Normantis Update

Nonsens – Catatan Pinggir Goenawan Mohamad

Catatan Pinggir Goenawan Mohamad

Nonsens - Catatan Pinggir Goenawan Mohamad

NONSENS
Oleh: Goenawan Mohamad

APA yang tak lekang oleh panas, tak lapuk oleh hujan? Jawabnya: birokrasi. Ada sebuah anekdot dari Amerika. Suatu hari, Presiden Nixon berniat membubarkan sebuah aparat pemerintah yang sudah ada sejak 1897, yakni Dewan Pencicip Teh. Tugas dewan ini ialah memeriksa mutu teh yang diimpor ke AS. Nixon menganggap ini sebenarnya berlebihan, sebab sudah ada lembaga lain, yang mengontrol bahan makanan dan minuman. Dan meskipun anggaran buat dewan ini cuma US$ 125 ribu setahun secuil buat ukuran Amerika-Nixon berpendirian, tiap sen uang para pembayar pajak harus dihemat.

Tapi apa lacur. Dewan itu didukung oleh para importir teh. Mereka ini juga punya orang di antara Senator, punya pengaruh di staf Gedung Putih, dan punya argumen: buat apa mengusik soal sepele ini? Akhirnya, setelah menimbang A dan B, mendengar C dan D, Presiden Nixon memutuskan: Dewan Pencicip Teh tetap berdiri.

Cerita ringkas itu, dikisahkan oleh William Sañre, menunjukkan banyak hal. Bagi mereka yang gigih berseru untuk ”deregulasi”, bagi yang berbicara seperti Milton Friedman untuk menghilangkan pelbagai aturan dan intervensi pemerintah dalam kehidupan ekonomi, anekdot itu menunjukkan betapa menjengkelkannya birokrasi. Friedman, pemenang Hadiah Nobel untuk ilmu ekonomi di tahun 1976 itu, menulis 7796 Erman); of the Status Quo dan menyebut sebagai satu unsur dan status quo yang kepala batu itu adalah ”tirani birokrasi”.

Bukan karena para pegawai pemerintah punya motif yang jahat. Semangat di hati mereka bisa sangat mulia dan untuk kepentingan umum. Tapi baik demi respuélica ataupun untuk diri sendiri, ”Sebuah pendorong utama dalam diri setiap birokrat ialah menjadi lebih berkuasa,” tulis Friedman. Bahkan semakin bulat dedikasi seorang birokrat, dan semakin yakin dia bahwa yang dilakukannya adalah untuk kepentingan tanah air, semakin kukuhlah ia menjaga agar rolnya tak akan berkurang.

Namun, birokrasi pemerintah punya cacat. Dalam dirinya, ”tak ada mekanisme untuk menghentikan eksperimen yang tak berhasil,” kata Friedman. Tentu saja, Friedman di sini sedikit berlebihan, tapi ia membandingkannya dengan aparat sebuah bisnis swasta. Di sini orang harus mau mengakui kegagalannya, atau, kalau tidak, akan bangkrut, sedangkan mana ada badan negara yang gulung tikar? Birokrat umumnya punya masa kerja yang sangat panjang. Jumlah yang diberhentikan selama setahunnya jauh lebih kecil ketimbang jumlah yang dipekerjakan.

Tapi apa daya? Orang seperti Milton Friedman bisa punya usul, dengan pikiran-pikiran kanan dan konservatif dan atas nama pasar bebas. Bahkan konstitusi AS 200 tahun sebelumnya sudah mengecam ”kantor-kantor baru” yang dalam jumlah ”berlipat ganda” didirikan raja Inggris di tanah jajahan yang bernama Amerika itu. Toh (dalam catatan Friedman sendiri), sejak 1933 sampai 1982, jumlah birokrat Amerika meningkat hampir lima kali lipat_sementara banyaknya penduduk tak sampai naik dua kali.

Pasti ada sesuatu yang menyebabkan orang butuh birokrasi. Seperti tersirat dalam cerita tentang Dewan Pencicip Teh, ternyata ada satu bagian dalam masyarakat (bahkan kalangan bisnis sendiri, yang konon ogah birokrasi) yang ingin mempertahankannya. Dengan kata lain, lahirnya birokrasi_dan pelbagai aturan yang dibuat untuk dan oleh birokrasi itu-kadang kala tidak datang dari angan serakah seorang penguasa.

Bahkan ada suatu masa, ketika orang menganggap para pengatur yang bekerja atas mandat masyarakat bisa lebih bersih ketimbang orang-orang swasta.

Sosialisme, sebuah mimpi indah tentang manusia, berpangkal pada anggapan seperti itu, ketika paham ini meletakkan negara sebagai pengatur kehidupan ekonomi. Tapi sesungguhnya ceritanya bisa dimulai kapan saja. Kita bisa berangkat dari 2.100 tahun sebelum Masehi, di masa kejayaan Sumeria. Atau kita bisa bermula di Cina, di masa kekuasaan Perdana Menteri Wang Anshih: di abad ke-ll itu, Wang mencoba sebuah etatisme gaya Cina, atas nama keadilan bagi orang miskin.

Tapi, mari kita lihat sebuah cerita dalam sejarah Eropa. Di tahun 1713, dua orang utusan Raja Louis XIV dari Prancis dikirim ke Inggris, buat merundingkan perdagangan. Mereka menyaksikan, dengan heran, betapa di negeri seberang itu telah terjadi apa yang kemudian oleh sejarawan Fernand Braudel disebut sebagai ”revolusi finansial”, sebuah proses ”nasionalisasi” atas lembaga keuangan yang sebelumnya sepenuhnya jadi kesibukan, dan keributan, orang swasta.

Tout est ici regie, tulis kedua utusan Prancis itu dalam laporannya. Segalanya di sini dalam kendali pemerintah, begitulah kesan mereka. Maka, mereka pun menyatakan tak segan memberi hadiah kepada para petugas. ”Pemberian apa pun yang kami tawarkan kepada mereka tak akan terasa sebagai korupsi, karena segalanya di sini dalam kontrol pemerintah.”

Aneh, bukan? Tapi abad berubah, juga cara memandang. Tampaknya, di zaman itu, orang yang bekerja buat kepentingan umum bisa dengan sendirinya dinyatakan bebas dari kepentingan pribadi. Betapa nonsens, teriak kita di zaman ini. Lalu kita pun sadar betapa nonsens itu telah berkepanjangan.

Tempo, 9 Januari 1988
Goenawan Mohamad
Catatan Pinggir

Masukkan alamat Emailmu.

Join 3,725 other followers

Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: