Normantis Update

Macbeth – Catatan Pinggir Goenawan Mohamad

Karya: Goenawan Mohamad

CATATAN PINGGIR: MACBETH
Karya: Goenawan Mohamad

MENGETAHUI masa depan adalah sesuatu yang dahsyat. Kita ingat Macbeth. la panglima perang Skotland yang baru saja memadamkan pemberontakan, dan pulang, bersama Banquo, temannya, melalui rimba. Udara buruk dan badai. Kilat bersabung. Tiba-tiba, tiga wanita sihir yang mengerikan muncul dari tengah kelam, dan meneriakkan sebuah nujum: Macbeth akan jadi yang dipertuan di Cawdor, dan kemudian akan jadi raja di seluruh Skotland.

Sejak itu, cerita Shakespeare ini melontarkan Macbeth sebagai tokoh yang tragis: seorang yang mengetahui apa yang akan terjadi di masa depan — dan terjirat oleh nasib itu sekaligus. Macbeth mula-mula memang menganggap, ramalan di hutan muram itu ”tak berada dalam kemungkinan untuk dipercayai”. Tapi segera terbukti bahwa nasib menyongsongnya seperti dinujum: Raja Duncan membalas jasanya dan mempromosikannya jadi penguasa Wilayah Cawdor. Sejak itu, orang yang berani dan setia ini menjadi culas, dengan hasrat yang ”gelap dan tersimpan dalam”. Ambisi jadi demam di hatinya. Istrinya mengipas-ngipas sebuah api gila yang tersembunyi di sana. Akhirnya, Wanita yang tak sabar itu pun mendorong Macbeth memenuhi ramalan sampai ke puncak: ia bunuh Duncan dengan cara licik. Dan ia jadi raja. .

Tak mudah, memang, menangkis godaan untuk mendengar sebuah cerita tentang apa yang kelak akan terjadi dalam hidup kita. Tak gampang menutup kuping dari tiga wanita sihir yang, betapapun asingnya, ”dapat menilik benih waktu, dan mengatakan mana butir yang akan tumbuh dan mana yang akan layu”. Karena itulah kita pergi ke kelenteng. Atau membaca-baca kembali Megatrends dari John Naisbitt. Atau datang ke dukun pinggir jalan yang membawa burung gelatik dari kartu. Atau mengundang para ekonom, ahli sosiologi, analis-analis politik — dan sebagainya — ke sebuah seminar tentang prospek 1986.

Mengetahui masa depan memang sesuatu yang dahsyat. Mengira-ngiranya saja telah membikin permukaan bumi berubah. Investasi-investasi besar tak akan dilakukan jika para pengusaha tak punya informasi tentang apa hasilnya sebuah usaha 10 tahun yang akan datang. Rel kereta api tak akan dipasang dan ladang-ladang petani tak akan jadi agribisnis. Di pihak lain, revolusi-revolusi, khususnya revolusi sosialis, tak akan meletus seandainya tak ada sejenis keyakinan: Marx meramal bahwa dunia akan membangun kapitalisme sampai akhirnya stelsel itu roboh, dan kaum buruh akan jadi juru selamat. Ramalan itu meleset, tapi jejaknya tak mudah hapus pada ilmu bumi dan sejarah.

Masukkan alamat Emailmu.

Join 3,704 other followers

%d bloggers like this: