Normantis Update

‘He, Remco …’ (Mati itu apa, katamu?) – Puisi WS Rendra

Karya: WS Rendra

Remco Campert, penyair Belanda, sahabat WS Rendra.

‘HE, REMCO …’
Karya: WS Rendra

He, Remco,
mati itu apa, katamu?

Di jalan
orang tertembak peluru nyasar
sementara ada demonstrasi.
Ia menggeliat lalu mati.
Orang yang lain bekerja keras seperti lembu,
mendapat banyak uang dan gembira.
Ia suka makan lalu akhirnya sakit gula.
Kemarin ia mati.
Mereka tak tahu politik.
Merek menonton TV.
Mereka tak ada dalam sejarah.

He, Remco,
mati itu apa, katamu?

Ada orang mati tengah sanggama.
Ada orang mati aku lihat sendiri
di rumah sakit
teman sekolahku
aku lupa namanya.
Dulu, sudah lama.
Lalu ada burung mati oleh ketapel.
Lalu ada peristiwa tabrak lari.
Hari Senin.
Hari Selasa.
Hari Rabu.
Apa ada hari tertentu
yang baik untuk mati?

Anu … Remco, anu …
Ini begini
Ada janda kembang
ia buntung, tak jelas lelakinya.
Para tetangganya bernyanyi
menyindir-nyindir setiap hari.
Lalu kepala desa
datang menghibur
tapi tak urung menidurinya juga.
Lalu di hari raya Proklamasi Kemerdekaan
si janda mati menggantung diri.
Perutnya bunting seperti bola.

Anu, Remco,
mati itu …
apa katamu?

Ada “ninja”, pembunuh misterius,
mengacau pesantren di desa.
Ia tertangkap
dihajar orang-orang desa.
“Siapa menyuruh kamu?” tanya mereka.
“Uang,” jawabnya.
Matanya dicukil, dipaksa mengaku.
“Ayo, katakan siapa menyuruh kamu?”
“Uang! … Uang … Uang!”
begitu terus jawabnya
biarpun terus disiksa
sampai nyawanya melayang.

Mati itu … anu …
bagaimana …
apa katamu?

Langit keruh.
Hidup kumuh.
Hari, tanggal, bulan, tahun … lusuh.
Para mahasiswa berbaris.
Mereka menyanyi
Demonstrasi.
Mereka ingin hari-hari cerah.
Ada matahari. Ada nasi. Ada … anu.
Lalu polisi melepas tembakan.
Politik? Politik?
Berapa persen dari polisi tahu politik?
Berapa persen dari mahasiswa tahu politik?
Siapa bisa menggambarkan
perubahan ke arah perbaikan yang mendasar
setelah ada pembunuhan dan pembantaian?
Siapa bisa mengatakan bahwa …
anu …
tapi mereka, semua saja, tahu
artinya Elvin Presley atau Muhammad Ali
atau kamu, atau aku.
Juga tahu
bahwa kalau peluru ditembakkan
dan menghantam badan orang,
maka si korban bisa,
atau kemungkinan terbesar sangat bisa,
mati.

Tempo dulu,
di sajakmu yang itu
kamu bilang mati itu,
… apa katamu?

O, ya, ini terjadi,
aku lihat sendiri,
bayi haram dibuang ke kali
yang hitam penuh polusi
di dekat pelabuhan.
Tentu saja mati.

He, Remco!
Rokokku habis.
Boleh aku minta sebatang dari kamu?

Cipayung Jaya, 19 November 1998
WS Rendra
Buku: Doa Untuk Anak Cucu

*Remco: penyair terkemuka Belanda, sahabat dekat WS Rendra.

Masukkan alamat Emailmu.

Join 3,725 other followers

%d bloggers like this: