Iklan
Normantis Update

Esai Cak Nun: Apa Ada Angin di Jakarta?

Oleh: Emha Ainun Nadjib (Cak Nun)

Apa Ada Angin di Jakarta - Esai Emha Ainun Nadjib (Cak Nun)

APA ADA ANGIN DI JAKARTA?
Oleh: Emha Ainun Nadjib (Cak Nun)

Apakah desa adalah udara permai daun-daun yang hijau, dan kota adalah tiang-tiang listrik yang kering, kebisingan suara serta kehidupan yang pengap? Apakah desa adalah perlambang dari sejuk damai kehidupan, dan kota adalah ekspresi dari kekerasan, kekejaman, dan kekeringan kebudayaan?

Penyair Umbu Landu Paranggi, seorang pangeran dari Sumba, mengalunkan seruling dari bukit-bukit hijau:

Apa ada angin di Jakarta
Seperti dilepas desa Melati
Apa cintaku bisa lagi cari
Akar bukit Wonosari
Yang diam di dasar jiwaku
Terlantar jauh ke sudut kota
Kenangkanlah jua yang celaka
Orang usiran kora raya
Pulanglah ke desa
Membangun esok hari
Kembali ke huma berhati ………………………

Ini semacam puisi pertobatan. Diucapkan oleh satu dari sekian kaum urban. Umbu mempertanyakan kembali jaminan tanah kelahirannya yang kedua: kota. Dan ia menoleh ke kampung halamannya, seperti pemuda yang merindukan perawan kekasihnya di desa.

Apa ada angin di Jakarta? Angin, adalah napas hidup. Harapan, keceriaan masa depan, jaminan kebahagiaan. Bisakah Jakarta, sebagai lambang paling tajam sebuah kota urban di negeri ini, menawarkan itu semua? Seperti –yang menurut Umbu– bisa diberikan oleh Desa Melati?

Desa sebagai suatu fenomena kultur, setidaknya yang lebih “murni” atau lebih “dari kita sendiri”. Dan agaknya, Melati juga punya imaji dan nuansa yang harum dan karib di batin manusia. Yang merangsang cinta. Umbu bertanya kepada dirinya sendiri, apakah cintanya bisa lagi menemukan kekasihnya, yakni akar bukit Wonosari.

Akar, bisa juga sekadar akar pepohonan, tapi Umbu pasti memaksudkan lebih dari itu; ialah dalam pengertian kebudayaan. Bisakah Jakarta memiliki akar Wonosari, ialah sumber penyerap kehidupan yang benar-benar menumbuhkan kebudayaan manusia seperti yang didambakan oleh setiap cita-cita peradaban? Umbu memilih Wonosari, kota juga, tapi lebih merupakan simbol ke-udik-an; dan mempertanyakan apakah Jakarta, sebagai pemimpin kemajuan Indonesia, mampu menyediakan kekasih bagi cinta kemanusiaan yang sesungguhnya? Cinta senantiasa ada dan bertumbuh di mana pun manusia berada, tetapi bisakah sebuah lingkungan menjawab hasratnya?

Di kampung halamannya yang kedua itu ternyata Umbu memang tak menemukan hal itu. Apa yang sesungguhnya menjadi isi paling inti dalam jiwanya, tak memperoleh tempat di tengah galau kehidupan kultur kota pelariannya itu. Umbu merasa sendiri: cintanya terlontar jauh ke sudut kota. Ia merasa terpojok, terusir, tercampak dari raksasa kota raya. Namun, ia tetap berada dalam rasa kebersamaan kultur dengan sesama bangsanya, sehingga dengan pilu dia menghimbau: Kenangkanla jua yang celaka…

Ia merasa dirinya teralienasi, beserta beberapa gelintir rekannya: mungkin para seniman di antaranya, para cendekiawan -untuk taraf tertentu disimpulkan demikian. Suatu identifikasi yang paralel dengan casting Wisanggeni di tengah susunan kultur baru Indonesia: anak nakal itu lenyap ke angkasa, tak ikut bercatur….

Umbu kemudian seperti bergumam kepada dirinya sendiri: Pulanglah ke desa, membangun esok hari, kembali ke hama berhati ………… ..

Itu adalah bahasa sederhana dari slogan “kembali ke desa”. Dalam bahasa formal: pembangunan mesti diorientasikan ke desa. Dewasa ini kita membaca berbagai kegiatan yang kelihatannya mendesa: “Koran Masuk Desa”, “ABRI Masuk Desa”, “Mahasiswa Masuk Desa”. Pas atau tidak perwujudan kegiatan itu, tetapi desa memang lebih ditatap. Mahasiswa ber-KKN misalnya, bukanlah orientasi yang mendasar apabila itu hanyalah acara mengkursus orang desa dua tiga bulan. Desa sungguh-sungguh harus digauli, dipilih. Tidak saja oleh seseorang, seorang sarjana umpamanya, tetapi pun oleh kebijaksanaan pembangunan bangsa yang menyeluruh.

Kristal kedesaan, menurut Umbu ialah huma berhati. Ber-hati, barangkali ini semacam kaca pengilon untuk tata kehidupan kota yang makin tipis dan kering hatinya. Kalau Anda berurusan di sebuah kantor di kota metropolitan, hati tak diperlukan, kecuali untuk disiasati atau dijebak….

Demikian puisi Umbu. Tetapi begitukah desa dan begitukah kota?

Iklan

Video Normantis

KARYA TERBARU

EDISI SPESIAL HARI KEMERDEKAAN REPUBLIK INDONESIA

Masukkan alamat Emailmu.

Bergabunglah dengan 4.156 pengikut lainnya

Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: