Normantis Update

Lebih Baik Sakit Hati (Daripada Sakit Gigi) – Raditya Dika

Karya: Raditya Dika

Setelah menyiapkan mental kembali, gue masuk ke ruang tunggu dokter gigi. Hal yang pertama kali gue lihat adalah Dokter Nuri lagi makan rujak. Sedikit kepedasan dia bilang ‘Loh? Shhh… Raditya, kamu shhhh… sudah datang?”

‘U-udah, Dok,’ kata gue.

‘Duh, ini rujak pedas banget.’ Dia mengambil satu gelas air.

Gue duduk di sofa depannya. ‘Ini gak papa, Dok, kalo makan rujak dulu sebelum operasi gigi saya?’

‘Ya ampun kamu santai aja! Emang bakalan kenapa?’

Bener juga, sih, apa kemungkinan terburuk yang bakal terjadi kalau seorang dokter gigi makan rujak sebelum operasi? Palingan juga mencret-mencret di tengah-tengah operasi.

‘Kamu mau rujak?’ tanya Dokter Nuri ke gue.

‘Enggak, Dok. ‘Makasih.’

Setengah jam kemudian, gue mendapati diri gue di ruang operasi. Leher gue tegang. Mulut gue mangap. Mata gue melotot. Gue persis kayak ikan mas lagi kaget.

Dokternya geleng-geleng. ‘Santai aja, Raditya!’

Gue narik napas dalam-dalam dan ngelemesin otot-otot muka.

‘Gitu dong.’ kata dokter.

Dia lalu mengeluarkan satu alat suntik besar.

Gue melotot lagi.

‘Ya ampun,’ Dokter Nuri kembali geleng-geleng.

‘Raditya, kalau kamu takut sama jarum suntik, kita bisa pakai cara lain untuk membuat gusi kamu mati rasa. Tanpa suntikan.’

‘Serius, Dok? Gimana caranya?’ tanya gue.

Dokter Nuri berkata mantap, ‘Dengan hipnotis.’

‘Serius?’

‘Serius. Namanya hypnoanaesthesia. Ini praktik yang sudah mulai lazim di dunia dokter gigi. Saya akan memberikan kamu sugesti, menghipnotis kamu. Lalu kamu bisa gak ngerasa gusinya sedang dioperasi.’

Ini kenapa dokter gue jadi kayak Uya Kuya begini? Gue ngebayangin Dokter Nuri beneran menghipnotis gue. Lalu, di saat operasi, gue akan cerita tentang rahasia gue persis kayak di program Uya Memang Kaya. Dokter Nuri mungkin selanjutnya akan memanggil pacar gue, gantian menghipnotis dia, dan ternyata terungkap pacarnya dia ada lima.

‘Enggak deh, Dok, mendingan disuntik aja deh. Yang aman-aman aja.’

‘Ya udah.” Dokter Nuri mengangkat bahunya.

‘Terserah kamu aja.’

Seorang suster melumuri area di sekitar bibir gue dengan betadine. Dokter Nuri mencari-cari tempat yang enak di gusi gue untuk disuntik. ‘Sebentar lagi, saya suntik ya gusi kamu.’

‘O-oke, Dok.’ Gue menelan ludah. Sampai saat ini, entah udah berapa kali gue menelan ludah, mungkin perut gue kembung berisi ludah.

Persis sebelum suntikannya mengenai gusi, gue teriak, ‘Dok, Dok, sebentar, Dok!’

‘Kenapa? Ada yang kamu mau omongin sebelum operasi?’ tanya Dokter Nuri.

Gue berpikir untuk mengulur waktu dan bilang,

‘Iya. Dokter pernah dengar cerita Alladin? jadi gini, pada suatu hari….’ Ketika gue selesai cerita, siapa tahu hari sudah sore dan operasi tidak jadi dilakukan. Tapi, pada akhirnya gue cuma bilang, ‘Enggak, Dok. Langsung operasi aja.’

‘Tarik napas….’

Gue menarik napas.

‘Buang….’

Gue kentut sedikit.

‘Buangnya lewat idung?’ seru si dokter.

‘A-aku tegang, Dok.’ kata gue, jujur.

‘Lagi ya. Tarik… buang, tarik, buang… sekarang tarik panjang!’ kata Dokter. Persis saat gue menarik napas panjang, dia menyuntik gusi gue dengan Zat anastesi. Anehnya, suntikannya jadi gak begitu kerasa.

Dokter memuji, ‘Bagus’

Setelah beberapa kali dia menyuntik gusi gue dengan cara yang sama, dia lalu menaruh suntikannya dan menunggu gusi gue kebal semuanya. Sambil menunggu, dia bilang, ‘Teknik suntikan yang saya pakai tadi, dalam dan langsung menusuk syaraf kamu. Udah mulai berasa belum?’

‘Udah, deh, Dok, kayaknya.’

‘Nah, kalo kamu rasain ya, rasa kebalnya bisa sampai ke gigi-gigi depannya. Berarti kalau kamu mau, saya kasih bonus cabut satu gigi bisa tuh.’

‘Maksudnya?’

‘Iya, jadi kalo gigi kamu yang di sekelilingnya mau dicopotin juga bisa loh.’

‘JANGAN, DOK!’

Setelah membelek gusi gue, selanjutnya Dokter Nuri mengeluarkan semacam alat bergerigi kecil. Gue gak tahu apa yang akan dia lakukan selanjutnya, tetapi gak akan ada hal yang enak dengan alat bergerigi. Dokter Nuri menyalakarmya, lalu pelan-pelan mendekatkan alat itu ke mulut gue yang terbuka lebar.

Di saat itu gue berpikir, ‘Inilah saatnya. Inilah. Tuhan, ampuni semua dosaku.’

Alat bergerigi itu digunakan Dokter Nuri untuk membelek gigi gue. Bunyinya persis kayak di film-film thriller. Bunyi decitan besi tajam yang bersentuhan dengan gigi. Gue cuma bisa melotot sambil menaikkan alis. Dan, nggak beda jauh kayak di film-film, kenangan-kenangan lama muncul sekelebat demi sekelebat di benak gue.

Waktu terasa berlalu begitu lama, tetapi operasi gigi impaksi gue akhirnya selesai. Total waktu yang gue habiskan di dalam ruang operasi itu sekitar satu jam. Gue keluar dari ruangan dokter gigi dengan perasaan senang. Mungkin karena pengaruh obat bius masih bekerja. Tapi, pas sampai di kasir, gue sempoyongan. Mata gue berkunang-kunang. Gue mau pingsan. Bukan karena obat biusnya habis, tetapi karena melihat mahalnya harga operasi tersebut.

Sesampainya di rumah, gue mengurung diri saja di kamar. Pengaruh obat bius semakin hilang dan bekas operasi pun semakin sakit. Malamnya, pembantu gue datang ke kamar. Dia mengantarkan makan malam, bubur jepang yang sangat halus. Gue menolak makanan itu.

‘Masih sakit banget, Mbak. Aku gak bisa makannya.’ kata gue.

‘Emang sakit banget ya, Bang?’

‘Banget.’

‘Gak papa, Bang, kan tandanya udah gede.’

Lucu juga bagaimana pertumbuhan gigi menandakan pertumbuhan kita sebagai manusia. Gigi susu yang tanggal menandakan kita sudah tidak anak-anak lagi. Sementara, gigi bungsu yang tumbuh belakangan, menandakan bahwa kita sudah dewasa.

Gue jadi berpikir, tumbuh dewasa memang menyenangkan, tetapi tumbuh dewasa juga harus melalui rasa sakit-sakit ini. The pains of growing up. ‘Pindah’ menjadi dewasa berarti siap menghadapi rasa sakit dan melihat hal-hal yang menyakitkan itu sendiri: hadir di pemakaman nenek-kakek, rasa sakit karena gagal masuk ke sekolah yang kita mau, atau rasa sakit lantaran geraham bungsu yang tumbuh.

Atau, kalau kata nyokap gue: salah satu tanda orang sudah dewasa adalah ketika dia sudah pernah patah hati.

‘Gigi pasti sakit kalau abis dioperasi gitu, Bang!’ Pembantu gue, masih di dalam kamar, mencoba menghibur. ‘Tapi, pasti lebih sakit sakit hati kan, Bang? Hihihihihi.’

Gue cuma bisa mendengus, lalu kembali membalikkan badan di atas kasur. Orang yang bilang lebih baik sakit gigi daripada sakit hati, pasti belum pernah sakit gigi. Dan, orang yang belum pernah sakit gigi, belum tahu rasanya jadi dewasa.

RADITYA DIKA
Buku: Manusia Setengah Salmon

BERANI NONTON VIDEO NORMANTIS? KLIK AJA!

KARYA TERBARU

Masukkan alamat Emailmu.

Bergabunglah dengan 1.783 pengikut lainnya

Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: