Normantis Update

Esai Cak Nun: Di Desa Hidup Selayaknya

Karya: Emha Ainun Nadjib (Cak Nun)

DI DESA HIDUP SELAYAKNYA
Karya: Emha Ainun Nadjib (Cak Nun)

Waktu senja tiba Pak K memasukkan Honda CB-125-nya ke dalam rumah, kemudian menyalakan lampu teplok yang tercantel di dinding gedek bambu. Sebenarnya ‘besi’ bikinan Jepang itu nampak ganjil di ‘garasi’-nya: berdiri di atas lantai tanah, dikurung gedek seluas 3 x 4 meter, termangu-mangu di sisi dipan galar dengan tikar yang lusuh dan sobek, serta meja kursi kayu yang sudah agak reot. Tetapi, Pak K tidaklah merasakan keganjilan itu. Ia hanya merasa nyaman dengan impian yang kini dikenyamnya: sepeda motor merah tua itu.

Wah markir kerbau Pak? – sapa tetangganya bercanda. Iyo rek! – Pak K menjawab tersipu-sipu – Urip iku yo ngene iki nggar thithik…! – (Ya! Beginilah hidup, sedikit demi sedikit…).

Ia, sebagaimana orang-orang lainnya di desa, berusaha keras mencapai kemajuan hidup. Kerja sebisa-bisa dan membeli hal-hal yang selayaknya dibeli. Secara keseluruhan bisa dikatakan bahwa umumnya orang sedesanya sudah lebih pesat mencapai kemajuan itu. Pak K hanyalah salah seorang saja dari mereka. Sudah hampir 30 orang yang punya sepeda motor. Yang punya TV kira-kira 20 orang. Rumah-rumah baru yang bangunannya seperti omahe wong kutho (rumah orang kota) sudah makin merata di desa. Putra-putra desa yang berlarian kerja di kota memelopori hal ini. Jualan martabak, usaha dagang ini itu di kota, jadi buruh pabrik, jadi karyawan di rumah prostitusi atau satu dua putri jadi sang kupu-kupunya, bahkan yang sekadar menjadi pembantu rumah tangga saja pun, bisa menghimpun uang untuk dibawa pulang dan dipakai membangun rumah, paling tidak memugarnya, membeli ini itu.

Kaca lebar dan dua jalur kaca buka tutup di bagian depan rumah. Kemudian nampak dari luar meja bufet dengan hiasan bunga dan barang pecah belah, almari di pojok kiri dan pesawat TV di pojok kanan, lantas mebel. Sekarang Pak Lurah sudah beli disel listrik, jadi bisa pasang neon. Yang penting bagian depan rumah mesti nampak mentereng. Bagian belakangnya nantilah, biar sementara tetap gedek tak apa.

Cuma yang harus dididik ialah Simbok. Ia mesti dibikin mengerti untuk tidak menaruh bekas susurnya di selipan kursi mebel atau menaruh gombal serbet di tangkap kunci pintu dan jendela.

Si M kalau pulang ke desa, biar hanya sehari, rasanya tidak sreg kalau tidak membawa serta pesawat TV-nya. Pernah bahkan ia membawa pengeras juga agar para tetangga berkesempatan mendengar bunyi siaran televisi. Semangat kebersamaan, gotong royong, berbagi suka, masih cukup tebal adanya. Pak H, daripada tiap hari mesti ngungsi ke tetangga untuk ikut nonton televisi, mending jual satu dua sapi untuk bisa membelinya. Bu B bahkan menukar sebagian sawahnya dengan TV, sambil menyediakan motor Yamaha untuk iming-iming calon menantunya meskipun sampai hari ini belum juga ada gelagat bahwa salah seorang pemuda hendak melamar putrinya.

Alhasil kehidupan orang-orang di desa ini taraf hidupnya sudah makin layak. Dan segala yang mereka lakukan buat impian-impian itu tak lain memang sudah selayaknya,…

Apakah untuk memiliki pesawat TV seseorang harus terlebih dulu bisa berbahasa Indonesia, karena semua siarannya berbahasa Indonesia, bahkan berbahasa Inggris? Untuk fungsi komunikasi televisi barangkali jawabannya musti “ya”. Tetapi mungkin juga tak perlu. Di desa itu di atas 50 persen penduduk tak bisa berbahasa Indonesia. Selebihnya bisa sedikit-sedikit memahami secara pasif dan amat sedikit darinya bisa berbahasa aktif. Tetapi pemilikan TV di desa itu tak ada hubungannya dengan perihal bahasa. Tidak juga umpamanya dengan keinginan lebih besar untuk menyerap dunia, memperoleh wawasan dari pelbagai siaran beritanya, atau berbagai kesadaran lain yang bisa dikaitkan dengan fungsi televisi sebagai media massa.

Masukkan alamat Emailmu.

Join 3,710 other followers

%d bloggers like this: