Iklan
Normantis Update

Esai Cak Nun: Kabar Terakhir Hanya Maling

Oleh: Emha Ainun Nadjib (Cak Nun)

BERANI NONTON VIDEO NORMANTIS? KLIK AJA!

Kabar Terakhir Hanya Maling - Esai Emha Ainun Nadjib (Cak Nun)

KABAR TERAKHIR HANYA MALING
Oleh: Emha Ainun Nadjib (Cak Nun)

Dari desa saya di pelosok jombang sana, kabar terakhir hanya maling. Pencurian-pencurian merajalela, kecil-kecilan sampai yang besar, bahkan rencana perampokan yang alhamdulillah bisa digagalkan. Seluruh lelaki desa, terutama kaum pemudanya, bangkit. Berjaga tiap malam, dengan senjata aneka ragam, ‘siap perang’.

Kehidupan desa makin keras!

Dalam jangka waktu dua minggu terakhir, sembilan pencuri berhasil dibekuk. Pertama empat orang sekaligus, kemudian empat lagi dan terakhir kosong. Setidaknya dari kesembilan bandit itu ada dua ‘pentolan’, sehingga tertangkapnya kedua jagoan ini menimbulkan amarah yang lain-lainnya. Nampaknya, mungkin saja mereka tergabung dalam suatu jaringan organisasi, atau setidaknya dalam jaringan kesetiakawanan yang luas. Maka, seluruh desa kini diancam terus-menerus. Realisasi ancaman itu hampir tiap malam muncul, meskipun tidak selalu dalam bentuk pencurian, melainkan sekadar pengacauan. Ancaman itu nampaknya tidak hanya tertuju pada harta-harta orang kampung, melainkan sudah terhadap nyawa-nyawa. Suatu balas dendam. Hal yang agaknya bisa menerbitkan emosi sikap para lelaki desa saya itu untuk  lebih bersikap frontal dan lugas memperlakukan setiap pencuri yang berhasil ditangkap.

Para wanita tidak berani keluar rumah sesudah magrib. Rasa wasa-was meluap dan pintu-jendela rumah segera tertutup rapat begitu senja turun ke bumi. Desa saya yang terpencil dikelilingi tidak oleh desa-desa lain, tetapi oleh sawah-sawah dan tanggul sungai, bagaikan seonggok makanan di tengah lapangan yang diancam keselamatannya oleh cengkeraman dari berbagai penjuru.

Beberapa lelaki yang rumahnya pernah menjadi korban, berdegam-degam dadanya untuk menghajar si maling. Seluruh desa dalam situasi was-was dan prihatin. Tetapi ada juga yang tenang-tenang berkata: “Syukurlah ada maling, sehingga ada sebagian dari harta orang kaya itu didermakan kepada orang lain, tidak ditumpuk di gudangnya sendiri saja”.

Apa sesungguhnya yang sedang terjadi?

Sejak dulu desa tak sedikit kebobolan maling. Tetapi kekerasan yang ini punya watak yang berbeda. ‘Perilaku’ desa bagaimanapun memang sudah berkembang sedemikian rupa.

Paling tidak ada tiga macam latar belakang yang menjadi ajang pertumbuhan situasi itu. Pertama, latar belakang khusus yang sifatnya lokal desa saya saja. Kedua, latar belakang sosial ekonomi. Ketiga, latar belakang yang lebih kompleks, yakni proses kultur masyarakat itu sendiri, yang saya kira terjadi juga dalam kelompok masyarakat desa- desa lainnya.

*

Iklan

KARYA TERBARU

Masukkan alamat Emailmu.

Bergabunglah dengan 4.223 pengikut lainnya

Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: