Normantis Update

Cerpen WS Rendra: Ia Teramat Lembut

Karya: WS Rendra

Keduanya tak pernah cocok. Di balik kediamannya Joko mengandung kebencian yang amat sangat kepada Bagyo. Dan, Bagyo tak pernah menunjukkan sikap membela atau menolong Joko yang lemah, malahan kerap kali menggoda atau mengejek. Setiap kali ia berhasil menggodanya, ia tertawa dengan kurang ajarnya.

Bibit pertama dari ketidakcocokan mereka berdua terjadi ketika pada suatu kali Bagyo meminjam uang

Joko untuk suatu keperluan. Lama sekali ia “lupa” mengembalikan. Saya yang tahu, bahwa terhadap seorang anarkis tak perlu segan-segan dan sopan-sopan bicara, setengah bergurau menegur dia.

“He, apa kau pikir kau tak perlu mengembalikan uang Joko? Kasihan dia, ia jauh famili.”

Akan tetapi, Bagyo di depan Joko dengan berani berkata, “Saya kira Joko telah melupakan itu. Betul, Joko, kau butuh uang? Bilang, dong, kalau butuh. Nanti saya beri habis bulan ini. Tapi, saya kira kau tak butuh. Betul tidak?”

Tentu saja Joko tidak menjawab, ia hanya tertawa-tawa masam. Dan, bagi Bagyo ini berarti, bahwa uang itu tak usah dikembalikannya. Saya tahu benar, dari raut mukanya mula-mula, Joko sangat terkejut dan heran ada orang bisa senekat itu. Kemudian sejak itu pandangannya terhadap Bagyo jadi sangat rendah. Dan, sekarang apabila Bagyo minta apa-apa kepadanya selalu di-lulu-nya. Artinya dibiarkan saja apa maunya. Malah agak berlebih-lebihan, tetapi sebenarnya maksud dalam hatinya sebaliknya.

Misalnya Bagyo pernah berkata, “He, Joko, rupanya ada dua pensilmu? Saya minta satu, ya?”

“Ambillah ini. Apa tidak perlu setip juga?”

“Apa ada?”

“Ambillah ini,” katanya sambil melemparkan setip satu-satunya kepunyaannya.

Bagyo mengambilnya.

“Tidak perlu buku tulis? Nah, ini ambillah.”

Lalu, dilemparkannya lagi satu buku tulis. Akhirnya ia berkata dengan tajam, “Nah, sekarang kau tak perlu lagi beli apa-apa lagi.”

Akan tetapi, si anarkis sudah tidak mengerti lagi akan sindiran. Sudah kebal. la malah merasa dimanjakan. Dan, Joko memandanginya lebih rendah lagi sebagai manusia tak bermartabat. la sangat membosankan Joko.

Kenekatan Bagyo sangat hina di mata Joko. Ia pernah menyaksikan sendiri bagaimana Bagyo pernah mencubiti pantat gadis-gadis di sekolah, mencuri buku-buku sekolah, mencium istri tukang kebun, dan sebagainya. Sukar ia mengerti bagaimana makhluk yang tak bermartabat itu bisa disebut manusia.

Joko sebenarnya tidak benci gadis-gadis. Ia mempunyai berahi juga. Itu saya lihat dari jerawat di mukanya. Belakangan ini kalau saya dan teman-teman omong tentang gadis-gadis, ia ikut mencampuri juga. Tentu saja dengan caranya yang halus itu. Lama-lama kuperhatikan, kalau kami omong tentang gadis-gadis, ia sering menyebut satu nama, Rukini.

Pernah ia kupancing, saya belokkan omongan pada kecantikan Rukini. Saya jadi heran, ia lebih banyak bicara dari saya. Kemudian tahulah saya, ia cinta pada Rukini. Namun, saya heran, bagaimana ia mendapat gadis itu kalau hanya dengan jalan mengomongkannya atau kadang kala menatap wajahnya dari jauh, itu pun di balik punggung saya. Saya sampai kesal merasakan kelakuannya.

BERANI NONTON VIDEO NORMANTIS? KLIK AJA!

KARYA TERBARU

Masukkan alamat Emailmu.

Bergabunglah dengan 1.774 pengikut lainnya

Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: