Normantis Update

Esai Cak Nun: Kabar Terakhir Hanya Maling

Oleh: Emha Ainun Nadjib (Cak Nun)

Tetapi, ongkos-ongkos harus dan sebagian sudah kita bayar: tidak sedikit anak-anak kita kehilangan pegangan. Apa pun, pegangan ekonomi untuk jaminan makan perutnya, pegangan sosial untuk status keberadaannya, serta pegangan yang lebih mendalam: jiwa keagamaannya, jiwa moral, jiwa kemanusiaan. Untuk desa saya itu tidak terlalu menggenggam kesalahannya sendiri seratus persen. Sekian puluh persen lainnya dianugerahkan oleh ‘ibu’ yang melahirkannya.

Salah seorang dari maling yang tertangkap itu adalah anak umur belasan tahun, bekas teman sekelas adik saya yang kini duduk di kelas II SMP. Salah seorang lainnya yang merupakan pentolan maling-maling itu, yang sudah merambah daerah-daerah bermacam-macam ‘njajah dsa milangkori’, tak lain adalah teman sekolah saya di madrasah dulu. Teman mengaji di surau. Teman main terbangan, samrohan, teman tidur tiap malam di Surau, yang selama itu saya tahu persis ia tak punya bakat untuk menjadi maling.

Sekarang ia bukan jadi sekadar maling, tapi dedengkotnya. Saya kaget. Saya ingin sekali ketemu dia dan mengobrol panjang dengannya.

Maling tentu saja bersalah. Tetapi kemalingan seseorang tidak identik dengan keseluruhan dirinya. Unsur malingnya sajalah yang salah. Tetapi hukum tidak bisa mengadili unsur malingnya itu belaka. Pengadilan hukum menyangkut diri seseorang secara utuh. Maling itu pun, sebagai seseorang, mempertanggungjawabkan kemalingannya sebagai seseorang yang utuh. Tetapi, siapakah gerangan seseorang yang utuh? Seorang anak yang hanyut di arus deras sungai, terdampar ia di sebuah tepian dalam keadaan lapar: diambilnya buah mangga yang terletak di atas tebing sungai, dimakannya. Ternyata mangga itu milik seseorang. Apakah gerangan pengertian dan makna keutuhan sang anak ini? Ia utuh dengan dirinya sendiri. Tapi ia utuh juga dengan arus sungai yang menghanyutkannya. Utuh juga dengan rasa lapar yang tak dikehendakinya sendiri. Utuh juga dengan mangga yang menitikkan air liurnya.

Alangkah lemahnya hukum. Kita hanya mampu mengadili maling-maling. Kita tidak mampu dan secara formal tidak sah mengadili ‘ibu’ yang melahirkan kemalingan seseorang. Bahkan, kita adalah pendorong aktif dari lingkungan, sistem, jaringan dan proses yang memproduksi maling-maling.

Manusia tidak mampu menguasai keseluruhan dirinya. Kebudayaan tidak mampu menguasai seluruh keberadaannya. Kita hidup dalam rumah-rumah, kubu-kubu: karena itu kita bikin tembok dan kita tutup pintu-pintu. Tak bisa tidak. Banjir datang, menggenang di atas lantai: kita kutuk sang air.

Emha Ainun Nadjib (Cak Nun)
Buku: Indonesia Bagian dari Desa Saya

BERANI NONTON VIDEO NORMANTIS? KLIK AJA!

KARYA TERBARU

Masukkan alamat Emailmu.

Bergabunglah dengan 1.752 pengikut lainnya

Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: