Normantis Update

Bandrol – Sujiwo Tejo

Karya: Sujiwo Tejo

BANDROL
Karya: Sujiwo Tejo

Cinta bukan harga pas, tapi juga tak mengenal kembalian.

Kenapa demikian, karena cinta sudah ada jauh sebelum para kepala daerah berubah pendirian, yaitu menjadi gemar kasih izin pendirian supermarket yang harga-harganya serbapas.

Tak perlu diteliti apa benar kembalian baru dikenal saat mata uang mengakhiri budaya barter. Akal sehat mengatakan bahwa itu sudah hampir pasti. Hampir sepasti si buta huruf bisa sangat mengenal angka-angka dan mata uang; Tak semua mata uang, sih.

Kebohongan, misalnya, yang menurut film-film Hollywood adalah mata uang tertinggi di dunia, terkadang masih susah dikenali. Kaum buta huruf bahkan mereka yang melek huruf sering masih susah menandainya.

Tapi, sebenarnya, sekarang kita hidup dalam kurun mata uang Euro, US dollar, atau mata uang kebohongan?

Heuheuheu…sebelum menjawabnya, mari kita mampir ke beberapa sektor.

Ada yang riil pasti ada yang tidak riil. Sektor riil, lapangan ekonomi yang jelas-jelas menghasilkan barang dan jasa, sangat kita kenal. Lawan kata sektor riil tak pernah pasti-pasti ditetapkan. Kadang sektor moneter. Kadang sektor maya. Dan lain-lain. Atau ekspresi kebohongan memang senantiasa berubah-ubah?

Di dalam sektor kebohongan, yang barang dan jasanya juga cuma bohong-bohongan itu, terkandung antara lain pasar modal.

Suatu hari mantan Wapres jusuf Kalla berkata, cintai pasar modal tapi cintailah juga Pasar Tanah Abang.

Masukkan alamat Emailmu.

Join 3,710 other followers

%d bloggers like this: