Normantis Update

Esai Cak Nun: Kabar Terakhir Hanya Maling

Oleh: Emha Ainun Nadjib (Cak Nun)

Masyarakat saya sangat heterogen. Terutama pada sudut Stratifikasi sosial ekonominya, kadar kehidupan keagamaannya; di samping ada ‘sejarah’ khusus yang dimilikinya. la bisa menjadi contoh bagi imaji jombang sebagai “daerah para Kiai sekaligus para maling”. Ia merupakan suatu ‘uniqum’ yang spesifikasinya menonjol, dan ini merupakan alasan yang khusus bagi para maling untuk ‘mendendam’.

Letaknya yang tidak langsung bertetangga dengan desa-desa lain, membuat pertumbuhannya lebih menyendiri. Secara global masyarakat desa ini memiliki ‘watak dan gaya’ yang berbeda dengan masyarakat desa lainnya. Mereka tidak ‘ndeso’ betul, tapi juga tidak cukup ‘kota’. Kemandirian itu dijastifikasi selama dekade-dekade dulu oleh mekanisme perguruan silat, yang meletakkannya dalam suatu fanatisme lokal, yang untuk beberapa lama ‘beradu’ dengan posfanatisme sebuah desa lain yang cukup jauh.

Kebetulan pula dari tahun ke tahun desa ini melahirkan pemuda-pemudi yang secara kuantitatif maupun kualitatif kelihatan berlebih, atau setidaknya berbeda dengan desa lain. Sekolah maupun pendidikan nonformal diusahakan sendiri sejak semula, tanpa kenal Inpres-inpresan sampai kini. Olahraga boleh dibilang paling maju dan paling banyak mengenal cabang-cabang olahraga, sehingga cenderung kurang disenangi oleh desa-desa lain.

Itu semua menumbuhkan gejala superioritas, yang intern maupun ekstern bisa membahayakan. Semua tetangga jadi ingin ‘menaklukkan’-nya, grup-grup olahraga ingin mempecundanginya, maling-maling secara emosional ingin merobek pertahanannya.

Sementara itu, di dalam desa sendiri ada dua tingkatan masyarakat. Di satu pihak ada kelompok yang ‘maju’ baik tingkat pendidikannya maupun ke-‘modern’-annya, bahkan terutama intensitas keagamaannya, dibandingkan kelompok lain yang umumnya tinggal di daerah pinggiran. Kelompok pinggiran ini sendiri kini terbagi secara mencolok menjadi satu bagian yang ‘kaya’ dan bagian lainnya yang dari hari ke hari tetap miskin juga. Tetapi ‘kelompok’ tengah pun memiliki tidak sedikit pemuda-pemudi yang tanggung sekolahnya, tanggung pula posisinya di tengah masyarakat.

Kesenjangan antara kelompok kaya dan kelompok miskin merupakan sebab yang paling langsung dari shock masyarakat, dalam mana pencurian-pencurian di atas gampang diindikasikan. Sebab ternyata beberapa dari pencuri itu adalah warga desa itu sendiri, yang sehari-harinya memang bagaikan bertempat tinggal di luar percaturan pergaulan desa.

Apalagi orang-orang kaya zaman sekarang lain dengan dulu. Ketika saya masih kecil, saya tahu Haji Ajis kaya raya dari opini umum bahwa duit Wak Haji itu ada ‘lima bonang’ banyaknya. jadi bukan terutama dari rumahnya yang gedongan, sebab ada juga orang-orang desa lain yang rumahnya gedongan, tapi uangnya tidak sampai ‘lima bonang’, jadi tergolong kaya. Tetapi, zaman kini lain halnya. Kekayaan adalah suatu ekspresi terpenting yang tak boleh disimpan di laci. Orang-orang kaya, bahkan yang sebenarnya tidak cukup kaya, muncul secara demonstratif. Pemugaran rumah, dari model tradisional ke modern, dengan warna-warni, kaca, televisi, motor serta simbol-simbol status lainnya, mesti dipertontonkan sedemikian rupa di depan hidung masyarakat. Siapa tak panas dibikinnya. Efeknya untuk air liur masyarakat pun makin tegas jadinya. Ini menumbuhkan suatu situasi kultur, yang pada akhirnya melandasi perkembangan keadaan seperti terurai diatas. Terjadi benturan, atau untuk sudut pendekatan lain justru ketidaksinambungan, antara kondisi si ekonomi seseorang yang tidak memadai, dengan godaan-godaan kemewahan yang dahsyat di depan kelopak matanya. ‘Mripat’ masyarakat sekaliannya tertancap ke impian-impian mewah tersebut. Tidak bisa tidak, semua orang mesti berlomba untuk bisa juga menggapainya. Dua watak zaman: tidak cukup hanya kaya, tapi mesti cepat-cepat mencapainya. Apa pun caranya. Apa pun jalannya.

Sementara itu, desa tidak ditumbuhkan untuk makin siap menciptakan lapangan-lapangan kerja. Urbanisasi ke kota, kota besar sekalian, adalah satu-satunya pilihan yang terbaik di antara sedikit pilihan. Kota pun tidak senantiasa menjamin, sementara kalau toh dari segi sosial ekonomi kota memang sedikitnya mampu menjanjikan harapan yang lebih cerah dibandingkan desa, ia akan memberikan hal-hal lain kepada manusianya. Ongkos-ongkos kebudayaan, efek-efek, sertaan baru yang bisa dibilang lebih negatif daripada positif, arus baru, misalnya (betapapun terasa ‘snob’-nya untuk disebut): demoralisasi.

Dalam keadaan itu, ada satu sisi yang kurang subur bertumbuh. Yakni, landasan-landasan spiritual, yang terutama ditentukan oleh intensitas mekanisme kehidupan beragama, mungkin juga oleh komitmen-komitmen kolektif lain yang merupakan pemelihara ‘peradaban’ masyarakatnya. Desa telah dimodernisasi dan itu berarti telah kita uraikan, kita cerai beraikan, lepas dari apakah kita mampu menyediakan gantinya atau tidak. Atau lepas dari konsep sikap apakah kita memang perlu menyediakan gantinya atau tidak.

BERANI NONTON VIDEO NORMANTIS? KLIK AJA!

KARYA TERBARU

Masukkan alamat Emailmu.

Bergabunglah dengan 1.748 pengikut lainnya

Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: