Iklan
Normantis Update

Ketiak Nenek – Puisi Norman Adi Satria

Karya: Norman Adi Satria

BERANI NONTON VIDEO NORMANTIS? KLIK AJA!

Ketiak Nenek - Puisi Norman Adi Satria

KETIAK NENEK
Karya: Norman Adi Satria

“Cu, nenekmu itu seorang pejuang,” ucap Kakek
“lihat saja fotonya, ketiaknya pasti selalu basah.”
Kakek menunjuk ketiak Nenek saat berfoto bersamanya
di atas vespa yang kini sudah jadi barang antik, begitu klaimnya

Kakek selalu marah saat Ayah berniat membuang motor tua itu
karena di mata selain kakek, vespa itu hanyalah rongsokan berkarat
yang tak lagi sedap dipandang dan hanya menuh-menuhi tempat.
“Kau tak tahu bagaimana sengsaranya Bapak kredit vespa itu!
Dan apa kau lupa, dulu Bapak antar sekolah kau dengan itu?”
kurang lebih begitulah omelannya ketika vespa itu nyaris diangkut tukang loak
parahnya, cuma laku ditukar dua ekor anak ayam dan beberapa bungkus abu gosok pula

“Jangan lihat vespanya. Lihatlah nenekmu.
Dia sudah jadi antik dan tidak pernah akan terganti.
Berani Ayahmu menukarnya dengan abu gosok?
Hehehe, tidak akan pernah!
Lihat, lihat, ketiaknya selalu basah.
Di ketiak itu Ayahmu pernah sangat nyenyak tidurnya
bahkan sampai lupa sedang merengek minta beli burung dara.”
ucap Kakek dengan bangga.

“Ketiak basah itu tanda kalau Nenek seorang pejuang, Kek?” tanyaku polos.
“Betul. Dan kelak, carilah jodoh seperti nenekmu: yang ketiaknya selalu basah.”
“Oh, basah karena perjuangan? Tapi apa yang diperjuangkan oleh Nenek? Kemerdekaan?”
“Bukan. Nenek tidak pernah ikut perang melawan Belanda dan Jepang.
Ketiak nenekmu selalu basah karena berjuang mendapatkan cinta Kakek…”
ucapnya sambil tertawa, hingga nampak jelas giginya tinggal dua.

“Berjuang mendapatkan cinta siapa?!”
tiba-tiba Nenek muncul dari balik pintu membawa tentengan belanja.
“Eh, udah pulang… Kirain ke pasarnya masih lama… Hehehe…”
jawab Kakek, garuk-garuk kepala.
“Mesti kakekmu cerita yang aneh-aneh ya? Jangan dipercaya.” ujar Nenek.
“Engga… Cuma cerita soal ketiakmu itu loh… Dulu kan selalu basah…” sambar Kakek.
“Ya selalu basah lah! Wong tiap kali vespanya mogok, aku yang kamu suruh ndorong!”

Buru-buru Kakek menyeret tanganku
“Kita nangkep capung lagi aja yuk!” ajaknya.
“Ayo, Kek…” jawabku.
“Jangan kelamaan, ntar encoknya kumat lagi!” omel Nenek.
“Oke, sayang.”
“Sayang, sayang! Wuuu, ganjen…!”

“Jadi, ketiak Nenek itu selalu basah karena
berjuang mendapatkan cinta Kakek atau karena ndorong vespa?” bisikku.
“Husss….! Jangan berisik…! Ntar capungnya kabur!” jawab Kakek.
“Ndorong vespa!” teriak Nenek dari balik jendela.
“Tuh kan, kabur capungnya….”

Bekasi, 28 Desember 2016
Norman Adi Satria

Iklan

EDISI SPESIAL SUMPAH PEMUDA

KARYA TERBARU

Masukkan alamat Emailmu.

Bergabunglah dengan 4.244 pengikut lainnya

Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: