Normantis Update

Nama, Atau Mengapa Juliet Salah – Catatan Pinggir Goenawan Mohamad

Karya: Goenawan Mohamad

ROMEO AND JULIET, from left: Douglas Booth, Hailee Steinfeld, 2013. ©Relativity Media/courtesy Everett Collection

CATATAN PINGGIR: NAMA, ATAU MENGAPA JULIET SALAH
Karya: Goenawan Mohamad

SEBUAH klise: What is in a name?

Sejak lakon Romeo and Juliet dipentaskan di tahun 1597, kata-kata itu diulang dalam berjuta-juta percakapan. Tiap kali orang kerepotan karena soal nama, dikutiplah Juliet (atau persisnya Shakespeare) di adegan itu: nama bukan soal penting. Juliet Capulet dan Romeo Montague bisa saling mencintai, meskipun Capulet dan Montague lain bermusuhan

What’s Montague? It is nor hand, nor foot,
Nor arm, nor face, nor any other part
Belongin to a man.

Nama, buat Juliet, hanya tempelan. Nama bukan tangan, kaki, lengan, atau Wajah. “Romeo, doff thy name!” katanya kepada sang pacar agar menanggalkan tempelan itu. Juliet sedang mabuk kepayang. Baginya cintanya tak akan buyar kalaupun Romeo Montague menamakan diri ”Johny Puyol.”

Tapi klise terjadi karena repetisi dan, dalam hal ini, repetisi terjadi karena ternyata orang berkali-kali dibikin repot oleh nama. Romeo and Juliet jadi sebuah tragedi (yang dikenang terus selama hampir 500 tahun) justru karena Juliet salah berteori; ia tak tahu ada banyak hal yang terdapat dalam sebuah nama.

Terutama di Indonesia. Di negeri ini, pemberian nama adalah sebuah kehebohan. Di masa kecil, Bung Karno diganti namanya dari ”Kusno” jadi ”Sukarno”. Ayahnya berharap anak laki-laki itu tak akan sakit-sakitan lagi. Malah dengan nama baru itu ia diharapkan akan seperti Karna, tokoh cerita wayang itu. Menurut penuturan Bung Karno sendiri, ayahnya menganggap Karna seorang patriot; semangatnya mudah-mudahan akan diteruskan si anak.

Keputusan sang ayah menunjukkan bahwa nama bukan sekadar tempelan. Nama punya daya performatif.

Ya, juliet salah.

Bung Karno, seperti Pak Sukemi, ayahnya, juga tak sembarangan memberi nama anaknya. Yang laki-laki: “Guntur”, ”Guruh”, Taufan” — kata-kata yang punya daya sugestif tentang kedahsyatan alam. Yang perempuan: ”Mega” dan ”Sukma”. Kedua kata itu menimbulkan asosiasi kepada apa yang halus dan lembut. Tentu saja selain makna dan daya asosiatif, faktor bunyi penting: ”Guntur” dan ”Guruh” dipilih karena lebih bagus terdengar ketimbang “gledek”. Bung Karno & segenap bangsa Indonesia akan malu seandainya di Istana Merdeka ada seorang anak bernama ”Gledek Sukarnoputra”.

Masukkan alamat Emailmu.

Join 3,725 other followers

%d bloggers like this: