Normantis Update

Gundah Metropolitan (Merindu Tempe Mendoan) – Puisi Norman Adi Satria

Karya: Norman Adi Satria

Gundah Metropolitan - Puisi Norman Adi Satria

GUNDAH METROPOLITAN
Karya: Norman Adi Satria

Sebagai orang yang terlahir di desa segala wisata
kami sampai tak sadar
jika mendengar desir angin yang menggoyangkan janur nyiur,
berguling-guling di atas pasir putih,
memburu kelomang dan cangkang kerang,
menenggak gelembung ombak,
serta berloncatan dari atas trekdam
merupakan serangkai kegiatan piknik.

Maka sesampainya di kota seberang yang konon paling modern
kami tercengang-cengang melihat gedung-gedung bertingkat,
kendaraan-kendaraan berjubel,
sungai-sungai yang meluap memenuhi jalanan,
bahkan bila diizinkan oleh satpam
kami ingin berkemah di dalam Mall.

Lama-lama jengah juga, suntuk
kantong jadi porak-poranda memenuhi segala ingin
bergaya hidup metropolitan dengan duit pas-pasan
ketagihan yang ujungnya dikejar-kejar tagihan.
Capek, pengen pulang!

Tapi dengar-dengar
desa yang dulu menyediakan segala citarasa mudik
sudah bukan lagi sebuah udik.
Enyong-rika nyaris berganti gue-lu.
Segala harga kini terbilang ajegile.

Tempe mendoan, sekarang berapa hargamu?

Bekasi, 26 Oktober 2016
Norman Adi Satria

Masukkan alamat Emailmu.

Join 3,725 other followers

Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: