Iklan
Normantis Update

Cerpen WS Rendra: Orang-Orang Peronda

Karya: WS Rendra

Orang-Orang Peronda - Puisi WS Rendra

ORANG-ORANG PERONDA
Karya: WS Rendra

       Lagu-lagu Ludruk — semacam sandiwara ketoprak dari Surabaya — sekarang sangat populer di kampungku. Lagu itu semacam pantun. Anak-anak kecil dan orang-orang dewasa banyak menyanyikannya. Tunggulah nanti tengah malam, akan terdengarkan suara suling melagukan lagu itu dengan dibarengi suara orkes kentong. Dan, itulah orang-orang peronda di kampungku. Setiap jam sesudah tengah malam berkeliling kampung dengan memukuli kentang secara berirama dan pada menambang sesuka hati. Ada juga yang berteriak membangunkan orang- orang: Lir, Lur! Lir, Lur! (Bangun, Teman! Bangun, Teman!). Satu kali seorang temanku yang kebetulan waktu itu sedang tidur di rumahku, terkejut oleh teriak-teriak orang-orang peronda itu dan bangun dengan segera.

       “Ada apa? Ada apa ini?”
“Tidak apa-apa,” jawabku menyabarkan, “cuma orang-orang peronda.”
        “Ada maling?”
“Tidak”
        “Habis, mengapa teriak-teriak begitu?”
“Menyuruh kita berjaga.”
        “Jadi, akan ada maling?”
“Tidak, Kalau mereka tidak membangunkan, orang tidak percaya mereka telah betul-betul meronda. Sedang orang telah mengeluarkan iuran untuk ongkos perondaan.”
        “Kalian bayar uang untuk diganggu tidur kalian tiap malam?”
“Kami tidak merasa diganggu. Kami cuma dijagakan sebentar untuk mendengarkan lagu-lagu kentong, sudah itu tidur lagi menikmati lagu itu. Apanya yang mengganggu?”
        “Hm, aku merasa diganggu.”
“Hahaha, tak ada perondaan di kampungmu?”
       “Dulu, di zaman ‘siap’. Sekarang sudah tidak ada. Lagi pula, tak ada kentong ribut dan teriak-teriak begitu.”
        “Kasihan. Tidurlah lagi.”

       Begitulah, kerap kali para tetamuku yang bermalam di rumahku sering menanyakan hal orang-orang peronda itu.

       Biasanya orang-orang peronda itu ada tujuh orang. Tiga orang peronda tetap yang menerima upah bulanan dan empat orang lagi peronda giliran. Empat orang demi empat orang para penduduk kampung bergiliran menerima tugas beronda. Mulai dari penduduk yang termiskin sampai pada yang terkaya. Kalau ada yang berhalangan datang (bentuk halus dari berkeberatan datang), tugas peronda itu bisa diwakilkan dengan memberikan uang Rp200 sebagai pengganti jerih payah pada yang mewakilinya itu. Selamanya akan ada pengganti-pengganti upahan itu. Yaitu penduduk-penduduk miskin seperti tukang Satai, sopir-sopir becak, penjual rokok, dan lain-lain. Mereka bergirang hati mendapat tambahan penghasilan.

Iklan

Masukkan alamat Emailmu.

Bergabunglah dengan 4.082 pengikut lainnya

1 Comment on Cerpen WS Rendra: Orang-Orang Peronda

  1. Reblogged this on Puisi W.S. Rendra and commented:

    normantis.com

    Suka

Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: