Normantis Update

Dua Putri (The Two Princesses) – Kahlil Gibran

Karya: Kahlil Gibran

DUA PUTRI
Karya: Kahlil Gibran

Di Kota Shawakis tinggallah seorang pangeran yang dicintai oleh rakyatnya, baik laki-laki, perempuan maupun anak-anak. Bahkan binatang di padang rumput pun mendatanginya untuk mengucapkan salam.

Tapi semua orang mengetahuo bahwa istri sang Pangeran tidak mencintainya, bahkan membencinya.

Suatu hari putri kerajaan tetangga datang untuk mengunjungi Putri Shawakis. Mereka duduk dan bercakap-cakap. Akhirnya pembicaraan menyangkut suami-suami mereka.

Putri dari Shawakis berkata, “Aku iri dengan kebahagiaanmu dan suamimu yang telah menikah bertahun-tahun. Aku benci suamiku sendiri dan aku adalah wanita paling tidak bahagia.”

Tamu putri itu menatapnya dan berkata, “Temanku, yang benar adalah engkau mencintai suamimu. Dan engkau masih memiliki gairah yang terpendam, dan itu adalah kehidupan yang disukai wanita, seperti indahnya musim semi di taman. Tapi kasihan aku dan suamiku, yang saling memikul beban satu sama lain dalam kesabaran dan kesunyian. Hal seperti itulah yang dianggap orang lain sebagai kebahagiaan.”

Kahlil Gibran
Buku: Sang Pengelana


THE TWO PRINCESSES
By: Kahlil Gibran

In the city of Shawakis lived a prince, and he was loved by everyone, men and women and children. Even the animals of the field came unto him in greeting.

But all the people said that his wife, the princess, loved him not; nay, that she even hated him.

And upon a day the princess of a neighboring city came to visit the princess of Shawakis. And they sat and talked together, and their words led to their husbands.

And the princess of Shawakis said with passion, “I envy you your happiness with the prince, your husband, though you have been married these many years. I hate my husband. He belongs not to me alone, and I am indeed a woman most unhappy.”

Then the visiting princess gazed at her and said, “My friend, the truth is that you love your husband. Aye, and you still have him for a passion unspent, and that is life in woman like unto Spring in a garden. But pity me, and my husband, for we do but endure one another in silent patience. And yet you and others deem this happiness.”

Kahlil Gibran
Book: The Wanderer

Masukkan alamat Emailmu.

Join 3,725 other followers

%d bloggers like this: