Normantis Update

Cerpen WS Rendra: Ia Punya Leher yang Indah

Karya: WS Rendra

Maryam diam. Bibi diam. Orang bersepeda silang siur. Segerombolan mahasiswa yang akan berangkat kuliah melemparkan matanya ke kereta itu. Mereka memandang Maryam dan Maryam tidak melihat mereka.

“Mengapa kau pikir kau tidak cantik?” tanya Bibi Kirdjo.

“Aku rasa memang begitu,” jawab Maryam.

“Kau dikhianati tunanganmu?”

“Nadjib? Bah! Lelaki itu memang gila, tapi ia tak akan berkhianat.”

“Kau ada saingan? Lalu, apa lagi?”

“Aku kurang berhias, ya?”

“Engkau ini ada-ada saja, Nak?” keluh Bibi.

“Ya, saya kira kurang sedikit,” sambung Paman.

Semuanya diam pula. Langkah-langkah kuda berdetak-detak berirama memukuli jalan. Kereta itu berjalan sangat pelan di tengah keramaian jalan. Seolah-olah apabila penumpangnya tidur, mimpi dan bangun lagi, ia belum juga sampai pada tempat yang ditujunya.

Keluarga Maryam dan keluarga Paman Kirdjo mendiami satu rumah bersama dengan keluarga yang lain. Memang penuh sesak dalam rumah itu, tetapi mereka berbahagia saja sehari-hari dengan rumah macam begitu karena mereka kurang berada.

“Kau dulu tak pernah merasa kurang berhias,” kata Bibi, “mengapa tiba-tiba sekarang kau merasa begitu?”

Maryam diam dulu. la menundukkan kepalanya ke jalan. la melihat kotoran kuda melekat seperti bubur membedaki jalan itu. la memalingkan pandangnya dan menjawab pertanyaan bibinya.

“Mereka banyak ngomong tentang pakaian-pakaian dan perhiasan-perhiasan. Mereka ngomong tentang kalung, nilon, dan anting-anting yang sangat artistik.”

“Mereka? Siapa mereka?”

“Mereka teman-teman gadis di sekolah, Isti, Retno,

Eny, Ira, Djinah, Titik, dan yang lain-lain. Mereka semua punya pakaian-pakaian indah. Mereka semua menarik dan aku suka melihat mereka berpakaian begitu. Ah, aku tidak secantik mereka!”

“Kau pun berpakaian tidak buruk. Pakaian yang sekarang kau pakai pun tidak mengecewakan. Saya mengatakan baik juga.”

“Ini yang terbaik dari semua gaunku. Aku mau dilukis Nadjib. Tapi, pakaian teman-teman lain jauh lebih baik. Mereka ke pesta dengan gaun nilon dan kalung yang bagus.”

“Apa itu nilon?”

“Nilon semacam plastik. Tipis seperti sutra, tak terbikin dari benang. Bening semacam kaca dan lembut sekali.”

“Tubuh orang bisa terlihat jadinya,” kata Bibi dengan terkejut.

“Tentu saja orang memakai gaun dalam. Dan, kulit punggung yang lembut akan bisa tampak.”

“Kami tak akan suka kau berpakaian biadab begitu.”

BERANI NONTON VIDEO NORMANTIS? KLIK AJA!

KARYA TERBARU

Masukkan alamat Emailmu.

Bergabunglah dengan 1.767 pengikut lainnya

Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: