Normantis Update

Cerpen WS Rendra: Ia Punya Leher yang Indah

Karya: WS Rendra

Pukul setengah satu siang. Maryam membukakan matanya. Ia melihat keliling sebentar. Ketika melihat Nadjib mengerjakan makan siang, ia tersenyum. Ia lupa, bahwa ia tadi bersedih.

“Nadjib Besar!” Ia bersuara dengan manja.

“Halo, Nona! Sudah bangun?” Nadjib menghampirinya dan menciumnya sambil duduk di ranjang.

“Kau tidak lagi bersedih?” tanya Nadjib.

Tiba-tiba Maryam ingat, bahwa ia tadi bersedih. Lalu, dicobanya untuk bersedih lagi.

“Ah, leherku yang malang! Betapa telanjang ia!” katanya sentimental.

“Kalau lukisannya laku lagi, kau akan kubelikan sebuah kalung.”

“Kapan itu?”

“Kita bersabar saja.”

Maryam memeluk Nadjib dan merengkuh muka Nadjib ke dadanya.

“Mengapa tak bertunangan saja dengan orang kaya?” tanya Nadjib.

“Sebab aku cinta kau dan tampang kau, Nadjib Besar!”

“Akan saya cari kata yang tepat untuk lukisan itu.”

“Lukisan mana?” tanya Maryam.

“Lukisan dirimu!” kata Nadjib sambil bangkit dan menunjuk ke lukisan yang masih terletak di sandaran.

Maryam bangkit dan pergi ke depan lukisan itu. Ia meletakkan kedua tangannya ke dada dan matanya terpaku pada lukisan itu.

“Bagus sekali!” katanya.

“Kau memang cantik, Maryam. Lihatlah leher telanjang yang indah dan asli itu. Ia mendukung muka cantik dari orang yang sangsi akan kecantikannya. Masalah hidup sehari-hari yang berat menindas naluri perawanmu untuk berdandan. Namun, apabila kau masuki dunia pergaulan gadis-gadis yang sempat menikmati kelezatan usia muda mereka, nalurimu untuk berdandan itu bangkit lagi. Kau pengin berdandan, tapi kau tak ada perhiasan. Lalu, kau merasa kurang dari yang lain, dan hilanglah kesadaranmu bahwa kau cantik. Lihatlah mata yang sangsi itu. la tak bisa lagi melihat raut hidung dan mulut sendiri yang terukir sempurna. Orang dalam lukisan itu memang cantik, tapi kehilangan kesadaran bahwa ia cantik.”

Maryam mendengarkannya diam-diam saja. Ia sekarang tahu bahwa ia cantik. Matahari tiba-tiba menyinar di tanah lembap. Ia amat-amati lukisan itu. Tiba-tiba ia menggigit bibirnya, mengernyitkan dahinya, lalu berkata:

“Nadjib Besar, aku tahu sesuatu.”

“Apa itu?”

“Aku ada usul tentang lukisan ini.”

“Ya?”

“Mengapa tidak kau lukiskan kalung pada lehernya?”

Tiba-tiba Nadjib berteriak keras-keras.

“Gila! Leher yang begitu indah dan asli tak perlu kalung macam mana pun juga!”

Yogya, 12 Januari 1956
WS Rendra
Majalah KISAH, April 1956

BERANI NONTON VIDEO NORMANTIS? KLIK AJA!

KARYA TERBARU

Masukkan alamat Emailmu.

Bergabunglah dengan 1.763 pengikut lainnya

Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: