Normantis Update

Acong dan Joko pada Mei 1998 – Puisi Norman Adi Satria

Karya: Norman Adi Satria

ACONG DAN JOKO PADA MEI 1998
Karya: Norman Adi Satria

Saat kecil,
saya tampak seperti
anak Tionghoa pada umumnya
yang sipit tembem berponi,
yang namanya selalu Acong.

Teman saya
semuanya anak Jawa
yang sawo matang kerempeng dan rambut kuncung,
yang namanya selalu Joko.

Semua teman saya berbahasa Jawa,
hanya saya berbahasa Indonesia.
Mereka belajar bahasa Indonesia pada saya,
saya belajar bahasa Jawa pada mereka.

1994
Keluarga saya pindah rumah.
1998
Kondisi nasional memanas.
Hampir semua Joko memerangi Acong.

Saya melihat salah satu Joko teman saya
menjadi pimpinan penjarahan rumah orang Tionghoa
di komplek perumahan saya.
Dia berorasi
dalam bahasa Indonesia
yang dia pelajari dari saya
ketika dulu bermain kelereng bersama.

Saya hanya menunggu di teras rumah,
menunggu rumah saya dijarah.
Joko melihat saya,
dia mengenali saya.
Dia berhenti sejenak,
mungkin terkenang masa kanak-kanak.
Raut mukanya berubah,
dan mengajak pergi semua penjarah.
Di ujung gang saya melihat Joko
menangis seperti bocah.

Bekasi, 7 Agustus 2013
Norman Adi Satria

Masukkan alamat Emailmu.

Join 3,725 other followers

%d bloggers like this: