Iklan
Normantis Update

Sepotong Hati di Dalam Kardus Cokelat – Raditya Dika

Karya: Raditya Dika

BERANI NONTON VIDEO NORMANTIS? KLIK AJA!

SEPOTONG HATI DI DALAM KARDUS COKELAT
Karya: Raditya Dika

TIDAK banyak reaksi yang bisa diberikan oleh seorang cowok ketika sedang diputusin oleh pacarnya.

Padahal, prosesi pemutusan umumnya dimulai dari kalimat sederhana yang keluar dari mulut si cewek, ‘Kayaknya mendingan kita temenan aja’ Namun, kalimat sederhana itu tidak berakhir sederhana. Si cowok kebingungan harus merespons apa.

Kalau adegan putus ini ada di dalam sinetron bergenre drama, biasanya kamera akan di-close up tepat ke mata si cowok yang melotot. Adegan ini makin diperkuat dengan suara geraman si cowok yang ibarat manusia sudah tiga tahun susah buang air besar. ‘Mmmhh… Apaaahhhh?!’ Kamuh mau putusshhh?!’ Sementara di sinetron laga, biasanya si cowok melanjutkan adegan melotot tersebut dengan naik burung elang, lalu melawan naga.

Di kehidupan nyata, pada umumnya ketika cowok diputusin sama ceweknya, dia pasti akan setengah mati berusaha untuk gak nangis. Si cowok akan sedapat mungkin stay cool, supaya gak keliatan cemen. Harga diri lebih penting daripada sakit hati.

Hal yang sama juga gue rasakan ketika diputusin sama (mantan) pacar pada pertengahan 2009. Dia mengajak gue ketemu di sebuah café, setelah basa-basi beberapa menit, akhirnya kalimat itu muncul. Dengan tutur kata yang pelan, seolah-olah berhati-hati menjaga agar gue tidak menangis meraung-raung, dia bilang, ‘Kayaknya kita udah gak cocok. Kita putus aja ya?”

Gue diam.

Tentu gue kaget.

Gue punya dua pilihan di sini: 1) sok cool, atau 2) melakukan tindakan ekstrem, seperti lari ke luar café dan nyundul gerobak abang tukang gorengan. Gue memilih pilihan yang pertama karena di depan enggak ada abang gorengan.

Maka, dimulailah respons gue yang sok cool, yang sangat berbeda dengan apa yang ada di hati. Gue melihat ke arah pacar lalu bilang, ‘Maksud kamu? (dalam hati: SERIUS LOH?)

‘Iya, kita putus’

Gue menghela napas, menelan ludah, lalu mengulang pernyataan itu dengan nada bertanya, ‘Kita… putus? (Dalam hati: HAAAH?! YANG BENER NIH KITA PUTUS?)

“Iya, abis kita udah gak cocok lagi. Maaf ya, aku yakin kamu bisa nyari yang lebih baik dari aku’

‘Iya. Ya udah’ (Dalam hati: TIDDDAAAAAKKKK!)

Pacar gue, atau lebih tepatnya mantan pacar, memanggil pelayan, membayar bill, dan bilang, ‘Ya sudah… Aku pulang ya?’

Gue membalasnya dengan memperlihatkan senyum tipis dan menjawab, ‘Oke’ (Dalam hati menyanyi: Jangaaan beraakhirrrr… aku tak inginnnn berakhirrrr… satu jam sajaaaaaa….)

Lalu, dia pulang, meninggalkan gue di sana dengan segelas lychee iced tea yang belum diaduk. Gue menghela napas, menyandarkan kepala gue, lalu berpikir apa yang salah. Memang, sih, dalam beberapa bulan terakhir ini kami sudah mulai banyak gak cocok, berantem, dan sering salah paham. Tapi, gue gak menyangka bahwa semuanya akan berakhir seperti ini.

Tanpa penjelasan apa pun selain sudah tidak cocok.


Iklan

EDISI SPESIAL SUMPAH PEMUDA

KARYA TERBARU

Masukkan alamat Emailmu.

Bergabunglah dengan 4.244 pengikut lainnya

Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: