Iklan
Normantis Update

Antara Mukidi, Sang Penebus, dan Sang Penagih – Puisi Norman Adi Satria

Karya: Norman Adi Satria

Antara Mukidi, Sang Penebus, dan Sang Penagih - Puisi Norman Adi Satria

ANTARA MUKIDI, SANG PENEBUS, DAN SANG PENAGIH
Karya: Norman Adi Satria

Ratusan tahun silam moyang Mukidi bilang:
Kelak akan datang seorang penebus
mengangkat harkat martabat kita
mengentaskan gundah lara kita

Anak cucu moyang menafsir:
Pasti harkat martabat itu maksudnya adalah kekayaan
karena memang harkat martabat kita mblangsak
dan gundah lara kita menjadi-jadi lantaran kemiskinan
Tiada tafsir yang lebih sahih daripada itu, pasti!
Karena tafsir itu tertinta jelas dalam kitab oranye
karangan Mbah Broto yang konon jago menerawang hari depan

Lagipula dalam rentetan silsilah keluarga Mukidi
hanya ada satu yang beda tafsirnya yaitu Mbah Parjo
yang bilang bahwa penebus itu datang
bukan untuk menebus kemiskinan, namun hati kita
yang terpenjara segala mimpi sugih

Karuan saja Mbah Parjo selalu jadi bahan olok-olok:
Halah, beliau kan bilang begitu karena
beliau adalah satu-satunya keluarga kita
yang sudah jadi orang kaya!

Saban hari Mukidi menembangkan ayat-ayat kitab oranye
kemudian mencoba-coba menafsir bab terakhir
yaitu perihal kapan waktu penebus akan datang

Seperti mendapat ilham, Mukidi seketika tercerahkan:
Owalah, ini mah sekarang!
Ya, penebus itu akan datang!

Beberapa waktu berselang
muncullah sang penebus itu
berperawakan tanggung, berambut gondrong
dan konon sakti mandraguna
Beberapa orang pernah bilang:
kemarin aku melihat si gondrong berjalan di atas air!

Mukidi girang bukan kepalang
Dengan sedikit deg-degan ia menghampiri sang penebus
namun tak pernah sukses bercakap dengannya
lantaran ratusan orang selalu mengerubunginya

Diamati-amati Mukidi
si gondrong yang dipercaya sebagai penebus itu
rupanya tak pernah menebus apa-apa
Ia kerap kali terlihat berdiri di tengah pasar
omong soal harkat martabat yang hanya bisa meninggi
bila kita bla…bla…bla…

Mukidi teramat kecewa
nubuat yang sekian lama ia percaya
justru mewujud jauh dari yang ia sangka
Sang penebus ternyata tak ubahnya seorang motivator
Padahal Mukidi sudah kadung yakin sang penebus itu
bakal menebus: cincin kawin, mini compo, tivi, dan setrika
yang sebentar lagi dilelang oleh pegadaian.

Ya, rupanya tafsiran Mbah Parjo-lah yang benar!
Tergesa-gesa, ia buka kitab karangan Mbah Parjo
yang selama ini terbengkalai
Tertulis di sana:
Kelak berbarengan dengan datangnya sang penebus
akan datang pula sang penagih.

“Ini maksudnya apa ya?” gerenyem Mukidi
“Spada…! Spada…!” terdengar suara lelaki dari luar
“Asem! Sang penagih itu maksudnya depkolektor!”
  Sudah tiga bulan Mukidi nunggak cicilan motor Scoopy-nya.

Bekasi, 16 Oktober 2016
Norman Adi Satria

Iklan

Masukkan alamat Emailmu.

Bergabunglah dengan 4.086 pengikut lainnya

Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: