Normantis Update

Ding – Catatan Pinggir Goenawan Mohamad

Karya: Goenawan Mohamad

CATATAN PINGGIR: DING
Karya: Goenawan Mohamad

ORANG-orang berseru. Di tembok, kalender dirobek. Tengah malam lewat. Tahun 1986 dipasang. Weker berdering, jam dinding berdetak. Trompet-trompet kertas ditiup dengan mulut menggelembung, trot-trot-trot. Mungkin ada kembang api yang dilontarkan ke angkasa, gemerlapan, gemeretak….

Kegembiraan? Kecemasan? Kecemasan yang ditekan jauh, dan diganti secara paksa-sampai eksplosif-dengan harapan? Kita tidak tahu. Setidaknya tidak tahu. Saya selalu merasa agak asing dalam keributan seperti itu, tapi saya ingat bahwa (seperti yang dikisahkan dalam nyanyian anak-anak yang terkenal di seluruh dunia itu) keloneng dan Waktu selalu bergabung untuk menggugah, mungkin dari lelap, mungkin dari lupa. Bapa Yakub tak boleh tidur.

Di biaranya yang sunyi ia harus menarik lonceng untuk doa malam, dan ding, ding, dong, ding, ding, dong. Tidurkah Tuan? Tidurkah, Tuan? Sonnez lez matines, sonnez lea matines….

Ada seorang pengembara Arab di abad ke-9, Sulaiman al-Tajir namanya. Ia pernah sampai ke Negeri Cina. Ia juga menulis tentang bunyi: ‚ÄĚTiap kota mempunyai empat pintu gerbang, di atas tiap pintu itu ada lima Sangkakala, yang ditiup oleh orang-orang Cina itu pada jam-jam tertentu di siang dan di malam hari. Di tiap kota juga ada 10 genderang, yang mereka pukulserentak, tak hanya menunjukkan kepada umum kesetiaan mereka kepada sang maharaja, tapi juga untuk memberi tahu jam-jam siang dan malam…..

Yang satu lonceng, yang lain trompet serta genderang. Kedua-duanya harus didengar. Tapi betapa berbedanya. Dalam kisah Bapa Yakub, yang dilagukan dengan nada yang seakan menyuruh kita buru-buru, kita bisa merasakan di situ apa makna waktu: sesuatu yang selalu terlepas dan tak akan tertangkap/kembali. Dalam pemandangan Negeri Cina yang disampaikan Sulaiman al-Tajir, kita merasakan Waktu sebagai sesuatu yang lain: tertib, teratur, tak tergoyahkan dan manunggal dengan kekuasaan yang dipertuan.

Dengan kata lain, ding-ding-dong Bapa Yakub lebih dekat kepada suara kecemasan. Trompet dan genderang di kota-kota Tiongkok Kuno itu sebaliknya, lebih menyerupai pernyataan kepastian. Bapa Yakub, seorang rahib penjaga lonceng, senantiasa terancam oleh terlambat. Ia menghadapi kemungkinan-kemungkinan yang tak terduga. Sebaliknya, di pintu-pintu gerbang kota Negeri Langit, hidup dikumandangkan sebagai sesuatu yang predictable: kita selalu bisa memperkirakan apa yang akan tiba berikutnya.

Masukkan alamat Emailmu.

Join 3,724 other followers

%d bloggers like this: