Normantis Update

Cerpen WS Rendra: Ia Punya Leher yang Indah

Karya: WS Rendra

Nadjib mulai menggerakkan kuasnya, tetapi baru merupakan suatu gerakan-gerakan iseng yang hampir-hampir tak menyentuh kanvas.

“Leherku telanjang, ya?” Maryam memulai lagi.

“Ya”

Tiba-tiba sambil menggerakkan kuasnya, yang telah lebih dulu ia lekati cat baru, Nadjib berkata, “Ya Ya. Telanjang bulat dan asli.”

“Telanjang bulat dan asli?” tanya Maryam ngeri dan hampir-hampir menitikkan air mata. “Ah, aku memerlukan sebuah kalung untuk leher ini.” Lalu, ia meraba lehernya sendiri dengan mesra.

“Leher yang malang,” katanya lagi dengan suara yang sentimental.

Nadjib mendiamkannya saja. Setelah ia selesaikan leher itu, ia menatap Maryam tajam-tajam pada mukanya. Maryam dibawa perasaannya sendiri sehingga ia lupa bahwa ia sedang dilukis. Ia duduk seenaknya saja dengan melupakan sikapnya yang semula. Namun, Nadjib mendiamkannya saja. Ia memandang saja ke muka Maryam dengan matanya yang tajam.

“Pesta sekolah sudah dekat dan aku belum punya kalung,” Maryam bersuara lagi.

Nadjib diam saja. Ia mulai mengerjakan muka itu dengan gerakan-gerakan tangan yang belum tegas, tetapi merasa sudah mendapatkan jalannya.

“Aku tidak cantik, ya?” tanya Maryam kepadanya.

Matanya yang berair ikut bertanya pula.

Nadjib menatap muka itu tajam-tajam dan menjawab pelan-pelan, “Kau cantik, Maryam!”

Sementara itu, tangan Nadjib bergerak dengan pasti mengerjakan muka itu. Seolah-olah kuasnyalah yang menjawab pertanyaan Maryam tadi.

“Hari pesta nanti mereka akan berpakaian bagus-bagus. Mereka akan memakai gaun nilon dan mengenakan kalung yang indah di leher mereka. Mereka semua berkalung di hari pesta, dan aku akan merupakan domba hitam di antara mereka.”

Nadjib sudah asyik mengerjakan muka di lukisannya. Maryam merebahkan dirinya di ranjang dan mengeluh.

“Semalam-malaman hal itu saya pikirkan hingga saya tidak bisa tidur.” Ia menguap dan berkata lagi, “Djib. Berhentilah saja melukis sekarang. Saya tak bisa dilukis sekarang.”

Ia menyempurnakan letak tubuhnya yang merebah itu dan matanya ditutupinya. Nadjib tak memedulikannya. Ia asyik mengerjakan muka itu. Ia tadi sudah menangkap sesuatu yang sangat mengesan di angannya. Itu tak bisa terhapus lagi dan harus dilukisnya. Begitu kuat kesan itu menggores di angannya hingga ia sanggup melukiskannya tanpa model.

Beberapa waktu kemudian ia berhenti dan menarik napas lega: tinggal disempurnakan saja!

“Maryaml” panggilnya pelan.

Maryam tak menjawab karena ia telah tertidur. Nadjib mendekatinya. la tersenyum dan memandang wajah Maryam. Lalu, ia kembali lagi mengerjakan lukisannya.

Ia mengerjakan jari-jari itu, lalu menyempurnakan mukanya.

BERANI NONTON VIDEO NORMANTIS? KLIK AJA!

KARYA TERBARU

Masukkan alamat Emailmu.

Bergabunglah dengan 1.767 pengikut lainnya

Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: