Normantis Update

Cak Nun: Berapa Jumlah Hasan di Desa?

Karya: Emha Ainun Nadjib (Cak Nun)

Cak Nun: Berapa Jumlah Hasan di Desa?

BERAPA JUMLAH HASAN DI DESA?
Karya: Emha Ainun Nadjib (Cak Nun)

Hasan, 15 tahun, yang tamat SMP, hidup dalam dua dunia. Ia bintang kelas dan dalam tes untuk memperoleh beasiswa kelanjutan sekolah, ia mengatasi saingan-saingannya, dari SMP se-kecamatan. Minat-minat dan keinginannya terlihat aneh di tengah kecenderungan hidup di desanya: ia mengikuti lomba-lomba karya ilmiah, dan sekian sepak terjangnya menunjukkan semangat dan kesadaran intelektual, yang untuk desanya itu merupakan suatu cuatan. Arah dunia yang ingin dirambahnya itu belum jelas benar bagi dirinya sendiri; penalaran atas aktivitasnya belum mampu ia pegang betul dan lapangan konkret bagi cita-citanya belum ia lihat secara gamblang. Tetapi satu hal yang jelas, ia menginginkan sesuatu yang dirasanya sangat berlainan dari teman-teman dan orang-orang di desanya. Ia merasa berada di luar alam semangat warga desanya yang bisa dikatakan hampir seragam.

Itu satu dari dunianya.

       Dunia lainnya ialah kedua orangtuanya, rumah, dan desanya. Bapaknya seorang penjahit yang hanya mengerti bagaimana Hasan hari ini dan besok bisa membantunya melakukan pekerjaan sebagaimana ia sendiri. Ibunya, kasir di rumahnya adalah pendorong yang bersemangat bagaimana supaya putranya itu bisa cepat kerja dan memperoleh hasil konkret dari hidup ini: uang. Hasan disekolahkan sekadar supaya tahu baca tulis dan untuk basa-basi serta gengsi di antara tetangga. Apa sih sesungguhnya manfaat konkret dari anak sekolah. Meneruskan ke perguruan tinggi juga tak mungkin, terlampau tinggi untuk ditengadahi. Leher bisa patah. Sedangkan masuk SMA hanya membikin anak malu menjahit dan malu pada singkal dan kerbau di lumpur persawahan.

       Hasan memperoleh beasiswa untuk masuk SPG, tapi itu suatu bahaya baginya. Sesudah bersusah payah 3-4 tahun kelak, lantas jadi guru, berapa pula gajinya? Bapak ibunya hanya melihat itu sebagai kesia-siaan belaka. Mending dia mulai kerja dari sekarang, sebab nanti Pak Guru akan malu merangkap kerja jadi penjahit.

       Hasan sedikit banyak menyadari hal itu. Orang tuanya sudah beberapa kali secara polos mengemukakan pikirannya itu. Maka sekarang ia hanya berpikir bagaimana lari dari rumah. Kalau mungkin ia ingin bersekolah ke Yogya sambil jualan atau kerja apa saja untuk membiayai sekolahnya. Sekolah yang lebih tinggi. Sebab kalau ia masuki SPG-nya, akan tak berarti apa-apa bagi kedua orangtuanya. Bukti kehidupan dan bukti kepada mereka ialah apabila ia mampu menyodorkan lambang kecerahan masa depan yang berupa uang, motor, syukur mobil, televisi, tape recorder atau segala sesuatu yang mengekspresikan kemajuan. Wajar, sebagaimana orang-orang lain. Sering kali Hasan merasa bingung bagaimana memahami semua itu: sekolah, kerja, kekayaan, ilmu, kepandaian, masa depan, yang mana sesungguhnya yang patut dikejar. Siapa tho orangnya yang tak ingin kaya, dan Hasan pun bukan tak ingin punya mobil, kulkas, televisi warna, kelak. Tapi rasa-rasanya ada sesuatu yang lain yang lebih karib dan riil di dalam dirinya. Apa ya?

Ini menyeretnya ke sebuah dunia lain yang asing.

       Tetapi, sang waktu tidak memberinya kesempatan terlalu lama untuk bermangu-mangu saja. la putuskan akhirnya untuk melayani beasiswanya itu, tetapi dengan catatan kelak ia mesti hidup jauh-jauh dari orangtuanya. Ini bukan sikap laknat atau keinginan untuk tak mengabdi kepada orang tuanya. Setidaknya Hasan menyadari bahwa ia punya pikiran dan bayangan sendiri tentang yang dinamakan pengabdian. Sekarang saja pun dunianya sudah jauh dengan dunia kedua orang tuanya. Kalau sampai besok-besok ia tetap juga ngendon di rumah orang tuanya, terasa itu merupakan usaha mempertemukan dua dunia yang sebenarnya tak mungkin bisa dipertemukan.

       Sementera itu, ia melihat adiknya Khoirul, anak yang patuh: ikut memasak, menjahit, dan menghitung uang, yang memandang pelajaran ini itu dari sekolah tak lebih sebagai barang mainan yang nyleneh.

       Hanyalah karunia Tuhan jika di dalam diri Hasan sempat bertumbuh “sesuatu yang lain yang terasa lebih karib dan riil” itu bertahan agak lama. Mungkin saja ia akan berusaha mengutuhkan dirinya tegak dalam dunianya yang itu, tetapi mungkin juga ia kalah: setengah-setengah atau terbunuh sama sekali. Mungkin saja ia makin menemukan dan meyakini kebenaran dunianya, tapi tidak mustahil ia besok pagi mengutuk pikiran yang tak benar itu dan menyesalinya.

       Hasan melihat, kemajuan ialah sekolah sampai tingkat paling tinggi. Dan kemajuan adalah juga hidup yang layak, makmur, mewah, kaya: bukan hanya tidak melarat. Apakah keduanya adalah yang hal yang berbeda, bahkan bertentangan, atau sesungguhnya terletak di satu jalur, cuma berbeda jengkal waktunya? Yang manakah yang benar, mungkin keduanya salah. Hasan masih buntu untuk menilai itu.

       Berapa jumlah Hasan di desa? Hasan-hasan yang lain di desa-desa? Akan tetapi, barangkali jauh lebih banyak Khoirul, yang benih potensi yang sekarat sebelum membenih. Sebab tak memperoleh peluang dan modus untuk menjadi.

       Seorang anak lahir, belum tentu untuk dirinya sendiri. Sebab orang tuanya dari hari ke hari ingin “menjadikannya”. Para bapak dan ibu sudah pasti sangat mencintai setiap orok dan buyungnya, tapi tak mustahil lebih mencintai keinginannya sendiri atas anak-anak itu. Para orang tua itu pun barangkali tidak hidup untuk dirinya sendiri, sebab mereka “dijadikan” sesuatu juga oleh nilai dan pola umum lingkungannya. Nilai dan pola umum itukah biang keladi permasalahannya? Ataukah ada yangberdiri di belakangnya? Ada yang mengendalikannya? Suatu teknologi kultur? Kebijaksanaan kebudayaan? Keputusan pembangunan? Letak DIP-DIP, misalnya? Tapi demi suatu kebersamaan, maka tak seorang tua pun yang rela membiarkan sang anak berkhianat dari warna seragam lingkungannya: “Taatilah orang tua, nak, mereka tidak akan menjerumuskanmu”. Potongan kalimat yang kedua itu alangkah luhur bunyinya. Tetapi yang pertama alangkah berbahaya bagi setiap pikiran yang punya hak untuk berkembang dan bagi setiap manusia yang ingin menjadi dan hidup dengan dirinya sendiri, Ada sebuah puisi berdendang:

Anak-anakku, engkau lahir
Tidak untuk jadi piring bagi nafsu makanku
melainkan untuk berkobar menjadi api yang baru
akarmu minum air dari tanah-Nya
seperti aku dan siapa pun saja
menghunjam sendiri ke pusat bumi rahasia
Daunmu menghirup udara segar milik-Nya
Seperti aku dan seluruh manusia
Menggapai sendiri wajah langit maya …….

       Tetapi, suara yang demikian hanya terbit dari kepenyairan seorang manusia. Suara kemanusiaannya bisa jadi lain, sebab kemanusiaan sering kali ditentukan oleh seberapa jauh kebudayaan mengendalikannya. Lagi pula penyair itu tak punya anak barangkali. Sebab seorang bapak yang baik ialah yang bertanggung jawab atas puteranya, yakni dengan tidak membiarkannya bertumbuh “liar”, melainkan merencanakan segala sesuatunya sejak dini hari usia sang putera. Demikian kebudayaan bersuara.

       Berapa banyak orang tua yang percaya kepada kemerdekaan anaknya sendiri? Lebih dari kepercayaan terhadap konsep dan rencananya sendiri? Anak-anak harus dituntun, dibimbing, disuluhi, menuju dunia kedewasaannya. Meskipun dunia dewasa itu bukan hal yang sedang dicari, melainkan sudah ditentukan. Meskipun kelak setelah dewasa “dewasa” sang anak tiba-tiba menjumpai dirinya sebagai “piring bagi nafsu makan” orang tuanya. Dan ia mesti tumbuh saat patuh untuk tidak menjadi pengkhianat yang menyakitkan hati orang tuanya.

       Si Makruf yang di SD ekselen dalam pelajaran berhitung dan ilmu alam, kini hanyalah seorang penguyang, penyalur penjualan padi dari desa ke kota. Beruntung kalau kemudian ia bisa sedikit mengembangkan kapasitas bakatnya dengan menjadi pekerja bengkel mobil yang disayangi Engkoh. Bahkan, di tingkat yang lebih tinggi, di kalangan pemuda-pemudi berkuliah, kesadaran akan diri sendiri terserimpung dan terseret cenderung ke fakultas-fakultas yang basah. Pengabdian keilmuan atau idealisme akan kebutuhan mendasar manusia itu suatu bombasme, sebab kementerengan tingkat pendidikan kita berujung di perihal knalpot tua. Kasus Makruf dan seterusnya itu bukan sekadar berlatar belakang ekonomis, tapi lebih pada sikap kultur. Kesadaran akan pentingnya pendidikan masih tipis di kalangan masyarakat tradisional. Dan kini pertumbuhan kehidupan modern, dengan pendidikan modern, tidak menggugah kesadaran itu dengan menyodorkan motivasi yang tepat dan esensial. Sekolah adalah anak-anak tangga yang sayup-sayup di bawah bayangan bintang gemintang kemewahan kehidupan.

       Anak-anak kita iming-iming hasil tinggi, bukan kerja. Sedang kehidupan ini terkandung di kerja, bukan hasil.

       Lingkungan menyeret segala-galanya dan itu sama sekali bukan dosa bagi setiap orang. Tanyakanlah dosa kepada Pak Kusir yang mengendalikan kuda. Bayi lahir, orangtua dan kebudayaan telah menentukan segala-galanya.

       Berapa jumlah dari kita yang tersisa?

Emha Ainun Nadjib (Caknun)
Buku: Indonesia Bagian dari Desa Saya

Masukkan alamat Emailmu.

Join 3,724 other followers

Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: