Normantis Update

Cerpen WS Rendra: Pertemuan Dengan Roh Halus

Karya: WS Rendra

“Endangl Endang! Dengarkan saya.”

“Ya, Manis-ku. Ya, Manis-ku,” kata gadis itu dengan lesu dan badannya dilunglaikan. Hasan memandangnya dengan tajam dan penuh dengan perbawa. Kemudian berkata dengan tenang.

“Siapa kau sebenarnya?”

“Endang, Manis-ku. Endang! Endang tunanganmu.”

“Kenapa kau masuk ke badan gadis ini?”

“Sebab, saya tak mau mati. Saya mati kecewa. Saya belum puas merasakan kehidupan.”

“Namun, kenapa lalu orang lain kau paksa, kau ajak menderita? Kau kejam. Kau tak punya belas kasihan. Kau hanya mementingkan dirimu sendiri.”

“Jangan berkata begitu, Manis-ku. Saya tersiksa sekali. Saya tak mau mati. Saya ingin bercinta lagi. Hasan maukah kau menolongku?”

“Tidak”

“Kau tidak kasihan kepada saya?” lengking gadis itu.

“Ya, kasihan.”

“Kenapa tidak mau menolong saya?”

“Karena kau keliru.”

“Keliru?” teriak gadis itu dengan suara yang aneh sekali.

“Ya, coba katakan, siapa namamu?”

“Endang.”

“Kau dulu tunanganku?”

“Ya”

“Kau pernah berpiknik dengan teman-temanmu naik gunung ini?”

“Ya”

“Lalu, apa yang terjadi?”

“Saya tergelincir,” kata gadis itu dengan menangis.

“Baik Lalu, apa yang terjadi dengan dirimu?”

“Saya jatuh tergelincir. Sakit sekali,” jerit gadis itu dalam tangisnya.

“Saya tahu kau tergelincir. Saya tahu kau jatuh ke dalam jurang. Saya tahu kepalamu pecah. Tapi, lalu bagaimana?”

“Lalu saya jatuh.”

“Jawablah pertanyaan saya. Hal itu lalu menyebabkan apa padamu?”

“Hasan ….”

“Jawablah! Jawablah bahwa kau lalu mati. Ya. Kau sudah mati.”

“Tapi, saya tak ingin mati.”

“Bukan kau yang menguasai hidup matimu. Yang memberi kematian ialah la yang memberi kehidupan.”

“Tapi, Hasan.”

“Tapi, kau tidak rela menerima nasibmu. Kau tidak menyadari keadaan.”

“Hasan, senangkah kau apabila saya mati?”

“Tidakl Tetapi, saya menyadari keadaan. Saya sedih bahwa kau telah mati. Saya tak bisa melupakan kenangan percintaan kita. Itulah sebabnya saya tak mau kawin sampai sekarang. Tapi, saya menyadari keadaan. Saya tidak ingin berbuat di luar kodrat.”

“Hasan, kau masih tetap mencintai saya?”

“Saya juga sangat mencintaimu. Saya ingin kau bahagia.”

“Tapi, kau telah membuat saya tidak bahagia.”

“Kenapa?”

“Karena kau sekarang mengecewakan saya  Saya ngeri melihat kekejamanmu sekarang. Saya ngeri melihat kau berbuat di luar kodrat. Saya menentangmu.”

“Hasan! Hasan!” lengking gadis itu.

“Tinggalkanlah gadis ini.”

“Tidak! Saya ingin hidup! Saya ingin melampiaskan kekecewaan saya.”

“Tapi, tidak begini caranya. Kau tidak adil. Apa kau tidak kasihan pada gadis ini?”

“Apa kau tidak kasihan pada saya?”

“Kau belum juga mengerti,” kata Hasan dengan pandangan tajam.

Tiba-tiba ia mengeluarkan pisau lipat yang berada di sakunya. Ia membuka pisau itu, kemudian bertanya.

“Kau masih ingat ibumu?”

“Ya Tentu saja. la sangat mencintaiku.”

Tiba-tiba gadis itu menangis dan berkata antara sedu sedannya.

“Ibuku sangat manis. Ia suka membuatkan penganan-penganan yang lezat bagiku. Kasihan ia sekarang sudah tua dan hidup sendirian saja.”

“Ibu! Ibu! Kau terlalu banyak menderita.”

Lalu, gadis itu menangis tersedu-sedu. Hasan bersuara lagi.

“Kau juga mencintai saya?”

“Tentu, Manis-ku! Saya sangat, sangat, sangat mencintaimu.”

Tiba-tiba ia mendekati ayah Fatima dan memegangi leher orang itu, kemudian bertanya.

“Kau lihat orang ini? Apa juga tidak kelihatan menderita? Lihatlah matanya yang penuh ketakutan dan kekecewaan ini. Lihatlah pisau di tangan saya. Saya akan menikam orang ini pada lehernya. Ia akan mati dengan penuh kekecewaan dan penderitaan. Kemudian biarlah nanti arwahnya tidak merasa puas dan biarlah arwahnya nanti mengikuti jejakmu untuk melampiaskan dendamnya. Biarlah ia nanti melampiaskan dendamnya dengan jalan masuk ke tubuh ibumu dan tubuhku. Kau ingin seperti itu? Bisa kau bayangkan apa yang terjadi nanti pada ibumu dan padaku?”

BERANI NONTON VIDEO NORMANTIS? KLIK AJA!

KARYA TERBARU

Masukkan alamat Emailmu.

Bergabunglah dengan 1.763 pengikut lainnya

Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: