Iklan
Normantis Update

Catatan Pinggir: Aniaya – Goenawan Mohamad

Karya: Goenawan Mohamad

Catatan Pinggir: Aniaya - Goenawan Mohamad

CATATAN PINGGIR: ANIAYA
Karya: Goenawan Mohamad

KENAPA terjadi kesewenang-wenangan? Kenapa seorang yang berkuasa bisa berbuat sekehendaknya terhadap diri seorang lain sampai ludes dan papa?

Seorang yang dipertuan –seorang bos– mungkin seorang yang mendapat privilese untuk jadi kanak-kanak kembali. Seperti bocah balita, ia biasa minta dilayani dengan telaten. Dan seperti balita, dialah pusat perhatian. Ia juga boleh marah sampai sekeras-kerasnya, bila perlu menyepak, seakan-akan orang lain hanya otomaton yang rela.

Raja Henry II dari Inggris di abad ke-12, misalnya, biasa menjatuhkan diri ke lantai bila sedang marah besar, dan melampiaskan emosinya dengan menggigit-gigit permadani yang terhampar bila kehendaknya tak terpenuhi. Dan ia menjelaskan tabiatnya itu dengan kalem, ”Aku adalah putra kemarahan: kenapa aku tak boleh mengamuk? Tuhan sendiri mengamuk bila Ia sedang murka.”

Dengan kata lain, Henry II sedikit menyamakan diri dengan Yahwe, Yang Mahakuasa dalam kitab Perjanjian Lama. Agaknya memang begitulah sosok seorang yang dipertuan: ia sekaligus bermain dengan mimpi kanak-kanak dan dengan mimpi jadi Tuhan.

Ada sesuatu dalam jiwa orang-orang yang bergabung di dalam suatu kehidupan bersama yang tampaknya memungkinkan hal itu terjadi. Eli Sagan, yang membuat uraian menarik tentang apa yang disebutnya ”masyarakat-masyarakat majemuk” di Buganda, Tahiti, dan Hawaii dalam At the Dawn of Tyranny, menyebut satu nasihat yang diucapkan untuk seorang raja baru: ”Siapa saja yang memandang rendah kehormatan Tuan, bunuhlah, sebab semua petani adalah ibarat padi-padian–siapa yang membabatnya,  memilikinya.”

Tak heran bila kesewenang-wenangan berlangsung dengan lancar dan mengerikan. Raja yang berkuasa di Dahomey, sebuah monarki yang maju dan canggih strukturnya di pantai barat Afrika, tiap kali bangun tidur merasa bersyukur atas tetirahnya tadi malam. Untuk menyatakan rasa syukur itu, ia menyuruh sembelih dua orang budak setiap pagi. Raja Buganda di Afrika, Mutesa, pada suatu malam bermimpi ketemu ayahnya yang telah mangkat. Dalam keadaan cemas oleh mimpi yang dianggapnya buruk itu, esoknya ia suruh gorok leher 500 orang rakyat.

Penyembelihan manusia yang seperti itu tampaknya tak cuma perlu buat memuaskan hati seorang raja. Pengorbanan itu juga tak cuma untuk melayani kehausan para dewa akan darah. ”Dalam masyarakat-masyarakat majemuk yang lebih maju,” tulis Sagan, ”kemampuan untuk membunuh secara ritual seorang manusia lain itu tampaknya, apa boleh buat, suatu atribut yang diperlukan, dan juga suatu pengesahan yang tak bisa dipungkiri, bagi kekuasaan yang tertinggi.”

Kenapa demikian, memang tak sepenuhnya bisa dijelaskan. Sagan berbicara tentang ”masyarakat-masyarakat majemuk”, complex societies, ia berbicara tentang masyarakat yang tak lagi bisa disebut primitif, yang tak menggunakan lagi sistem pertalian keluarga dalam mengatur kebersamaan: suatu masyarakat yang sudah punya birokrasi tersendiri yang mulai lengkap.

Masyarakat semacam ini, dalam konsep Sagan, adalah masyarakat peralihan. Sifatnya sementara: sebuah jembatan besar antara masyarakat primitif di hutan-hutan dan masyarakat arkais seperti dalam kerajaan Mesir Kuno. Keadaan karena itu belum stabil, dan yang meruyak adalah pelbagai bentuk kecemasan. Orang cemas akan masa silam yang primitif, yang menenggelamkan individualitas dalam kungkungan keluarga, tapi orang juga cemas untuk mulai berdiri sendiri. Dalam kegalauan itu sang bapak, sang raja, tampil dan berseru, ”Awas!”

Sang raja juga sebenarnya tokoh yang gentar. Dan Eli Sagan mencoba menjelaskan kenapa kesewenang-wenangan bisa terjadi dalam keadaan jiwa seperti itu: ketakutan itulah yang menyebabkan sebuah masyarakat, sampai hari ini, memerlukan korban. Ketakutan menyebabkan agresi. Dengan melihat orang lain runtuh, sebuah kelompok dalam masyarakat agaknya akan merasa sedikit lebih enak. Pada saat orang-orang yang dianggap ”kuat” di sebuah masyarakat merasa cemas akan daya kemampuan mereka sendiri, pihak yang tak berdaya pun diinjak. Hitler mengirim Yahudi ke ruang gas, dan orang kulit putih menyisihkan orang hitam dari hidup yang patut.

Jika kehidupan masyarakat selalu merupakan peralihan, jika perubahan selalu terjadi, adakah itu berarti kecemasan akan selalu bersama kita? juga kesewenang-wenangan dan sikap aniaya yang terbit dari dalamnya? Eli Sagan tak menjawab jelas. Ia hanya menunjukkan bahwa di mana pun, di Barat dan di Timur, di Afrika ataupun di Eropa, bentuk-bentuk tirani tak pernah dapat terhindarkan dalam sejarah perkembangan manusia. Siapa tahu, karena kita bicara soal ”perkembangan”, banyak kesewenang-wenangan akhirnya akan hilang, dan manusia pun merdeka: berani mandiri.

Tempo, 25 Januari 1986
Catatan Pinggir
Goenawan Mohamad

Iklan

Video Normantis

Masukkan alamat Emailmu.

Bergabunglah dengan 4.125 pengikut lainnya

Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: