Iklan
Normantis Update

Puisi Natal: Ayahku Santa Claus – Norman Adi Satria

Karya: Norman Adi Satria

Ayahku Santa Claus - Puisi Norman Adi Satria

AYAHKU SANTA CLAUS
Karya: Norman Adi Satria

Dua bocah itu tahu
Santa Claus sesungguhnya adalah ayah mereka
yang sesubuh tadi telah bangun
menggodok sebungkus mi instan rasa ayam bawang
dan menyeduh sekantung teh celup kemarin malam
pada tiga cangkir Doraemon kusam.

“Nak, bangun… Bapak mau berangkat. Cepat makan mi-nya.”
Dua bocah itu terduduk di atas tikar, mengucek mata
“Nanti saja makannya, Pak. Tunggu mekar, biar banyak.”
Kata anak pertama, diiringi kruyuk ayam jantan dan perutnya.

Siapa bilang orang lapar tak bisa tidur?
Tidur hanya butuh kantuk!
Kepastian hari esok pastikan saja pada esok hari:
bila masih bangun, maka kita masih hidup
sesederhana itu.

Dua bocah itu pun tahu
ayahnya tidak bakal marah bila pohon cabai depan rumah
disulap menjadi pohon natal.
Maka setelah sarapan dan ayahnya telah berangkat jadi badut Santa
keduanya langsung merobek-robek kertas bekas gorengan di halaman
“Mas, Bapak ndak punya gunting ya?”
“Dijilat aja, nanti juga sobek.”
Dia baru tahu, lidah ternyata tajam juga tuk merobek kertas.
Yang belum dia tahu: lidah lebih tajam daripada pedang.

Kertas bekas gorengan itu telah malih menjadi kandang,
bintang, domba-domba, gembala, pohon kurma,
unta dan tiga raja.
“Siapa nama Ibu Yesus?”
“Maria.”
“Ayahnya?”
“Yusuf.”
“Kata Bapak, ayahnya Yesus bukan Yusuf!”
“Yusuf!”
Adiknya berbisik: “Dia itu anak Tuhan tau…”
Kakaknya tertawa.
“Tapi jangan bilang siapa-siapa. Itu rahasia kita aja ya.”
“Iya, lagian kalau kita bilang-bilang, siapa juga yang mau percaya?”

Siapa bilang orang miskin tak bisa Kristen
jua sebaliknya: orang Kristen tak bisa miskin?
Kemiskinan bukankah salah satu syarat mengikut Yesus?
Begitulah yang tertulis di Injil, jangan kau pungkiri dan hapus!

Upah seharian menjadi badut Santa
nyatanya bisa untuk membeli dua baju di pasar loak
baju yang agak robek sedikit, masih bisa ditambal dijahit
Namun itu tidak bakal cukup untuk mencegah ibu dua anak itu kabur.

“Kabar Ibu gimana ya, Mas?”
“Doakan saja selalu baik.”
Dalam diam, mereka sepakat untuk tidak melanjutkan pembicaraan
karena mereka tahu, Ayah mengintip di balik pintu
“Berangkat?”
“Ayo, Pak.”
“Jangan lupa bawa lilinnya.”
“Oh, iya…”
Sebatang lilin itu dipatahkan menjadi tiga
Itu sudah cukup untuk mengiringi selantun Malam Kudus dan Ave Maria.

Memang lebih baik bawa lilin sendiri
daripada ambil di pintu gereja kemudian dipelototi
karena tak memasukkan uang sumbangan pengganti
Itu bahasa halus dari: harus beli.

Sejak jadi Santa, Ayah tak pernah ikut Misa
Ia ditugaskan untuk duduk di dekat gerbang keluar
menunggu anak-anak minta foto bersama
beberapa menarik janggutnya sambil tertawa
“Bapak kita lucu ya, Mas?”
“Sttt… Jangan ngelihatin Bapak. Itu Romonya lagi khotbah.”

Dua bocah itu khusyuk di bawah tenda
mendengarkan Pastor mendongeng tentang kelahiran Yesus
tapi tak pernah soal Santa Claus
karena memang Santa Claus tak pernah ada di dalam Injil.

“Santa Claus itu beneran ada nggak sih, Mas?”
“Santa Claus itu ya Bapak kita.”
“Hehehe… Tapi jangan bilang siapa-siapa ya. Ini rahasia kita aja.”
“Iya….”

Bekasi, 20 Desember 2016
Norman Adi Satria

Iklan

Video Normantis

KARYA TERBARU

EDISI SPESIAL HARI KEMERDEKAAN REPUBLIK INDONESIA

Masukkan alamat Emailmu.

Bergabunglah dengan 4.156 pengikut lainnya

Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: