Normantis Update

Esai Cak Nun: Di Desa Hidup Selayaknya

Karya: Emha Ainun Nadjib (Cak Nun)

Kita bukan sedang berangkat dari titik nol dalam usaha menjinakkan teknologi. Kita juga bukan sedang berhadapan dengan ganjalan-ganjalan dalam diri subjek masyarakat kita sendiri, sebab mungkin ganjalan itu justru sedang kita rangkul dengan suka hati. Kita bukan sedang menyekolahkan rakyat untuk memiliki kemampuan penjinakan itu, sebelum mempergaulinya; melainkan sudah berada di arena. Sebagai masyarakat kita telah berada cukup jauh dalam penguasaan suatu sistem perekonomian tertentu yang merambahkan singa-singa teknologi tinggi tanpa sempat terlebih dahulu mempersiapkan modus adaptasi atau antisipasinya.

Kemudian, kita justru sedang giat-giatnya menumbuhkan dan mengukuhkan sikap mental hidup sedemikian rupa yang malahan merupakan musuh dari kreativitas, selektivitas, produktivitas dan prospek berteknologi tepat. Kisah Pak K di atas adalah pertanda bahwa ada yang ‘kecolongan’ dalam pola kebudayaan teknologi kita. Ada ketimpangan yang memang sejak semula tidak dicoba penghindarannya. Pak K adalah gambaran dari sikap konsumerisme yang absurd, yang bahkan telah sampai pada takaran yang memalukan. Ataukah “mengajari rakyat berteknologi” itu justru merupakan langkah awal dari urgensi menyelamatkan masyarakat dari raksasa-raksasa produser gaya dan kebutuhan hidup mereka? Kalau misalnya secara nasional ada suatu bentuk strategi politik ekonomi yang berusaha mencegat tangan cengkeraman itu secara agak frontal, bisakah ia cukup manusiawi dan bersusila untuk kecenderungan tata ekonomi yang bagaimana pun liberal kapitalistis karena justru strategi itu dibikin bertolak dari rasa susila dan rasa kesamaan sebagai bangsa?

Hukum-hukum politik perekonomian yang betapapun berdasar pada kesusilaan semacam itu, tidaklah bakal mampu merespons yang cukup berarti terhadap perubahan-perubahan sosial kultural yang didorong oleh produksi-produksi teknologi yang berlangsung sedemikian licin, terasa layak dan sah. Kita baru mampu bermimpi tentang sistem perekonomian Pancasila, sementara yang terjadi adalah kutub lain dari pimpinan itu. “Wis sakmesthineml”, sudah selayaknya, kata Pak K yang karenanya akibat-akibat sampingan yang berproses dalam tubuh sosio-kultural masyarakat dirasakan sebagai ‘sakmesthine’ juga. Bahkan, melunturnya tata hidup keagamaan dan keadatan yang untuk masyarakat kita merupakan bagian paling sensitif. Semua ‘wis sakmesthine’, dan setiap orang berhak mengusahakan hidup lebih selayaknya. Wis sakmesthine.

Kelayakan adalah mutlak sebagai patokan nilai hidup. Namun di manakah ia berada? Di manakah letaknya? Kita selalu cenderung untuk tidak mengendalikan bahwa kadar dan takaran kelayakan itu bergeser, berkembang, dan terus-menerus berkembang. Statisnya kelayakan dalam pada itu juga merupakan ortodoksi yang tak dikehendaki oleh kriteria kemajuan secara modern. Tetapi, kelayakan yang selalu berusaha ditingkatkan pada taraf hidup masyarakat tidaklah ditulang-punggungi oleh kesadaran dan komitmen terhadap kreativitas dan produktivitas hidup, melainkan lebih oleh keserakahan konsumerisme. Semua orang di desa Pak K tak lain adalah mengejar kelayakan semacam itu. Pembangunan nasional yang kita sepakati bersama ini ternyata mendidik pencapaian kelayakan semacam itu.

Ke titik manakah kita menatap? Ke benda-benda atau ke manusia?

Ini bukan pertanyaan yang mencoba menceraikan benda dari manusia. Keduanya bernaung di satu kodrat. Keduanya komplementer dan dialektik. Tapi siapa memimpin apa?

Emha Ainun Nadjib (Cak Nun)
Buku: Indonesia Bagian Dari Desa Saya

BERANI NONTON VIDEO NORMANTIS? KLIK AJA!

KARYA TERBARU

Masukkan alamat Emailmu.

Bergabunglah dengan 1.763 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: