Normantis Update

Liburan Sekolah – Puisi Joko Pinurbo

Karya: Joko Pinurbo

LIBURAN SEKOLAH
Karya: Joko Pinurbo

(3)

Malam-malam aku disuruh Ibu membeli kerupuk di warung
seberang. Kerupuk, kata Ibu, bisa membuat meja makan yang dingin
dan nestapa jadi cerah ceria. Ibu suka kerupuk yang renyah dan seru
bunyinya.
           Di jalan remang-remang menuju warung aku berpapasan dengan
seorang adik kelasku yang parasnya lebih dari lumayan. Kami beradu
mata dan saling mengucapkan hai. Tatapannya telah mengobrak-
abrik kesunyian mataku. Sejenak kami berbasa-basi. Lalu malam
membimbing kami ke sebuah bangku di bawah pohon rambutan di
dekat warung.
           Kami berbincang hangat tentang seluk-beluk sekolah. Tentang
pelajaran matematika yang membosankan. Tentang awalah ber-
yang membingungkan. Juga tentang bu guru yang selalu bilang
astaga bila ada muridnya yang pecicilan.
           Aku pulang sambil bersiul sepanjang jalan. Tidak dengan
kerupuk, tapi dengan beberapa biji buah rambutan yang dipetik
adik kelasku itu dan diberikannya kepadaku, katanya untuk kenang-
kenangan.
           Malam berikutnya aku pura-pura mau beli kerupuk lagi, siapa
tahu bisa bertemu kembali dengannya. Ah, terlambat. Kulihat ia
keluar dari warung bersama entah siapa. Mereka jalan bersama
dengan mesra sambil ketawa-ketawa. Aku bengong, terpana. Ia
menolah ke aku, matanya melirik dengan cemerlang, tapi tatapannya
tak sanggup lagi menembus mataku, bahkan senyum manisnya telah
mengubah hatiku menjadi sebongkah bara. Lelaki sepantaran aku
di sampingnya juga menoleh, tersenyum, menganggukkan kepala,
tapi aku keburu balik kanan, pulang. Pulang dalam bimbang. Aku tak
tahu apakah itu yang namanya cinta monyet. Sedikit cintanya, lebih
banyak nyometnya, dan akhirnya hanya tinggal nyemotnya.
           Menjelang tiba di rumah, kutemukan sajak Chairil berceceran di
pinggir jalan. Kungungut dan kumasukkan ke saku celana.
           Di atas meja belajarku ada gambar Chairil sedang merokok
dengan mata disipit-sipitkan. Gayanya tampak agak dibuat-buat,
tapi cukup keren juga. Aku segera mengambil kepingan-kepingan
merangkainya menjadi sebuah kalimat: Ah hatiku yang tak mau
memberi, mampus kau dikoyak-koyak sepi.

BERANI NONTON VIDEO NORMANTIS? KLIK AJA!

KARYA TERBARU

Masukkan alamat Emailmu.

Bergabunglah dengan 1.769 pengikut lainnya

Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: