Iklan
Normantis Update

Cerpen Cak Nun: Mimpi Istriku

Karya: Emha Ainun Nadjib (Cak Nun)

BERANI NONTON VIDEO NORMANTIS? KLIK AJA!

Cerpen Cak Nun: Mimpi Istriku

CERPEN: MIMPI ISTRIKU
Karya: Emha Ainun Nadjib (Cak Nun)

JIKA tengah malam lewat, jadi menjelang dinihari, aku tergeragap bangun dari nyenyak tidurku. Segera aku mendengar isak tangis perempuan. Tentu saja aku tergopoh-gopoh. Kuangkat tubuhku dan kulihat istriku menangis.

”Mama” kataku.

Ia tidak menjawab, melainkan meneruskan isaknya.

”Ada apa, Mama?”

Karena ia perempuan, maka ia tidak langsung menjawab dengan penjelasan kata-kata.

”Mama mimpi?”

la mengangguk, sambil terus terisak-isak. Sudah barang tentu aku harus segera bertindak. Kupegang tubuhnya dan kucium sedikit keningnya.

“Mimpi itu kembang tidur, Mama,” kataku lagi. ”Kenapa kita harus dikalahkan dan dibuat menangis olehnya. Sudahlah, Mama tidur lagi. Tenangkan perasaan Mama. Papa kan selalu ada di sisi Mama. Jangan pusingkan mimpi. Ia tidak ada sangkut pautnya sama sekali dengan keadaan kita yang sebenarnya.” Isaknya makin menjadi-jadi.

”Sudahlah Mama. Anggap saja ia kentut lewat. Kalau mimpi buruk, itu namanya setan kesasar. Kalau mimpi bagus, itu tandanya malaikat kangen sama kita. Tidur, tenanglah, Mama.”

Istriku malah menangis. Tidak hanya terisak, tapi betul-betul menangis dengan menggunakan suara. la bahkan menelungkup tubuhnya. Memeluk bantal.

Tetapi terus terang aku sudah agak kesal dengan soal mimpi-mimpi ini. Soalnya hampir tiap malam itu terjadi. Kalau toh misalnya aku tak terbangun pada saat menangis, esok paginya, mula pertama yang akan diceritakannya dengan riuh tidak lain adalah perihal mimpinya.

”Mama, Mama, maafin Papa, ya?” aku makin erat memegang dan mengguncang-guncangkan tubuhnya.

Tangisnya makin menjadi. Ini sangat wajar, sebab dia kan seorang perempuan. Kalau misalnya aku merasa kesal karena sifatnya itu dan lantas, umpamanya, membentaknya, maka akan bertambah satu soal lagi yang harus kubereskan. Jadi ada dua tingkatan tangis yang harus perlahan-lahan kuredakan. Maka aku lebih baik sedikit bersabar. Seorang suami harus penyabar. Karena tangis dan kemanj aan seorang istri yang telah ia miliki dan memilikinya, bisa jadi lebih merepotkan dibandingkan perlawanan oposan politik jika, misalnya, aku adalah seorang kepala negara.

“Mama, Mama marah?” kataku lagi terbata-bata. Alhamdulillah, sesudah berulangkali kutunjukkan rasa penyesalanku dan permohonanku yang sangat akan pemberian maafnya, akhirnya tangis mereda juga.

”Mama mimpi apa?”

Istriku membalikkan tubuhnya. Dengan muka yang penuh airmata, dengan wajah yang mengibakan dan dengan sorot mata yang amat meminta perlindungan, ia memelukku–suaranya polos.

Aku membalas rangkulannya. Kuusap pipinya dan ku- tepuk-tepuk punggungnya. Di dalam hati aku sedikit menertawakan nasib laki-laki pada keadaan semacam ini, tetapi bagaimanapun ini adalah suasana religius bagi seorang suami yang telah membelah hidupnya untuk nyawa sang istri.

Iklan

EDISI SPESIAL SUMPAH PEMUDA

KARYA TERBARU

Masukkan alamat Emailmu.

Bergabunglah dengan 4.243 pengikut lainnya

Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: