Normantis Update

Oemar Bakrie di Tegal Kuru – Sujiwo Tejo

Karya: Sujiwo Tejo

Oemar Bakrie di Tegal Kuru - Sujiwo Tejo

OEMAR BAKRIE DI TEGAL KURU
Karya: Sujiwo Tejo

Ini Baratayuda babak kedelapan. Sering pula dinamai babak Suluhan. Lelakon tentang gugurnya Prabu Gatutkaca, anak Bima dari Dewi Arimbi. Raja Pringgandani itu tewas oleh pusaka pamungkas milik Adipati Karna, pakde Gatutkaca sendiri.

Lihatlah  dari antariksa tubuh Gatutkaca yang telah jadi jenazah menukik seperti burung dara jantan ke pasangan betinanya. Bahkan, lebih laju ketimbang pembalap Valentino Rossi. Berdebum jasadnya jatuh ke tanah. Bumi terguncang kala itu, sebelum tangis melanda Pandawa dan sebaliknya tawa membahana di kalangan Kurawa.

“Kesayangan dewa itu mampus kena senjata Kunta, Mak?” tanya ponokawan Limbuk kepada emaknya.

Cangik, emaknya, perempuan tua dan kurus kerempeng, mengangguk-angguk cli Bunderan Waru Suroboyo.

“Lho, senjata Kunta walau hebat, ngedap-edapi, kan, cuma mustajab sekali pakai, Mak?”

“Memang, Mbuk. Habis sekali pakai koyok yak yako kae’, Kunta loyo. Lemas, mas  mas  mas ….”

“Lunglai  lai  lai  lai …, Mak?”

“Ho’o, Mbuk  Makanya Kunta nggak pernah dipakai untuk merek obat kuat,” kata si emak sambil membaca unek-unek anak perempuannya yang gembrot itu. Limbuk seakan mikir, Dengan pusaka apa nantinya Adipati Karna bakal menghadapi Arjuna?

Ya, entahlah.

Kalau saat itu Karna lupa bahwa dia masih harus menghadapi Arjuna pada hari lain dengan senjata pamungkas, ya, mungkin karena khilaf. Saking Adipati di Awangga itu menggebu-gebu ingin membuktikan bahwa dia bukan musuh dalam selimut Kurawa. Bahwa Karna, meski saudara kandung Pandawa sesama putra kandung Dewi Kunti, lahir dan batin memang berpihak pada Kurawa.

Kok, ndilalah di babak Suluhan Baratayuda Jayabinangun, kala itu seluruh Kurawa keteteran menyambut Gatutkaca. Tokoh yang saat bayinya saja sudah menjadi jago para dewa dalam menggempur raksasa Ditya Kala Sekipu itu memang sakti. Apalagi setelah dewasa dia tambah digdaya. Kedua tangannya bersenjata aji brajamusti dan brajalamatan yang sanggup meremukkan gunung mengoyak samudra. MURI-nya Jaya Suprana tak pernah mencatatnya sebagai rekor. Tapi, semua penonton wayang sudah mafhum akan hal itu.

Kocap kacarita ….

Hidup memang soal pilihan. Namun, tatkala itu pilihan tak ada. Maka suami Dewi Surtikanti, sedikit di antara tokoh wayang yang tak berpoligami, Adipati Karna alias Suryaatmaja, harus ambil keputusan. Dia harus mengakhiri Gatutkaca dengan pusaka yang sesungguhnya seumur hidup dia persiapkan hanya untuk menghadapi Arjuna: senjata Kuntawijaya.

Yang bikin Cangik agak heran adalah perkembangan otak Limbuk. Dulu buta huruf, lho, dia, lalu ikut program pemberantasan buta huruf di kawasan Bojonegoro. Dia lalu jadi pekerja industri alat-alat pertanian dan dapur di Desa Kuniran, Kecamatan Batangan, Kabupaten Pati.

Sekarang perkembangannya luar biasa. Cangik nggak nyangka Limbuk akan bertanya, “Laopoê kok, Adipati Karna harus ngoyo banget membuktikan diri bahwa dia bukan musuh dalam selimut negeri Astina. Padahal saat itu belum ada Demokrat. Belum ada Golkar. Belum ada PPP. Belum ada PKB. Belum ada partai-partai. Yang harus dibuktikan, kan, cuma dalil Pythagoras karena sudah ada sebelum Masehi, jauh sebelum ada wayang.”

Cangik tolah-toleh. Pertanyaan Limbuk itu tidak ada hubungannya dengan lakon “Suluhan”. Tapi, kalau dirasa-rasa, kok, omongan Limbuk yang ngalor ngidul ngetan bali ngulon3 itu terasa ada nyantol-nyantolnya juga, ya.

“Maksudmu apakah ada orang Golkar atau partai-partai yang menyusup ke Demokrat, Mbuk?”

Limbuk seakan tahu bahwa emaknya sedang berbicara kepada diri sendiri. Coro Londo-nya soliloquy.

Coro Jowo-nya nggremeng. Maka Limbuk tak menyahut. Limbuk lebih asyik mengingat-ingat dongeng Cangik sebelum Adipati Karna panas hatinya lalu membuktikan diri bukan musuh dalam selimut.

Waktu itu di depan sang pemimpin Astina, Raja Duryudana, penasihat negeri Resi Krepa terang-terangan menuding Adipati Karna sebagai musuh dalam selimut. “Raganya ada di Tanah Air kita, tapi jiwanya ada di Tanah Air para Pandawa di Negeri Amarta,” tandas Resi Krepa.

“Sinuwun, Prabu, Duryudana, mohon maaf kalau saya bicara blakblakan  Tapi, musuh dalam selimut seperti orang di samping saya ini dinobatkan jadi menteri saja tidak patut. Orang seperti ini bisa saja menjadi agen kelompok lain dalam negeri, malah agen asing sekalian. Apalagi kalau dijadikan panglima perang…”

Prabu Duryudana cuma berdeham-deham sambil tetap duduk di singgasana. Namun, bokongnya tak tenang, pertanda gelisah. Sudah beberapa kali dia ingin menghentikan peperangan darah Barata. Dia akan kembalikan saja negeri Astina yang memang hak Pandawa. Tapi, Adipati Karna selalu membuat gelagat  Baratayuda lanjutkan  lanjutkan  bersama kita bisa.

“Artinya, kan, Adipati Karna memang mati-matian jiwa raga membela Duryudana?” tanya Limbuk dan Cangik pada ponokawan Gareng, di bawah pohon, di tepian Tegal Kurusetra.

“Belum tentu. Adipati Karna itu tahu, kok, dirinya sudah dikutuk oleh gurunya, Resi Druwasa. Isi kutukan, Karna bakal lupa mantra jika akan melepaskan senjata Kunta kepada Arjuna ….”

“Artinya, Adipati Karna sudah tahu bahwa dia dan Kurawa bakal kalah? Tapi, kenapa dia juga yang terus ngompor-ngompori Duryudana agar Baratayuda  lanjutkan  lanjutkan?”

Ah ….

Bersamaan perbincangan ponokawan itu, senapati Pandawa, Gatutkaca, telah menggegana di langit Tegal Kurusetra. Bersiap dia menghadapi senapati Kurawa, Adipati Karna. Prabu Duryudana beserta seluruh hulubalang dan prajurit mendongak ke dirgantara, menerawang Gatutkaca terbang. Seolah mereka lupa pesan leluhur: jangan selalu memandang ke atas.

Pada saat itulah seluruh pagar betis kecolongan: seorang tukang rumput naik sepeda Oemar Bakrie melintas tepat di depan sang Raja.

“Saya tahu alasan sebenarnya kenapa Adipati Karna maju. Kalau Raja mau mendengarkan, saya akan bercerita,” ujar Pak “Bakrie” saat diringkus regu pengawal. Wajahnya mirip tukang rumput bersepeda yang lolos masuk arena upacara di Istana Tampak Siring, Bali, sebelum akhirnya diringkus Paspampres.

Sujiwo Tejo
Buku: Lupa Endonesa

Masukkan alamat Emailmu.

Join 3,699 other followers

Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: