka perlahan reda saat kami semua menyadari, di depan muka hanya terdapat… tembok.

Udah. Gitu doang. Gue berdiri persis di tempat yang ditunjukkan oleh GoogleMaps, tetapi yang terlihat di depan muka gue adalah tembok superbesar.

‘Bang, ini kenapa cuma ada tembok?’ tanya Ingga.

‘lya! Kok tembok doang?’

‘Serius nih, Bang.’ Yuditha menggelengkan kepalanya. ‘Jadi dari tadi kita nyari jalan cuma buat ngeliat… tembok?

‘Bang, kita udah sampe ya?’ tanya Edgar, lagi-lagi tidak nyambung.

Gue memegang tembok itu dengan tidak percaya.

‘Gak mungkin, ini gak mungkin.’ Gue menutup mata dengan kedua tangan. ‘Seharusnya tidak ada tembok di sini! Seharusnya ada restoran bernama La Bitta, kayak yang ada di peta dan kayak yang ada di wikitravel!’

‘Tapi, Bang….’

‘Gak mungkin!’ jerit gue, dramatis.

‘Bang,’ kata Yuditha. ‘kayaknya rekomendasi restoran yang Abang baca udah lama gak di update deh. Ini… tempatnya… udah ditutup’

‘Tidaaaaaaaaaaaaak!’ jerit gue, lengkap dengan kamera mengambil gambar dari atas berputar-putar.

Setelah gue bisa menerima kenyataan, kami semua beranjak pulang ke hotel dengan lesu. Gue udah sangat kelaparan, adik-adik pun juga. Semakin kami melangkah, semakin adik gue menjerit-jerit minta makan. Sebelum mereka saling memangsa satu sama lain, gue memutuskan untuk berhenti di sebuah restoran kecil di pinggir kanal dekat jalan pulang ke hotel.

Di restoran ini, kami memesan menu yang ada. Ternyata, rasanya benar-benar enak! Entah karena memang benaran enak atau gara-gara rasa lapar yang begitu hebat karena kalori untuk marah-marah dan mencari jalan. Edgar selamat malam itu.

Pesan Moral: Proses mencari makanan yang enak adalah petualangan yang tidak kalah nikmat. Kalau memang GoogleMaps mati di tengah jalan, jangan langsung percaya sama adik bungsu seperti Edgar yang kurang cerdas. Lalu, jika kita beruntung, dengan berani mencoba tempat makanan yang kita temukan di tengah jalan, bisa jadi rasanya malah jauh lebih enak dari tempat yang kita tuju.

Raditya Dika
Buku: Manusia Setengah Salmon

Iklan

Video Normantis

KARYA TERBARU

EDISI SPESIAL HARI KEMERDEKAAN REPUBLIK INDONESIA

Masukkan alamat Emailmu.

Bergabunglah dengan 4.156 pengikut lainnya

Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: