Normantis Update

Sajak Lelaki Pada Lima Belas Tahun Lalu – Norman Adi Satria

Karya: Norman Adi Satria

SAJAK LELAKI PADA LIMA BELAS TAHUN LALU
Karya: Norman Adi Satria

Lelaki yang baru keluar dari penjara itu
pulang ke rumah yang tak ditinggali
selama lima belas tahun.
Angka yang sama dengan hukumannya.

Dia melihat segala debu dan kotoran melapisi tiap benda.
Namun setebal apapun debu
takkan menutupi ingatannya
bahwa tak ada satupun yang berpindah dari tempatnya.

Termasuk gelas yang pecah itu,
sehelai rambut panjang itu,
ceceran darah kering itu,
dengungan suara tangis itu,
dan langkah kaki itu.

Pecahan gelas itu adalah gelasnya
yang terjatuh dari tangannya
sepulang kerja
lima belas tahun lalu
ketika terkaget melihat istrinya keluar kamar
dengan bertelanjang dan menciumi lelaki lain
yang entah siapa.

Sehelai rambut panjang itu adalah rambut istrinya
yang ia tarik paksa
untuk menjelaskan segalanya
dalam bugil
tanpa selembar kain pun.

Ceceran darah kering itu adalah darahnya sendiri
ketika berkelahi dengan lelaki
yang meniduri istrinya.

Suara tangis itu adalah tangis istrinya
yang memohon jangan menyakiti lelaki simpanannya,
“Bunuh saja aku, jangan dia.”

Suara langkah kaki itu
adalah suara langkahnya
pergi meninggalkan rumah,
membiarkan istrinya
entah untuk bahagia atau untuk sengsara
bersama lelaki selingkuhannya
yang ternyata adalah seorang aparat
yang akhirnya melaporkan tindak penganiayaan,
hingga hukuman dijatuhkan padanya
tanpa peradilan.

Di hari ini
saat dia pulang
hanya satu yang berubah:
sepucuk surat tertutup debu
tergeletak di atas meja
dekat mawar yang layu.
Dia mengambilnya
menyobeknya hingga tak mungkin terbaca.
Dia sudah tak tertarik lagi
pada penyesalan istrinya
yang mungkin tertulis di dalam surat itu,
yang takkan lunas membayar
lima belas tahun
yang berlalu.
Dia mengawali hidup
yang baru.

Bekasi, 7 Juli 2013
Norman Adi Satria

Masukkan alamat Emailmu.

Join 3,703 other followers

%d bloggers like this: