Iklan
Normantis Update

Macbeth – Catatan Pinggir Goenawan Mohamad

Karya: Goenawan Mohamad

Suatu kelebihan manusia memang, untuk melepaskan waktu dari siklus alam. Pembagian ”pagi”, ”siang”, ”malam” telah ditransformasikan jadi suatu konsep yang mudah dipakai untuk matematika. Dengan kemampuan itulah kita bisa menyusun asuransi hari tua, mengkalkulasikan bunga deposito buat warisan anak-anak, atau — kadang-kadang — merencanakan sebuah bom kapan bakal meledak.

Mengetahui masa depan memang sesuatu yang dahsyat. Tapi benarkah kita bersungguh-sungguh menginginkan itu?

Macbeth memperoleh informasi tentang apa yang akan terjadi, tapi kita tahu apa yang kemudian menimpa dirinya. Para wanita sihir telah membentangkan peta nasib laki-laki itu: ia akan jadi raja — dan Macbeth pun segera bergerak ke arah sana. Seperti diucapkannya dengan wajah pucat dan hati gentar sebelum ia membunuh Duncan, ia berdiri ”di atas tebing dan beting waktu”, hendak ”meloncatkan hidup ke masa datang”. Dengan kata lain, ia mengambil sikap aktivis. Ia tak cuma menunggu nasib.

Bahkan akhirnya ia berusaha melawan nasib itu, nekat, mati-matian, dan dengan keras. Nujuman lain dari para wanita sihir itu hendak diubahnya. Maka, ia membunuh sahabatnya, Banquo, karena Banquo-lah — dan bukan dirinya — yang diramal akan menurunkan anak-anak yang kelak jadi raja.

Dalam satu hal Macbeth, tokoh dari sebuah cerita sandiwara abad ke-17, tampak seperti orang modern: ia memanfaatkan proyeksi sebagai bahan rencana untuk tindakan perbaikan nasib. Ia tidak lagi memandang nujuman sebagai suatu batas yang tak terelakkan, tapi sebagai kemungkinan dan data untuk perhitungan.

Tapi Shakespeare pada akhirnya membuat Macbeth kalah. Tokoh malang ini, dalam proses, ternyata cuma satu ambisi yang menggelepar-gelepar, meloncat ke sana kemari, tapi tetap dalam tudung takdir yang gelap.

Apakah artinya, kemudian, kebebasan dan kekuasaan manusia untuk menentukan nasib sendiri, ketika nasib tak pernah bisa ditentukan sendiri? Dalam posisi seperti itu, mengetahui masa depan adalah sesuatu yang dahsyat: pengetahuan itu dapat membuat kita telah selesai sebelum memulai, berjalan tanpa antusiasme, mungkin hanya dengan rasa sia-sia. “Esok dan esok dan esok lagi,” gumam Macbeth menjelang akhir kekuasaannya, ”merayap langkah leceh hari demi hari…”

Catatan Pinggir, Tempo, 18 Januari 1986
Goenawan Mohamad

Iklan

BERANI NONTON VIDEO NORMANTIS? KLIK AJA!

KARYA TERBARU

Masukkan alamat Emailmu.

Bergabunglah dengan 4.930 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: