Normantis Update

Esai Cak Nun: Di Desa Hidup Selayaknya

Karya: Emha Ainun Nadjib (Cak Nun)

Motivasi pertama ialah agar ruang depan rumahnya terhiasi dan terpajangi TV, menyetelnya sejak sore hingga malam, tanpa terlampaui peduli apa gerangan yang mereka tonton dari benda itu. Bisa juga untuk tak usah jauh-jauh nonton ludruk, ketoprak, penyanyi-penyanyi berlenggok, sirkus Londo serta berbagai gambar hidup lain yang tak selalu mereka mengerti. Akan hal siaran berita atau acara- acara lain yang hanya menampilkan omongan, terletak di urutan terakhir dari kualifikasi selera, bahkan tak ada pun tak apa. Siaran iklan jauh lebih mengasyikkan.

TV atau motor tidak berfungsi sebagai apa yang semula dimaksudkan oleh teknologi barang ini. Seperti juga perombakan rumah agar bisa dilihat orang. TV dan motor adalah indikator gengsi dan tingkat tinggi martabat sosial mereka. Namun kata orang biarlah pertama-tama motivasi itu sedemikian ‘primitif’ dan materialistis. Rangsangan pemula mesti di kulit luar. Tapi percayalah lambat laun akan merembes masuk TV, oleh yang punya gawe. Pemerintah dalam hal ini toh diselenggarakan dalam kerangka maksud yang kultural-edukatif. Percayalah bahwa akhirnya para penduduk desa itu akan makin menemukan motivasi-motivasinya dalam bergaul dengan TV. Motivasi yang lebih substansial dan esensial.

Benar demikian? Ini adalah pertanyaan yang harus dijawab oleh seberapa jauh kualitas siaran TV, seberapa relevan dan efektif pola dan isi kehadirannya di tengah kondisi dan tingkat masyarakat yang menjadi penontonnya. Dan ini masih berupa tanda tanya besar.

Akan tetapi, persoalannya bisa bergeser ke belakang dari hal isi siaran TV. Untuk kasus tak sedikit bagian dari masyarakat pedesaan kita persoalannya justru lebih terletak pada seberapa urgen kebutuhan akan pesawat TV bagi tingkat kondisi kehidupan dan penghidupan seseorang. Kita bisa berpikir bahwa dalam kerangka dan irama kultur secara makro, masyarakat memang membutuhkan TV sebagai alat komunikasi. Tetapi kita juga harus berpikir bahwa dari ilustrasi di awal tulisan ini, apa yang dilakukan oleh Pak K adalah suatu ironi dan ketimpangan. Pak K adalah suatu sampel yang mengharuskan kita lebih berhati-hati menterjemahkan makna kemajuan. Dari sudut lain terlihat bahwa ini adalah contoh mencolok di depan hidung kita betapa tangan-tangan raksasa teknologi kapitalistis telah mencengkeram hingga ke rongga terdalam dari tubuh kebudayaan masyarakat kita. Satu sisi realitas yang naif: masyarakat telah didorong sedemikian rupa, dipaksa secara kultur dengan dahsyat untuk memiliki apa-apa yang sesungguhnya tidak atau setidaknya belum merupakan kebutuhan dasar yang berasal dari dirinya sendiri.

Seorang buruh tani yang berumah gedek dan sehari-harinya bergaul dengan cangkul di sawah dan singkal kerbau, bahkan tidak sempat meruntuti tahapan-tahapan tingkat sosial-ekonomi kehidupannya  dengan pola-pola konsumsinya. Pak K yang tersebut di atas tidak sempat cukup bersabar untuk terlebih dahulu memugar sedikit demi sedikit rumahnya agar kemudian cukup pantas untuk didiami sebiji Yamaha atau seonggok televisi. Sebab hampir bisa dipastikan, sesudah ia kembali menabung uangnya ia akan secepatnya memboyong pesawat televisi untuk menonton apa saja yang betapa pun sukar masuk di otaknya.

Program Keluarga Berencana di salah satu bagian strategi pemasyarakatannya ada dimaksudkan “TV masuk desa” buat hiburan rakyat dusun supaya tidak mengintertain diri hanya dengan seks belaka. Ini bisa dipahami. Tetapi ada banyak ekor-ekornya. Kehadiran TV bahkan turut aktif menyapu beberapa tatanan kehidupan di desa. Tidak usah karena program KB orang desa sudah melelehkan air liur memimpikan TV berkat kekuatan kulturasi yang didesakkan oleh jaringan ekonomi tinggi. Ini bukan hal yang bisa dielakkan, pun tak perlu sekadar dikutuk, bahkan secara keseluruhan masyarakat memang menyenanginya, meskipun beberapa gelintir kaum cendekiawan menggelisahkannya.

Bagaimana Pak K bisa mengerti bahwa selera kebutuhannya ditentukan antara lain oleh sebuah knop otomat di Tokyo. Bagaimana masyarakat itu memahami bahwa laju hidup mereka ‘dihardik’ oleh segolongan kecil penentu isi dan wajah hidup, di dalam suatu iklim yang dipiloti oleh sofistikasi ekonomi. Orang-orang desa juga hanya dalam kadar yang rendah dan samar belaka merasakan akibat sampingan dari apa-apa yang mereka pilih bagi perikehidupan mereka sendiri.

BERANI NONTON VIDEO NORMANTIS? KLIK AJA!

KARYA TERBARU

Masukkan alamat Emailmu.

Bergabunglah dengan 1.763 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: