Iklan
Normantis Update

Miss Bukan Ibu Guru – Norman Adi Satria

Opini

MISS BUKAN IBU GURU
Oleh: Norman Adi Satria

“Mengapa harus panggil ‘Miss‘, bukan ‘Ibu Guru‘?” pertanyaan itu meluncur begitu saja dari mulut saya sesaat setelah seorang guru TK mengajak anak pertama saya masuk ke kelasnya, “Ayo Nak, ikut Miss.” Wanita muda berjilbab itu hanya tersenyum mendengar pertanyaan saya, senyum keheranan yang disertai kerutan di dahinya.

Anak saya, Shalom, masuk ke kelas yang sudah dipenuhi anak-anak berseragam. Mereka sedang asyik menyanyikan tembang-tembang berbahasa Inggris. Ah, maaf, mungkin lebih tepatnya bukan tembang atau lagu, tapi “Song“. Ya, anak saya sedang diajak “sing a song” bukan “menyanyi” apalagi “nembang”.

Itulah kali pertama Shalom yang berusia 4 tahun menjajal bangku Taman Kanak-kanak, sekolah yang belum berganti nama menjadi Kindergarten, meski Ibu Gurunya telah berubah menjadi Miss. Setelah beberapa menit di dalam kelas, anak saya diantar keluar oleh Ibu Guru, ah, maksud saya Miss. “Sekolah asyik, kan?” kata Miss itu. Anak saya hanya mengangguk malu-malu.

“Wah, Shalom pintar, ga takut sekolah. Sekarang Shalom pamitan sama Ibu Guru, eh, maksudnya Miss.” kata saya. “Miss, Shalom pulang dulu ya. Besok sekolah lagi.” kata Shalom sembunyi di balik pantat saya.

Di atas motor Shalom berkata, “Pa, Shalom mau sekolah di situ. Missnya baik, teman-temannya juga.” Saya hanya bergumam, “Shalom nanti sekolahnya di TK yang panggil gurunya Ibu Guru aja, bukan Miss.” “Apa, Pa?” “Ah, enggak..”

Setelah mendatangi sepuluh sekolah, ternyata seluruhnya sama, para siswa menyapa gurunya dengan “Miss”. Padahal saya pikir, mungkin saja TK yang menyapa gurunya dengan “Ibu Guru” bakal lebih murah biaya sekolahnya. Atau jangan-jangan ‘Ibu Guru’ sengaja diubah menjadi ‘Miss” supaya terasa lebih elit dan dimaklumi bila biaya sekolahnya mahal? Bukan, bukan berarti saya perhitungan terhadap kebutuhan pendidikan anak saya. Bukan, sungguh bukan. Mahal pun tak apa, asal tak panggil Miss, tapi Ibu Guru. Mengapa? Karena anak-anak butuh belajar Indonesia, itu saja.

Bekasi, 24 Agustus 2014
Norman Adi Satria

Iklan

Masukkan alamat Emailmu.

Bergabunglah dengan 4.082 pengikut lainnya

Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: