Normantis Update

Tulisan Goenawan Mohamad Tentang Chairil Anwar: “Chairil”

Karya: Goenawan Mohamad

CATATAN PINGGIR: CHAIRIL
Karya: Goenawan Mohamad

SEANDAINYA Chairil Anwar hidup hari ini, mungkin lebih baik ia tak menulis sajak. Indonesia di tahun 1986 tak sama dengan Indonesia di awal 40-an.

Tentu, saya sendiri tak tahu persis bagaimana tanah air menjelang 1945. Tapi mungkin kita bisa membayangkannya: suatu masa ketika pikiran besar dan kecil telah ramai bergulat. Harapan-harapan, untuk sebuah negeri yang bebas, mekar. Pemikir dan penyair sibuk; juga asyik. Dan Chairil pun menulis puisi: begitu segar, begitu kurang ajar.

”Aku suka pada mereka yang berani hidup”, tulisnya, setengah kagum, tentang para pemuda yang berjaga malam seperti prajurit, dan bermimpikan kemerdekaan. ”Aku suka pada mereka yang masuk menemu malam”.

Dan jika dalam malam itu ada bahaya, juga dosa, setan, atau sifilis, tak perlu risau. Binal adalah satu pernyataan sekaligus risiko — dalam kemerdekaan. Kita tak akan tunduk. Tak ada sensor, tak ada ketakutan, tak ada sejarah, batas administrasi, doktrin agama, dan segala yang dianggap membatasi.

Bahkan Tuhan, dalam kemahakuasaannya, ia terima sebagai tekanan. Sebuah sajak yang ditulisnya pada 29 Mei 1943, misalnya, Di Mesjid, melukiskan pertemuannya dengan Tuhan dalam kiasan yang sangat berbeda dengan metafora Amir Hamzah dan tahun 30-an. Amir Hamzah bicara tentang kerinduan; Chairil bicara tentang sebuah peperangan. ”Ini ruang”, tulisnya tentang tempat peribadatan itu, ”Gelanggang kami berperang”.

Memang, beberapa tahun kemudian ia menulis sajak Doa yang menggetarkan itu: ”Tuhanku/ Dalam termangu/ Aku masih menyebut namaMu”. Tapi ia juga, pada kumpulan sajak yang sama, bisa mencemooh harapan manusia akan surga yang lazim, “yang kata Masyumi + Muhammadiyah bersungai susu/ dan bertabur bidari seribu”. Sebab, Chairil meragukan surga. Ia memilih hidup yang kini, yang baginya lebih bergairah.

Masukkan alamat Emailmu.

Join 3,725 other followers

%d bloggers like this: