Normantis Update

Esai Cak Nun: Di Desa Hidup Selayaknya

Karya: Emha Ainun Nadjib (Cak Nun)

Satu contoh ‘klasik’: sepeda motor, secara langsung atau sedikit demi sedikit, dalam kadar sangat renca pun, akan mengendalikan (kalau tidak bisa disebut memperbudak) sikap dan mekanisme hidup mereka sehari-hari. Betapa pun hal demikian boleh kita abaikan, tetapi sepeda motor dan TV tidak berdiri sendiri, dan sebagai gejala yang makro dan merata harus kita akui bahwa ia membawa pergeseran warna hidup secara sosial. Apa yang salah dengan suatu pergeseran sosial? Tidak ada, bahkan itu adalah tanda dari suatu dinamika. Setiap dinamika meminta ongkos terjadinya kehilangan-kehilangan. Dan kemajuan akan teruji kebenarannya apabila atas kehilangan-kehilangan ini bias ditemukan ganti-gantinya. Di atas ada tentang terhapusnya beberapa tatanan dan pertalian kehidupan desa: pengganti dan keterhapusan itulah masalahnya. Masyarakat perkotaan umpamanya melepaskan diri dari tatanan dan pertalian yang lazim terdapat di masyarakat tradisional desa. Kapankah kita patut bertanya perihal tatanan-tatanan baru, yang mampu mencapai tingkat lebih tinggi secara peradaban manusia, sesuai dengan tingkat kemajuan yang notabene menjadi hak orang kota? Sedang orang-orang desa berlomba jadi orang-orang kota.

Televisi, di samping kedudukannya sebagai pemenuh mimpi kultur yang kewajarannya dipertanyakan, juga memberi degup yang berbeda dalam kehidupan desa. Pak L mengalami dilema dengan TV-nya. Kalau ia nikmati sendiri saja bersama keluarganya di kamar, ia akan dituduh pelit, akik zaman. Tapi nyatanya sesudah televisinya ia sosialkan, puluhan tetangga yang berkumpul di rumahnya tiap malam,

tidak jarang merepotkannya. Ini masalah kecil. Tapi anak-anak makin malas mengaji di surau dan tidak belajar sesudah Isya, melainkan nongkrong saja di depan kaca hidup itu sampai larut malam. Bapak-bapak tani menurun kerajinan kerjanya karena secara psikologis sesudah mentivi sampai larut, malas bangun pada dini hari. Tetapi, yang terpenting ialah tawaran-tawaran yang disodorkan oleh isi tontonan televisi itu sendiri kepada alam jiwa dan sikap kehidupan mereka. Orang-orang desa dirangsang dan ditantang untuk juga ikut masuk dan terlibat dalam suatu dunia baru, yang kemungkinan mereka belum siap secara kultur untuk waktu yang tak cukup pendek.

Televisi dan benda-benda semacamnya notabene adalah suatu kemajuan konkret, tatkala hadir di desa. Tetapi masalahnya tidak segampang mengucapkan kata kemajuan. Masalahnya lebih rumit dan naif dari sekadar soal “maju karena punya TV”. TV sebagai tontonan tidaklah hadir serempak dengan kesiapan masyarakat desa – taraf pendidikannya, taraf konsumsi riilnya – untuk mana TV bisa berperan benar-benar sebagai salah satu modus komunikasi yang paling efektif. Benda-benda gemerlap itu merupakan produk kultur teknologi yang mencampakkan orang-orang desa sedemikian rupa ke dalam impian kemewahan yang meminta hampir seluruh hidup mereka. Sebab tidak atau belum mungkin dituntutkan kepada mereka seberapa jauh mereka mampu memberi arti produk teknologi yang menjadi simbol kemajuan taraf hidup mereka itu, di dalam konteks ‘ideologis’ kemasyarakatan mereka sendiri. Bahwa ia tidak bisa dan tak boleh dielakkan untuk hadir, seberapa jauh bisa merupakan ‘excuse’ terhadap akibat-akibat sampingannya. Ini bukan hanya soal terjemahan strategi ‘teknologi tepat’, tetapi sepenuhnya berurusan dengan pertanyaan mendasar: sebagai masyarakat, sesungguhnya kita mau apa, mau ke mana?

Sering dikatakan orang bahwa masalah kita bukanlah bagaimana mengelakkan teknologi, melainkan bagaimana menjinakkannya, bagaimana mengajari rakyat berteknologi secara kreatif produktif, selektif, dan prospektif.

Batu-batu tajam harus dilewati untuk itu. Tajam dan sangat tidak sederhana. Sebab kita bukan sedang berdiri di pinggir sungai, kemudian mesti memilih mau terjun ke sungai atau jalan lempeng saja menelusuri tanggul yang hijau. Tidak. Kita sudah berada dalam arus sungai itu. Dan sepatu dan celana kita sudah basah. Bahkan barangkali lebih dari itu: otak di bawah rambu: kita pun sudah basah.

BERANI NONTON VIDEO NORMANTIS? KLIK AJA!

KARYA TERBARU

Masukkan alamat Emailmu.

Bergabunglah dengan 1.767 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: