Normantis Update

Lebih Baik Sakit Hati (Daripada Sakit Gigi) – Raditya Dika

Karya: Raditya Dika

MASALAH mulai timbul bertahun-tahun setelah gue lepas behel. Pada manusia dewasa, akan tiba saatnya geraham bungsu tumbuh. Geraham bungsu adalah geraham yang tumbuh di keempat pojok belakang rahang atas dan bawah pada saat usia 17-30 tahun. Munculnya juga pelan-pelan, sedikit demi sedikit merobek gusi sampai akhirnya geraham tersebut muncul dengan sempurna. Dengan kata lain… sakit nyet.

Geraham bungsu gue pertama muncul di rahang kanan atas. Geraham itu munculnya perlahan-lahan, tidak ada masalah yang berarti kecuali kadang-kadang sakit. Geraham kedua muncul di rahang kiri atas. Seperti yang sebelumnya, munculnya juga baik dan tidak terlalu sakit. Selang beberapa tahun berlalu, giliran geraham kanan bawah yang muncul keluar. Kali ini, meskipun awalnya gak sakit…, tapi sekeliling gigi gue terasa gatal. Lalu… lama-kelamaan… jadi sakit.

Karena gue orangnya cuek, rasa gatal dan sakit di geraham yang baru tumbuh itu gue biarin. Tepat dua hari sebelum Lebaran 2010, gatal dan sakitnya menjadi-jadi. Gue berpikir untuk pergi ke dokter, tetapi dokter mana yang buka dua hari sebelum Lebaran? Gue nelepon ke rumah sakit, seperti yang udah gue duga, dokternya cuti. Gue nelepon ke dokter gigi di dekat rumah, dia sudah mudik duluan ke kampungnya.

Gue mulai panik. Gue nyuruh pembantu nyariin dokter gigi di sekitar rumah yang masih buka, dia malah bilang, ‘Bang, kalau aku dulu pas masih kecil, giginya aku iket benang terus aku tarik di pintu.’

‘Mbak, itu kan gigi susu, yang gampang copot. Ini gigi bungsu, geraham pula. Pasti susah banget copotnya.’

Pembantu gue mikir bentar, lalu entah becanda entah hilang akal, dia bilang, ‘Kalo giginya keras dan susah, gini aja Bang… Iket pake benang terus ditarik aja pake mobil.’

‘Mbak,’ kata gue sambil menggeleng. ‘Itu, sih giginya mungkin copot, tapi rahangnya juga ikutan copot.’

Rasa frustrasi membuat gue melakukan tindakan ekstrem. Gue bertanya kepada followers di Twitter jika ada yang tahu dokter gigi yang buka hari itu. Bertanya pada Twitter adalah semacam perjudian, mengingat followers gue rata-rata rentan galau sehingga pertanyaan apa pun pasti ujung-ujungnya jadi galau. Gue pernah nanya di Twitter, ‘Berapa lama waktu yang gue perlukan untuk merebus telur?’ Ada yang membalas, ‘Selama hati aku menunggu dia, Bang,’ Maka, ketika gue nanya, ‘Ada yang tahu gak dokter gigi yang buka hari ini?’, tidak heran ada yang jawab ‘Gak ada, Bang. Tapi, hati aku selalu buka kok.’

Untungnya, ada satu follower yang waras, dia bilang baru saja pulang dari dokter giginya di daerah Kebayoran Lama. Guelalu menelepon ke dokter gigi tersebut. Beruntung, gue langsung dapat waktu janjian, dan bergegas ke tempat praktiknya, yaitu di rumah dokter itu sendiri.

Gue membawa mobil, mengikuti alamat yang gue catat di secarik kertas kecil. Pencarian tersebut membawa mobil gue masuk ke gang. Dari gang tersebut, gue berbelok ke gang yang lebih kecil hingga hanya muat satu mobil. Sebelah kiri-kanan mobil gue hanya berjarak sangat tipis dengan tembok yang membatasi gang tersebut. Meleng sedikit, mobil gue pasti lecet. Jangan-jangan, daerah ini lebih butuh lebih banyak bengkel dibandingkan dokter gigi.

Gue akhirnya tiba di depan rumah luas dengan plang besar bertuliskan ‘Dokter Gigi’. Gue membunyikan bel beberapa kali, ketika pembantunya keluar gue langsung bilang, ‘Mbak saya yang janjian dengan Dokter Johan.’

‘Silakan masuk, Mas.’ Lalu, setelah gue masuk ke teras, dia melanjutkan, ‘Tunggu sebentar aja.’

Tidak berapa lama kemudian, Dokter Johan keluar dari ruang praktiknya. Dokter Gigi Iohan masih muda, berambut cepak, dan berkacamata. Dia mempersilakan gue masuk ke ruangan praktiknya. Gue menceritakan keluhan gue, dia rnanggut-rnanggut sebentar, lalu memeriksa gigi gue dengan saksama.

‘Ini, sih karena tumbuh gerahamnya yang salah.’ Dokter Johan memiringkan kepalanya, untuk melihat geraham gue lebih jelas. ‘Makanya gigi kamu jadi gatal. Karena syaraf-syarafnya terganggu. Semakin lama kalau dibiarkan bisa menjadi semakin sakit.’

Gue menelan ludah. ‘Jadi… Gimana, Dok?’

‘Harus dicabut nih.’

‘Dicabut ya….’

Dokter Johan menatap tajam. ‘Kamu siap dicabut sekarang?

‘Sekarang juga, Dok?’

Dia mengangguk. Dokter Johan menyuruh gue membuka mulut dan memeriksagigi geraham yang ada di sebelah atas.

‘Wah, ini yang atasnya juga tumbuhnya gak beres. Harus dicabut juga nih. Kalau sekalian aja gimana?’

‘Maksudnya sekalian?’

‘Iya, hari ini saya cabut dua-duanya.’

Gue lalu berpikir, kalau gak cabut hari ini mungkin sewaktu Lebaran sakitnya akan lebih parah. Gue juga mikir, kalau sakit pas Lebaran mungkin akan lebih repot lagi. Akhirnya, gue memberanikan diri.

‘Ya udah, cabut aja, Dok, dua-duanya.’

Dokter Johan pun melakukan persiapan untuk mencabut gigi gue. Dia menyuntikkan zat anastesi ke gusi, lalu setelah gue merasa kebas dia mengambil tang dan menarik geraham bungsu gue. Ternyata, seluruh prosesnya terasa cepat dan tidak sakit. Gue menghela napas.

‘Ini satu.’ Dokter Johan menaruh gigi yang baru dicabut ke mangkok besi. ‘Satu lagi ya.’

Dia mengulangi prosedurnya. Dia sempat agak kesulitan mencabut gigi yang satu ini. Lalu, dengan tenaga ekstra, akhirnya gigi itu terangkat juga. Selanjutnya, Dokter Johan menyumpalkan kapas ke bekas kedua gusi yang dicabut tadi.

Gue baru akan bernapas lega, ketika Dokter Johan membuka penutup mulutnya dan berkata, ‘Geraham yang bisa saya cabut sudah saya cabut. Tapi, ada satu geraham bungsu yang tumbuhnya tidak benar. Yang satu ini harus dioperasi.’

‘Dhi… opheerashi?’ tanya gue dengan kapas masih tersumpal di mulut.

‘Iya, gigi geraham kamu yang sebelah kiri bawah ini tumbuhnya menabrak yang lain, jadi harus dioperasi. Saya enggak bisa operasi gigi, saya sarankan kamu pergi ke dokter bedah mulut. Pas udah sembuh aja.’

‘Okhee, Dhok.’

Gue pulang ke rumah, menyetir mobil gue dengan bekas darah yang mengering di samping mulut. Seiring dengan efek biusnya mau habis, seiring itu pula gusi gue mulai dari cenat-cenut ke jedar-jeder. Sakit banget. Rasanya kayak ngemut neraka.

Tiba-tiba, gue sadar kenapa Dokter Johan menyarankan gue untuk mencabut kedua gigi gue menjelang hari Lebaran: karena kalau gue kesakitan begini, dia bisa sekalian mohon maaf lahir dan batin. Pinter.

Beberapa jam kemudian, pengaruh obat biasnya habis. Inilah saat sesungguhnya semua penyiksaan dimulai. Rasa sakit dari luka gusi bekas gigi yang dicabut membuat gue gak kuat lagi. Gue cuma bisa tiduran dengan bantal di bawah muka. Setiap kali sakitnya memuncak, gue ngeremes bantal.

Pas malam harinya, Nyokap sampai di rumah. Dia masuk kamar dan melihat gue lagi tiduran. Dia bertanya, ‘Dik, Mama panggil-panggil kok gak jawab-jawab dari tadi?’

Gue masih diam saja.

‘Dik? Dik?’ tanya Nyokap, mendekati gue. Dia lalu menggoyang-goyangkan badan gue yang dari tadi enggak bergerak sama sekali.

Nyokap mendatangi gue, dia tampak benar-benar khawatir. Dia memandangi muka gue yang pipinya

membengkak dan ada sisa darah menempel di bibir. ‘Dika, kamu kenapa mulutnya berdarah-darah gitu?”

Gue diam, tidak mampu untuk menjawab.

‘Dika, jawab, Nak! Jawab!’

Gue masih diam.

‘Kamu kenapaaaa?!’

‘Abishhhh cabhut gighiii!’ seru gue, yang langsung diikuti oleh ringisan kesakitan. ‘Ghak bhisa nghomong bhanyak-bhanyak.’

‘Oh, kamu abis cabut gigi?’ tanya Nyokap.

‘Iyha.’

‘Berarti gak bisa ngomong banyak-banyak dong, kan lagi sakit? Bener gak?’

‘Iyha. Bhener.’

‘Ya udah, gak usah Mama ajak ngomong ya?’

‘Inhi dhari thadi udha nghajak nghomhong therus!’ seru gue. Dilanjutkan oleh jerit kesakitan, ‘Awwhhhh!’

‘Ya udah. Yau udah. Aduh, kamu nanti makannya gimana ya? Aduh, Mama gak masak apa-apa nih.’ Nyokap mulai panik sendiri. ‘Mama bikinin kamu makanan deh, Dika.’

Nyokap pergi ke bawah.

Tidak sampai setengah jam kemudian, Nyokap memanggil dari bawah untuk makan bersama di meja makan. Sesampainya gue di bawah, Nyokap menyodorkan satu mangkuk bubur kecokelatan. Dia menaruh sendok di pinggir mangkuknya dan menyuruh gue memakan bubur itu sampai habis.

Karena lapar, gue memaksa makan dengan susah payah. Mulut gue buka sedikit, sendok gue tempelkan ke ujung bibir, lalu gue sedot bubur cokelat itu. Pas gue makan buburnya, gue merasa ada campuran antara asin dan daging. Agak aneh, sih, tetapi lumayan enak. Gue bilang, ‘Inhi khok… enhak yha.’

Sementara itu, Edgar dan adik-adik gue yang lain makan satu piring nasi dengan ayam bakar dan lalapan.

‘Bang,’ kata Edgar. ‘Abang tau gak, bubur yang Abang makan itu kan ayam bakar yang Mama masak tadi sore, diblender sama nasi dan sayur.’

‘Di… blender? tanya gue.

‘Iya, diblender jadi nyampur semua gitu!’

‘HOEEEEEK.’ Gue melepehkan makanan yang lagi gue makan. Pantesan aja rasanya asin-asin gitu, pasti dari ayam bakarnya.

‘Lho kok dilepehin?’ tanya Nyokap, yang muncul dari dapur. ‘Mama pikir kamu susah makannya, jadi semua makanan yang ada di dapur Mama blender aja.’

‘Bhu… Bhur. Mhau bhubur,’ kata gue setengah memelas.

‘Bubur aja? Ya udah, kalo bubur gak ada ayam bakarnya loh. Pasti enakan makanan barusan.’ kata Nyokap.

BERANI NONTON VIDEO NORMANTIS? KLIK AJA!

KARYA TERBARU

Masukkan alamat Emailmu.

Bergabunglah dengan 1.783 pengikut lainnya

Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: