Normantis Update

Bukan Rangga dan Cinta 2 – Puisi Norman Adi Satria

Karya: Norman Adi Satria

BUKAN RANGGA DAN CINTA 2
Karya: Norman Adi Satria

Baca Bukan Rangga dan Cinta 1 – disini

24 Januari 2004
Ini malam minggu ke empat kau dan lelaki bernama Satria itu bersua
lagi-lagi di gereja, seusai misa.
“tadi kamu duduk dimana?” tanyamu.
“di sebelah kanan altar.” jawabnya.
“oya? kok nggak kelihatan? padahal aku di seberangnya.”
“mungkin karena aku menutup mata.”
“masa kamu yang menutup mata, aku yang nggak bisa ngelihat?”
“aku ada-ada aja ya?”
“iiih, harusnya aku yang ngomong begitu: kamu ada-ada aja deh! gitu!”

26 Januari 2004
Semua kawanmu telah datang.
“Ir, ayo tiup lilinnya.” kata Ibu.
“tunggu sebentar, Bu. Ada yang masih ditunggu.” jawabmu, gelisah.
“temanmu yang di gereja itu?” tanya Ibu.
“iya.” jawabmu.

Berjam-jam menunggu
kau akhirnya memadamkan lilinmu
kawan-kawanmu telah kenyang
kemudian pulang

Kau lepas gaun putih itu
menggantinya dengan kaus dan celana pendek oranye
merapikan sisa-sisa kemeriahan yang terasa senyap
“Bukankah seharusnya ada cie-cie di momen itu?” batinmu
Kau berkhayal: Satria ada di sampingmu, menerima potongan kue pertama
kemudian terdengar suara: cieee…. cieeee… ehem… eheeem… uhuk! kampret, keselek!

Lamunan tiba-tiba dibuyarkan dering telefon rumah
“biar Irma yang angkat, Bu.” katamu.
“ya sudah.” Ibu batal mengangkat telefon, melangkah pergi.
Kau komat kamit: semoga ini dari Satria, semoga ini dari Satria…
“halo.”
“halo, bisa bicara dengan Ibu Suwarni?”
“mmm, tunggu sebentar ya, Bu. saya panggilkan Ibu. Ibu, ada telefon….”
“tau gitu, Ibu saja tadi yang ngangkat…” omel Ibu.
“ya, kirain…”

Kau beres-beres piring lagi
menyapu serpihan kue
mengepel tumpahan soda
“soda aja gembira. masa aku nggak?” batinmu
Apapun kini mulai membuatmu sensi
tak terkecuali suara tawa Ibu yang masih asyik dengan gagang telefon
“ngobrolin arisan, apanya yang lucu?
dikocok-kocok terus keluar badut? gitu?” batinmu, nesu.

Misuhmu buyar kala mendengar suara empat sepeda motor memasuki gerbang
kau keluar, mendapati tiga buah Supra X, satu buah Vespa Sprint bercat hijau
tiada satupun yang kau kenal, kecuali si penunggang Vespa
“Satria?” ucapmu, “kok tadi nggak kedengaran suara Vespanya?”
“mogok. hehehe…”
“mogok dimana? kok nggak nelfon?”
“ini, nelfon teman-teman. mereka yang gantian mendorong Vespaku.”
“maksudku, kenapa nggak nelfon aku?”
“masa minta tolong dorongin Vespa ke orang yang lagi tiup lilin?”

Mendengar itu kau baru menyadari bahwa kau
hanya dibaluti kaus dan celana pendek oranye
dan kue selilin-lilinnya telah tiada
“aku ganti baju dulu ya. kamu sih telat.
kuenya juga udah habis. tapi makanan masih banyak kok.”
“ga usah ganti baju. kaya gitu aja nggak apa.”
Satria melepas jaketnya, terlihat kaus oranye di dalamnya.
Ia mengenalkan teman-temannya satu per satu
Dadhi, Wian, Rizky
dan satu lagi: Vespa

Konon, Vespa yang keseringan mogok
pertanda penunggangnya sudah terlalu lama jomblo:
businya kotor.

Bekasi. 13 September 2016
Norman Adi Satria

Masukkan alamat Emailmu.

Join 3,725 other followers

1 Trackback / Pingback

  1. Bukan Rangga dan Cinta 1 – Puisi Norman Adi Satria – Puisi Normantis

Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: