Normantis Update

Puisi Mantan di Kuburan – Norman Adi Satria

Karya: Norman Adi Satria

MANTAN DI KUBURAN
Karya: Norman Adi Satria

1.
Selvi dan suaminya, Rusli,
terlelap dalam seranjang suami istri.

Malam itu,
sebuah pesan merasuki ponsel Selvi,
“Sel, Rendi meninggal.”
Rendi adalah mantan pacar Selvi,
lelaki yang pernah mengisi hati.

Selvi menahan isak tangisnya,
jangan sampai membangunkan suaminya.
Tersisa hanya airmata,
tanpa suara.
“Mas, maafkan aku.
Airmataku mengalir untuknya.”

2.
Ini pagi,
Selvi mengajak Rusli melayat.
Rusli tak pernah tahu,
istrinya dan lelaki
yang terbaring di peti itu
pernah saling rindu.
Rusli tak curiga,
tak juga ingin bertanya
siapakah dia.

Sanak keluarga Rendi
tangisnya semakin menjadi
melihat kehadiran Selvi.

Kakak Rendi berbicara
mewakili keluarga.
Ada selembar puisi
yang ditinggalkan Rendi,
dia membacakannya.
Sebuah puisi tentang cinta.
Selvi tak bisa menahan airmata,
dia tahu betul itu puisi untuknya.

Rusli tak pernah mengerti puisi,
juga tak pernah bisa
menerjemahkan makna
dari tetesan airmata.
Bahwa Selvi merindukan mantannya.
Dan Rusli selalu gagal
untuk memahami istrinya.

3.
“Aku tak pernah melihat airmatamu.
Itu pasti puisi yang bagus,
sampai bisa menyentuhmu.”
kata Rusli kepada Selvi
sambil melangkah pulang,
tetap tak mengerti apa yang telah terjadi.

Bekasi, 18 Agustus 2013
Norman Adi Satria

Masukkan alamat Emailmu.

Join 3,699 other followers

%d bloggers like this: