Normantis Update

Mbok Jamu – Sujiwo Tejo

Karya: Sujiwo Tejo

MBOK JAMU
Karya: Sujiwo Tejo

Buat yang malam ini punya ide untuk bunuh diri, pesanku: tunda dulu. Siapa tahu esok masih ada mbok jamu yang tersenyum.

Koruptor saja tidak pada bunuh diri kok. Masa’ kita kalah nyali dibanding mereka untuk melanjutkan hidup.

Mari dari sudut positif saja kita memandang. Mungkin mereka, kaum koruptor itu, .tak punya rasa malu sehingga…kok bunuh diri…wong mundur dari jabatan saja tidak walau sudah jelas-jelas patut diduga korup.

Maksud saya dari sudut pandang positif: ketiadaan rasa malu para garong negara tak perlu dicontoh. Tapi dari segi bahwa mereka tetap tak putus asa walau hina dina karena belepotan uang ndak sah, bukankah itu sangat patut diteladani sebagaimana kita patut meneladani Mahatma Gandhi?

Lagi pula, positiflah, garong kerah putih tak sepenuhnya salah kok. Betul dalam sumpah jabatan jelas tercantum, bahwa ndak usah sampai terbukti korupsi, patut diduga korupsi saja sudah merupakan aib. Sudah kuat fondasi untuk bangunan rasa malu.

Tapi redaksional sumpah jabatan toh pasti lebih muda dari usia republik ini. Minimal sebaya. Nah, jauh sebelum Indonesia berdiri nenek moyang kita tak pernah ngaj ari untuk malu korupsi. Kita cuma digembleng untuk tidak malu bertanya. Sejak zaman dulu hukuman hanya sangat jelas bagi yang malu bertanya, yaitu sesat di jalan.

Hukuman bagi yang korupsi? Mau sesat di mana coba? Nggak ada kan?

Ah, lagi pula buat apa tak memanjangkan hidup sampai ajal datang sendiri entah kapan?

Kenapa nggak kita bangkitkan saja gairah untuk tidak minum racun Walau kita belum tahu hormon pemicu gairah tersebut. Lha wong semua orang juga sudah bisa jatuh cinta jauh sebelum mereka tahu bahwa rasa cinta dijalarkan oleh hormon oxytocin.

Haruskah kita menunggu tahu terlebih dulu resep jamu Dayang Sumbi sehingga terus awet muda dan tak patah arang untuk memanjangkan hidup?

Dan, kenapa patah arang? Tak tahan melihat kenyataan bahwa cuma segelintir manusia yang menikmati sebagian besar rezeki Nusantara? Halah, lha Wong otak manusia yang cuma sangat segelintir dari seluruh tubuh ini ternyata juga justru yang paling rakus meraup oksigen dari pernapasan kita.

Anggap saja mereka yang segelintir di Tanah Air ini otak. Kita adalah bagian bibir dan lain-lain yang langsung mengalami ciuman, belaian, dan sejenisnya. Masih ada hepi-hepinyalah walau ujung-ujungnya proses nikmatnya berlangsung di dalam otak.

Jadi, gimana nih, masih mau patah arang?

Patah arang lantaran tak tahan merasa dikepung delapan penjuru angin sejak bangun tidur sampai tidur lagi? Minum air mineral secara umum sahamnya dikuasai Prancis, seperti halnya pusat-pusat perbelanjaan. Minum teh dan pakai sabun mandi dan pasta gigi umumnya sahamnya digenggam Inggris. Minum susu sahamnya dipegang Belanda. Merokok pun sahamnya dikuasai Amerika. Sarapan? Berasnya dari Thailand. Dan masih seabrek yang lainnya seperti telekomunikasi yang dikuasai Qatar, Malaysia, dan Singapura. Semen pun dikuasai Swiss, Meksiko, dan Jerman. Belum lagi pusat-pusat perbelanjaan sampai anak-anak tokonya yang menyeruak masuk sampai ke kampung-kampung.

Putus asa dengan itu semua?

Ya kalau terpaksa harus putus asa…ya…apa boleh buat. Silakan. Tapi nggak usah sampai bunuh dirilah. Toh entah kapan ajal pasti datang juga. Masih akan bertahun-tahun? Ya jangan pakai kalender bumi. Positiflah melihat semesta. Pakai saja almanak Merkurius. Sehari di planet itu konon lebih lama ketimbang setahun di Bumi.

Maka tundalah terjun dari loteng barang sehari dua hari waktu Merkurius, sembari percaya bahwa esok pasti masih akan ada mbok jamu gendongan yang lewat di atas Bumi.

Dan ia tersenyum.

Sujiwo Tejo
Buku: Republik Jancukers
Penerbit: Kompas

Masukkan alamat Emailmu.

Join 3,699 other followers

%d bloggers like this: