Normantis Update

Cerpen WS Rendra: Ia Punya Leher yang Indah

Karya: WS Rendra

Mereka telah sampai ke pasar. Kereta berhenti, Paman dan Bibi mulai memunggah muatannya. Maryam turun dan berkata, “Aku akan terus ke Gamelan, ke rumah Nadjib.”

“Baik-baik saja, ya, Maryam!” seru Bibi.

“Maryam!” kata Paman. “Jangan ngomong tentang leher telanjang itu di depan ibumu. Kau akan membuatnya bersedih saja.”

Maryam diam saja dan terus berjalan. Sebentar-sebentar ia memegangi lehernya.

Sinar matahari pagi enak di badan. Udara kota dipenuhi kebisingan kendaraan, suara anak-anak yang liar dan menyenangkan, suara orang-orang menuju pasar, dan tak terdengar burung menyanyi seekor pun.

Dengan berjalan menunduk, akhirnya Maryam sampai ke Gamelan, rumah Nadjib. Ia mengucapkan selamat pagi seperti orang mengucapkan selamat malam. Nadjib mengucapkan selamat pagi seperti burung.

“Aku telah sediakan kopi untuk kau,” kata Nadjib.

Maryam diam saja. Ia mengikuti Nadjib ke meja makan dan mereka minum kopi. Mata Nadjib selalu saja tak lepas dari wajah Maryam.

Selesai minum kopi, Nadjib bertanya, “Kapan bisa kita mulai?”

“Sesuka kau.”

“Baik, sekarang juga.”

Hari ini Nadjib hanya menyelesaikan pekerjaan yang beberapa hari lalu telah dimulainya. la asyik dengan catnya dan Maryam duduk di ranjang agak di hadapnya, di mana ia duduk ketika dilukis mula pertama.

“Lucu sekali,” kata Nadjib, “mukanya belum selesai-selesai juga. Sukar sekali menangkap sesuatu dari muka kau itu. Barangkali ini disebabkan karena aku takut kalau-kalau lukisan ini nanti gagal.”

Maryam diam saja. Seolah-olah ia duduk tak dengan sepenuh hatinya. Nadjib ngomong lagi, sambil mengolah catnya.

“Badan dan lengan sudah selesai. Ini permulaan yang lucu bagi saya. Hari yang lalu saya ragu-ragu menghadapi kandungan Wajah kau, itu saya lampiaskan pada latar belakangnya. Wajah dan jari-jari sangat belum selesai. Yang ini mesti kuat menggenggam kandungan dada dan watak  fitrimu, supaya nanti bisa menonjol kuat di antara latar belakang dan warna baju yang ragu-ragu.”

Ia sekarang mulai duduk di kursi dengan kuas di tangannya. Lama ia memandang wajah Maryam dan belum mulai-mulai juga.

“Mengapa belum kau mulai juga?” tanya Maryam.

“Biar saja. Menggerakkan kuas itu sangat mudah, tetapi menangkap sesuatu yang cukup berarti untuk bisa menggerakkan kuas itu tidak begitu mudah. Aku belum melihat sesuatu yang menegakkan bulu kudukku.”

“Djib, aku sedang muram.”

“Biar saja.”

“Ada yang mengganggu perasaanku,” kata Maryam lagi dengan suara merajuk.

“Bagus”

“Bagus bagaimana.”

“Aku bisa menangkap wajahmu dalam berbagai keadaan.”

“Bagus untuk kau, tidak bagus untukku.”

BERANI NONTON VIDEO NORMANTIS? KLIK AJA!

KARYA TERBARU

Masukkan alamat Emailmu.

Bergabunglah dengan 1.767 pengikut lainnya

Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: