Normantis Update

Satu Truk Pasir – Cerpen Cak Nun

Karya: Emha Ainun Nadjib (Cak Nun)

HDRtist HDR - http://www.ohanaware.com/hdrtist/

CERPEN: SATU TRUK PASIR
Karya: Emha Ainun Nadjib (Cak Nun)

HIDUP ini haruslah penuh gengsi. Sebab pada gengsilah terletak harga diri, apa gerangan yang bisa dihadirkan oleh seseorang di tengah teman-teman, para tetangga dan relasi-relasi? Siapa pun di dunia ini pasti membenarkan hal ini. Kalau tidak, maaf, tak usahlah kenal sama Gondo Laksono dan dalam hidup ini janganlah sekali-kali menyebut namanya.

Gondo, dengan istri dan empat putra putrinya, memang hanya seorang sopir truk. Tapi, gengsi sama sekali tak ditentukan oleh tinggi rendahnya tingkat profesi seseorang. Melainkan tergantung kemampuannya menghadirkan diri, memberi kesan, dan mengolah arti profesinya itu bagi penampilan harga dirinya. Jika tidak demikian, Gondo bukanlah Gondo. Yang penting seseorang itu jangan sampai bodoh dalam meletakkan diri. Semua orang tahu, tidak mungkinlah Gondo Laksono bisa sedemikian terhormat, jika tidak karena kepintaran semacam itu.

Demikian, maka ditetapkanlah keputusan itu, dengan tekad yang bulat dan dada berdegam-degam. Gondo menghasilkan sisa es spritenya, kemudian berkata kepada ibu warung langganannya: ”Tambah jeroan ayam itu tiga, emping lima, dan gudang garam sebungkus. Catat saja di buku bon…”

Ibu Warung itu melengos, tapi kemudian hanya bisa menarik napas panjang. Utang Pak Gondo sudah hampir mencapai 30 ribu dan belum ada tanda-tanda akan melunasi. Order-order angkutan truk akhir-akhir ini memang seret, tapi kewajiban membayar jika orang membeli tak ada hubungannya dengan order truk.

Gondo beranjak tanpa peduli. Keluar warung. Segera dipanggilnya Suhar, kernetnya.

”Ya Pak!” jawab sang kernet. Loncat bangun ia dari kantuknya di bangku panjang samping warung.
”Kita ke Code sekarang.”
”Ada angkutan?”
”Tidakl Kita beli pasir!”
”Pasir?”
”Ya! Kenapa?”

Wah, Pak Gondo nampak kesal dan suram. Suhar tidak cukup bodoh untuk tak menangkap suasana itu. Maka, ia diam dan segera menyiapkan truknya. Seharian mereka terkatung-katung di warung itu. Order amat sepi. Sopir-sopir itu bersedih sepanjang hari, menutupinya dengan senda gurau kosong atau menguap-nguap saja seperti tubuh truknya yang menganga disiram terik. Dari sekitar 15 truk hari ini hanya dua yang dapat rezeki. Jancuk betul juragan-juragan itu!

”Pasir untuk siapa Pak?” tanya Suhar ketika truk mulai digas keras-keras oleh Pak Gondo. Sang sopir ini ternyata makin berang oleh pertanyaan itu.
”Untuk siapa?” ia ganti bertanya dengan nada sesak. ”Ya untuk saya! Memangnya untuk mBahmu!”

Masukkan alamat Emailmu.

Join 3,704 other followers

%d bloggers like this: